Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)
Faidah dari ayat di atas, menurut pandangan beberapa ulama tafsir, adalah tentang manusia yang Allah jadikan menjadi khalifah (pemimpin) di bumi.
Terkait dengan kedudukan manusia sebagai pemimpin, setidaknya ada tiga kedudukan.
1. Pertama, pemimpin bagi dirinya sendiri.
Bagaimana manusia mengelola dirinya dalam melawan hawa nafsu dan kelalaian. Jika berhasil maka manusia akan lebih mulia dari malaikat. Jika tidak, maka akan lebih buruk dengan setan.
2. Kedua, pemimpin bagi sekelompok manusia dalam konteks organisasi, masyarakat, dan negara.
Karena ulama tafsir berpendapat ayat ini adalah dalil kewajiban mengangkat seorang imam dengan makna pemimpin negara yang mengikuti perintah Allah.
3. Ketiga, manusia sebagai penjaga dan pengelola alam.
Manusia menjadi khalifah di bumi diamanahi pengurusan, pengelolaan, dan perawatan bumi, agar tidak rusak, karena manusia dikaruniai Allah dengan akal dan pengetahuan yang tidak dimiliki makhluk Allah yang lainnya.
Manusia memiliki tanggung jawab terhadap alam, maka kita perlu menjaganya, bukan malah menggunakannya tanpa adab.
Bumi dan seisinya adalah makhluk Allah. Ada hak yang harus kita penuhi, yaitu dijaga dan dirawat.
Ada mindset yang menarik dari Ibrahim Abdul Matin yang ia dapat dari pengalamannya sewaktu kecil.
Suatu hari di kota New York ia bersama ayah dan kakaknya sedang jalan-jalan. Kemudian datanglah waktu salat. Ibrahim kemudian bertanya, di mana mereka akan salat. Ayahnya hanya menunjuk ke tanah.
Ibrahim saat itu bingung. Padahal di New York ada masjid meski tidak banyak. Kemudian ayahnya menyebutkan hadits berikut:
Dari Abu Dzar Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda :
وَاَيْنَمَاأَدْرَكَتْكَ الصَّلاَةُ فَصَلِّ، فَهُوَمَسْجِدٌ
Dan di tempat mana saja waktu shalat tiba kepadamu, maka shalatlah, karena tempat itu adalah masjid.
(Muttafaq ‘alaihi)
Ia masih belum paham. Baru paham setelah beranjak dewasa. Logikanya sederhana:
Premis mayor: Bumi adalah masjid.
Premis minor: Masjid itu suci.
Kesimpulan: Bumi itu suci.
Karena kesimpulan itulah mindset kita terhadap bumi harus seperti mindset kita terhadap masjid. Kalau masjid dijaga, dirawat, dan dikelola dengan baik, maka bumi pun mesti demikian.
Pemilahan Sampah
Isu yang selalu menjadi sorotan adalah pengelolaan sampah. Ada negara yang sudah memilah sampah dengan cukup baik tapi masih kesulitan mencari solusi mengurai sampah. Ada pula negara yang bahkan tidak memilah sampahnya sama sekali.
Meski sebenarnya ini masalah cabang dari kapitalisme itu sendiri, tetap saja harus mendapat perhatian khusus. Sebab produksi sampah setiap harinya sangat banyak sekali.
Secara perspektif adab, pemilahan sampah diperlukan sekali, supaya bisa memisahkan mana sampah organik yang bisa diolah bumi, dengan yang tidak bisa. Sampah plastik misalnya, bervariasi durasi penguraiannya, ada yang 50 tahun, 100 tahun, bahkan sampai lebih dari 300 tahun. Jika dibiarkan di tanah, ini zalim kepada tanah dan akan merusaknya.
Sebagian negara maju bisa dijadikan contoh dalam pengelolaan sampah. Ada yang membaginya menjadi 3: organik, anorganik, dan b3. Ada yang menjadi 6: organik, plastik, kaca, metal, kertas, dan sisa elektronik.
Ini sangat fleksibel dan masih bisa dikaji ulang. Yang penrting mindset dasarnya adalah kesadaran untuk memilah sampah supaya tidak zalim terhadap bumi.
