Tahun-Tahun yang Menentukan untuk Muslim Nusantara
1836 Khalifah Abdul Majid I memulai era Tanzhimat atas tekanan Inggris dan Perancis
1856 Khilafah Utsmaniyyah diterima oleh “Keluarga Internasional” di Eropa, dengan syarat meninggalkan politik luar negeri Islam
1842 – 1850 masa strategi Misionaris “gaya baru” yang lebih universal dan humanis, sehingga berhasil menarik minat kaum muslimin untuk memasukan anak – anaknya di sekolah mereka, terutama di Syam ataupun langsung di negeri mereka, terutama Inggris dan Perancis
1849 – 1905 tokoh modernis Muhammad Abduh, murid Jamaluddin al-Afghani
1876 – 1908 masa Khalifah Abdul Hamid II
1865 – 1935 pelanjut modernisme Abduh, Rasyid Ridha melalui al-Manar
1880-an – 1920-an Jaringan Ashabul Jawi, alumni Hijaz II: Syaikh Abdullah at-Tarmasi, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani, Syaikh Muhammad Shalih as-Samarani, Syaikh Mahfuzh at-Tarmasi, Syaikh Ahmad al-Khathib al-Mankabawi dan Syaikh Khalil al-Bankalani
1883 – 1924 Konsulat Utsmaniyyah di Batavia dan Singapura
1901 – 1905 Awal Pergerakan Islam: al-Jami’ah al-Khairiyyah di Jakarta, Sarekat Dagang Islam di Surakarta, kemudian menjadi Sarekat Islam (SI)
1908 – 1909 Jun Turks (Turki Muda), Budi Utomo di Jakarta, Perhimpunan Indonesia di Belanda, Khalifah Muhammad V dan Trio Pasya
1911 – 1919 as-Salafiyyah di Sempur – Purwakarta, Muhammadiyyah di Yogyakarta, I’anah ath-Thalibin wa al-Masakin di Cianjur, al-Irsyad al-Islamiyyah di Jakarta, Jong Java dan Jong Sumatranen Bond di Jakarta, Indische Social Democratische Vereniging (ISDV) di Jakarta, Perserikatan Ulama di Majalengka, Mathlaul Anwar di Banten, Sumatera Tawalib di Bukittinggi
1916 Perjanjian Sykes (Inggris) – Picot (Perancis)
Terkait “Sumpah Pemuda” 28 Oktober 1928, berikut ini tahun – tahun yang mendahuluinya:

1908 – 1909 Jun Turks (Turki Muda), Budi Utomo di Jakarta, Perhimpunan Indonesia di Belanda, Khalifah Muhammad V dan Trio Pasya
1911 – 1919 as-Salafiyyah di Sempur – Purwakarta, Muhammadiyyah di Yogyakarta, I’anah ath-Thalibin wa al-Masakin di Cianjur, al-Irsyad al-Islamiyyah di Jakarta, Jong Java dan Jong Sumatranen Bond di Jakarta, Indische Social Democratische Vereniging (ISDV) di Jakarta, Perserikatan Ulama di Majalengka, Mathlaul Anwar di Banten, Sumatera Tawalib di Bukittinggi
1916 Perjanjian Sykes (Inggris) – Picot (Perancis)
1918 Akhir Perang Dunia I, Khilafah Utsmaniyyah terlibat dan kalah, akhir Sistem Khilafah
1922 – 1923 Jong Islamieten Bond di Jakarta, Persatuan Islam di Bandung
1924 Penghapusan nama Khilafah oleh Kemal Pasya, Kongres al-Islam dan Komite Khilafah di Garut, Bandung dan Surabaya, Muktamar Khilafah di Mesir dan Hijaz; keduanya gagal oleh makar Inggris, Partai Komunis Indonesia (PKI) – Semaun
Era Pascakhilafah

