Pada masa-masa sulit seperti ini, ada baiknya kita merenungi hadits berikut, sehingga rasa syukur dan qana’ah kita atas segala karunia yang Allah berikan, tetap terjaga dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَقِلُّوا الدُّخُولَ عَلَى الْأَغْنِيَاءِ فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعَمَ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ
“Kurangilah kunjungan ke orang-orang kaya karena itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Hakim)
Hadits ini dinilai shahih isnad oleh al-Hakim, dimana para penulis kitab ada yang menempatkannya pada bab qana’ah, yang lazim dimaknai ridha’ atas karunia yang Allah berikan. Hadits ini semakna dengan hadits (artinya): “Lihatlah kepada orang yang ada di bawahmu dan jangan melihat kepada orang yang ada di atasmu, sebab itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim, 5264).
Hadits di atas dimulai dengan ungkapan “Kurangilah kunjungan ke orang-orang kaya” yakni yang kaya dengan harta, “Karena itu” mengurangi kunjungan kepada mereka “Lebih baik” lebih pantas dan layak, “Agar kalian tidak meremehkan” memandang rendah dan mencela, “Nikmat Allah ‘azza wa jalla” yang diberikan kepada kalian, pasalnya manusia secara alami mudah iri hati dan cemburu. Saat manusia melihat karunia yang Allah berikan kepada orang lain, maka lahirlah kecemburuan, iri hati, kebencian dan kufur nikmat.
Hadits terebut menggunakan ungkapan “Kurangilah kunjungan” bukan “janganlah mengunjungi”, sebab kadang anda terdorong suatu kebutuhan yang dibolehkan syara’ untuk mendatangi mereka. Karena itulah, ‘Aun bin Abdullah rahimahullah berkata:
صحبت الأغنياء فلم أر أحدا أكثر هما مني، أرى دابة خيرا من دابتي وثوبا خيرا من ثوبي وصحبت الفقراء فاسترحت
Aku bergaul dengan orang-orang kaya, maka aku lihat tidak ada yang lebih gelisah dari diriku. Aku melihat ternaknya terasa lebih baik dari punyaku dan pakaiannya terasa lebih bagus dari milikku. Lalu aku bersahabat dengan orang-orang msikin, maka tenanglah diriku.
Jadi, hadits riwayat al-Hakim yang kita bahas ini, mengandung anjuran agar mengurangi keinginan terhadap dunia dan merasa cukup dengan harta yang sedikit, sebagaimana prinsip hidup yang dijalankan generasi terdahulu. Kerusakan akibat berlebihan bergaul dengan orang kaya adalah munculnya rasa ingin memiliki dunia, menyerupai mereka dalam menumpuk harta dan teralihkan dari ibadah kepada Rabb Yang Maha Kuasa. (Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, II/337). Wallahu a’lam.
(Ust. Yan S. Prasetiadi)