Global Warming
Isu global warming baru pertama kali terdengar di zaman kapitalisme sudah berdiri tegak. Isu ini berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi industri. Sebab, setiap produksi pasti menghasilkan limbah–diantaranya limbah udara yang menghasilkan gas rumah kaca.
Sebenarnya global warming bisa diatasi dengan pengembangan teknologi untuk menyaring udara hingga mengurangi gas rumah kaca. Tapi ternyata masih ada industri yang tidak mengembangkan itu.
Kalau diprediksi berdasarkan sudut pandang kapitalisme, pengembangan teknologi seperti itu tidak menguntungkan. Bukan sebatas karena belum ditemukan atau mahal.
Selanjutnya, global warming juga disebabkan karena sejumlah hutan-hutan penyerap karbon dioksida terbesar yang digunduli untuk dijadikan proyek bisnis. Belum lagi pasokan oksigen yang berkurang karena ditebangnya pohon-pohon dan matinya sejumlah paus biru yang membuatnya semakin langka.
Pada akhirnya, sebelum melakukan reboisasi dan pemulihan lingkungan, mindset kita terhadap alam ini juga harus tepat. Semua berawal dari mindset.
Penggunaan Plastik
Penggunaan plastik rasanya tidak bisa dipungkiri lagi, mengingat banyak sekali benda sekitar kita yang menggunakan plastik. Khususnya untuk produksi rumahan. Bumbu-bumbu instan pasti menggunakan plastik. Tas belanjaan plastik juga.
Plastik mungkin dianggap material yang praktis, ringan, fleksibel, dan memakan biaya produksi yang sedikit. Tapi dampaknya bagi lingkungan tidak sepraktis dan sefleksibel penggunaannya.
Bila penggunaan plastik tidak bisa dihindari, setidaknya harus ada teknologi untuk mengelola sampah plastik, baik itu daur ulang atau mengurainya kembali menjadi bahan asalnya.
Banyak kampanye soal pengurangan penggunaan plastik sekali pakai dengan plastik yang bisa dipakai berkali-kali. Pada akhirnya ketika plastik yang kedua ini sudah tidak bisa dipakai lagi, harus ada teknologi dan pengelolaan yang tepat dan ramah lingkungan.
Eksploitasi SDA
Alam memang disediakan untuk manusia, tapi bukan untuk dieksploitasi tanpa rehablitasi. Bukan pula untuk dikeruk sendiri dan dimonopoli segelintir orang. Semua harus bisa memberdayakan alam untuk kehidupan manusia.
Karena alam disediakan untuk manusia, maka wajar jika dimanfaatkan. Permasalahannya ada pada tanggung jawab rehabilitasi alam. Padahal konsepnya sederhana: habis main bereskan, habis pakai kembalikan ke tempat menyimpan pertama kali.
Tapi kebanyakan yang tampak ini tidak diaplikasikan, bahkan diabaikan. Barangkali karena tidak menguntungkan.
Prinsip “Tidak mengambil apapun kecuali foto, dan tidak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki” tidak berlaku di sektor pengelolaan alam.
Energi Alternatif
Sebagaimana namanya, energi alternatif harus menjadi solusi bagi manusia yang sudah ketergantungan dengan bahan bakar minyak dan batubara, bahkan pada produksi listrik sekalipun.
Masalahnya bukan pada tidak adanya teknologi, tapi tidak maunya para kapitalis melihat kemunculan energi alternatif yang mudah, murah, dan terjangkau karena takut pasarnya menyusut.
Berbagai energi alternatif sudah ditemukan, seperti biogas, biosolar, pembangkit listrik tenaga air, dan sebagainya. Semua itu hanya berkembang sebentar, kemudian hilang lagi, tidak terliput oleh media.
Renungan
Kekacauan alam yang ada bukan tanpa sebab. Barangkali kita harus merenungkan ayat berikut:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)
Apakah dengan berbagai isu di bumi ini manusia bisa kembali kepada Allah, beribadah sampai menjalankan sistem aturannya? Wallahu a’lam bishawab. []
Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)

