Para kekasih Allah tidak pernah membiarkan hatinya ternodai dengan menyimpan kedengkian, kebencian, dan hasad (iri hati) terhadap hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat orang-orang yang menyimpan dendam kesumat terhadap saudara-saudaranya hanya karena perbedaan belaka dalam satu permasalahan. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan kita dari hal yang demikian.
Suatu ketika pada saat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk bersama para sahabat di masjid ada seseorang yang masuk ke masjid setelah wudhu dan membiarkan air menetes dari janggutnya sambil memegang sandal yang ia pakai dengan tangan kirinya. Sebelumnya masuk Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “lihatlah orang yang berada di pintu. Dia adalah salah seorang penghuni surga.” Lantas lelaki itu masuk ke dalam masjid dan salat dua rakaat.

Pada hari kedua Rasulullah mengucapkan hal yang sama terhadap lelaki itu, “lihatlah orang yang berada di pintu. Dia adalah salah seorang penghuni surga.” Lantas lelaki itu masuk ke dalam masjid. Pada hari ketiga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengucapkan hal yang sama. Hal ini membuat Ibnu Umar penasaran dengannya. Lalu Umar berangkat bersama dengan lelaki itu dan menginap di rumahnya.
Setelah beberapa hari Ibnu Umar dalam rumahnya, ya tidak melihat sesuatu yang lebih dalam dari lelaki itu. Lelaki itu tidak banyak puasa dan tidak banyak salat. Ibnu Umar bertanya kepada lelaki itu, “apa yang kamu lakukan, sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: ‘lihatlah orang yang berada di pintu dia adalah salah seorang penghuni surga’ 3 kali setiap kali kamu masuk ke masjid dalam 3 hari.“
Lelaki itu berkata, “kamu sudah melihat bagaimana ibadahku, salatku, puasaku, dan salat malam yang aku lakukan. Akan tetapi kamu masih bertanya tentang hal itu. Demi Allah aku tidak pernah membiarkan malam ku lewat begitu saja sementara pada malam itu masih tersimpan dalam hatiku hasad, dendam, dan perasaan benci terhadap seseorang.” ( HR. Ahmad)
Itulah derajat yang paling tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah berfirman, “dan kami menyiapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.” (QS Al-Hijr: 47)
Jadi yang membedakan para kekasih Allah dengan lainnya adalah bahwasanya mereka tidak pernah membiarkan dendam dan kebencian terhadap orang-orang yang beriman bercokol dalam hatinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “… Janganlah engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman…” (QS. Hasyr : 10)
Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad hasan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tiga perkara yang tidak ada hasad padanya: ketulusan hati seseorang dalam melaksanakan kebajikan, nasihat yang ia berikan kepada pemimpin, dan orang yang senantiasa menjaga kebersamaan dengan sesama muslim karena dakwah mereka berpengaruh terhadap orang-orang yang ada di belakangnya.” (HR. Ahmad)
Inilah yang membedakan mereka dengan lainnya. Para kekasih Allah senantiasa menjaga kehormatan orang-orang yang beriman dalam setiap perkumpulan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“… Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” ( QS Al Hujurat: 12)
Sumber: Al-Qarny, ‘Aidh Abdullah. 2007. Jangan Takut Hadapi Hidup. Jakarta: Cakrawala Publishing.