1926 Nahdhatul Ulama di Surabaya
1927 Majelis Tarjih Muhammadiyyah di Pekalongan, Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bandung
1928 Kongres Pemuda II – Sekuler, dilaksanakan oleh Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia (PPPI) dan dihadiri pemuda Islam “kaum modernis”: JIB, SI dan Muhammadiyyah
Yang jelas 3 Ikrar tersebut sudah dianggap pendapat umum mewakili pemuda “Indonesia”, padahal sangat tidak sesuai pemikiran jaringan alumni al-Haramain yang telah mengakar di Nusantara melalui mesjid, madrasah dan pesantren serta sanad dan kitab – kitabnya.
Tidak ada penerus jaringan ini yang hadir di kongres tersebut.
Wakil Muslim nu kompromi jelas gagalna sapertos tokoh pemuda yang hadir di Kongres 1928, yakni pemuda dari JIB, SI dan MD (kaum modernis), yang terulang lagi di BPUPKI, PPKI dan Sidang Konstituante.
Kompromi inilah penyebab kegagalan perjuangan politik parlementer, yang berusaha diperbaiki dengan perjuangan militer yang juga gagal.
Namun, perjuangan pemikiran jaringan Ashab al-Jawi terus berlanjut semisal Kyai Tb. Ahmad Bakri Sempur dan Mama Rd. Abdullah ibn Nuh, bahkan hingga kini dan sebagiannya “menyatu” dengan sanad dakwah ideologis. Alhamdulillah.
Revisi dan Tambahan

1520 – 1566 masa Khalifah Sulaiman al-Qanuni yang menghimpun 3 (tiga) benua: Asia, Eropa (Timur) dan Afrika (Utara) serta 2 (dua) samudera: Atlantik dan Hindia
1525 Raja Perancis meminta bantuan kepada Khalifah Sulaiman dari penahanan Spanyol
1527 Pembebasan Sunda Kalapa oleh Demak, Panji Macan Ali – Cirebon dan hiasan meriam Ki Amuk – Banten yang berkaitan dengan syiar Jihad Utsmaniyyah
1529 Pengepungan Wina – Austria I, berhasil membebaskan sebagian
1579 Pembebasan Pakuan – Pajajaran oleh Banten dibantu militer Utsmaniyyah
1817 – 1886 Mutfi Utsmaniyyah di Hijaz, Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan
1825 – 1830 Perang Jawa Kyai Abdul Hamid Diponegoro bersama Kyai Mojo (penerus sanad Syaikh Daud al-Fathani) dan Panglima Sentot Ali Pasya, yang terpengaruh militer Utsmaniyyah
1849 – 1932 Qadhi Utsmaniyyah di Syam dan Istanbul, Syaikh Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani
1867 – 1958 Ulama Utsmaniyyah di Zaitunah – Tunis dan al-Azhar – Mesir, Sayyid Muhammad al-Khidhir ibn Husain
1883 – 1924 pembukaan Konsulat Utsmaniyyah di Batavia dan Singapura, sesuai putusan Khalifah Abdul Hamid II
1890-an pengiriman kapal dakwah Ertugrul ke Jepang, pencegahan penghinaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melalui drama di Perancis dan Inggris oleh Khalifah Abdul Hamid II
1892 – 1902 upaya Yahudi meminta izin membangun pemukiman di Palestina dan semuanya ditolak Khalifah Abdul Hamid II
1900 – 1916 pembangunan dan pelayanan Jalur Kereta Api Hijaz atas perintah Khalifah Abdul Hamid II
1916 Perjanjian Sykes (Inggris) – Picot (Perancis), yang memecah belah dunia Islam menjadi negara – negara bangsa (nation – state)
1924 Penghapusan nama Khilafah oleh Kamal Pasya – antek Inggris, Kongres al-Islam dan Komite Khilafah di Garut, Bandung dan Surabaya, Muktamar Khilafah di Mesir dan Hijaz; keduanya gagal oleh makar Inggris, Partai Komunis Indonesia (PKI) – Semaun, antek Uni Soviet. []

