Anak sulit berbicara, tentunya menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan bagi para orang tua. Berbagai cara pun akan dilakukan oleh ayah & bunda agar si kecil dapat kembali berbicara dengan baik dan lancar. Umumnya para pakar parenting maupun dokter spesialis anak mendiagnosis anak kesulitan berbicara diakibatkan pengaruh interaksi-komunikasi antara orang tua, lingkungan sekitar, dan anak yang minim, kurangnya asupan gizi yang baik, hingga pengaruh penggunaan gawai atau smartphone terhadap anak yang kurang baik (berlebihan), dan masih banyak macam sebab lainnya.
Namun, ada satu hal lain yang sering luput oleh para orang tua. Padahal, pengaruhnya cukup besar terhadap tumbuh kembang sang anak, termasuk dalam hal kelancaran berbicara. Lantas, apa hal tersebut yang menjadi sebab kesulitan anak dalam berbicara?
Syeikh Dr. Muhammad Al-‘Arifi, seperti dikutip dari Islampos.com, menukil sebuah cerita dari Imam Adz-Dzahabi ketika beliau mengisahkan tentang Imamul Haramain, Abdul Malik bin Abdullah Al-Juwaini RA.
Katanya, “Konon Al-Juwaini jika berkhotbah atau berdebat, kadang mengalami kesulitan bicara atau gagap dan tertegun sejenak. Lidahnya seakan kelu dan kaku, tak mampu melanjutkan ucapannya. Jika hal itu terjadi, ia berkata kepada orang-orang, Demi Allah, aku tahu sebab dari kegagapanku ini.”
“Apa sebabnya?” tanya mereka.
la menjawab, “Dahulu, ayahku adalah seorang saleh dan berilmu. la berprofesi sebagai mu’alim (guru atau syekh). Ayahku sungguh berhati-hati dalam mencari penghasilan halal. la tidak pernah memasukkan sesuatu pun ke dalam rumahnya, kecuali yang diyakini benar kehalalannya. la melarang ibuku untuk menyusukanku kepada wanita lain.
Makanan Halal Memengaruhi Kelancaran Anak Berbicara

Ayah memberi alasan kepada ibu: ‘Aku yakin bahwa makanan, minuman, dan pakaianmu semua halal. Namun, wanita lain aku taktahu, dari mana suaminya menafkahinya. Jadi, hati-hatilah jangan sampai anak ini disusui atau diberi makan orang lain!’ perintah ayah kepada ibuku.
Namun, pada suatu hari, aku ditinggalkan di ruang depan oleh ibuku yang sedang berada di dalam rumah. Aku pun mulai merengek dan menangis. Tiba-tiba masuklah seorang sahaya wanita milik tetangga yang baru saja melahirkan dan sedang menyusui.
la pun menggendongku dan menyusuiku hingga tangisku reda. Ketika itu pula, datanglah ayahku dan langsung merebutku dari buaian hamba sahaya tersebut. la langsung memasukkan jarinya ke dalam tenggorokanku hingga kumuntahkan apa yang ada di dalam perutku.
Ayahku berkata kepadanya, ‘Engkau adalah sahaya wanita milik tetangga kami. Seluruh bagianmu adalah milik mereka, sedangkan kami belum meminta izin kepada mereka mengenai air susu darimu!’
Demi Allah, aku mendengar sendiri cerita ini dari ayahku dan aku yakin bahwa kegagapanku ini ialah karena air susu yang masih tersisa dalam perutku,” kata Al-Juwaini RA. mengakhiri kisahnya.
Konon hal itu juga menimpa Abu Hanifah RA. sehingga ia juga mengalami sulit bicara. []

