Sebagaimana kita ketahui, tujuan diwajibkannya puasa Ramadan oleh Allah subhanahu wata’ala tentu bukan sekadar untuk menahan lapar dan haus semata. Akan tetapi, di balik itu ada nilai ibadah yang mesti dicapai oleh seorang muslim agar menjadi golongan orang-orang yang bertakwa.
Sungguh amat disayangkan dan sangat merugi jika Ramadan kita lalui hanya dengan lapar dan haus, tanpa memperoleh bekal yang banyak berupa amal saleh untuk kelak menghadapi alam akhirat. Apalagi, kalau sampai hilangnnya Ramadan seiring dengan hilangnya pahala puasa dikarenakan hal-hal buruk yang kita kerjakan di bulan suci nan mulai ini. Oleh Karena itu, cukup penting kita ketahui hal-hal yang dapat mengilangkan pahala puasa Ramadan sebagai berikut.
1. Menggunjing orang lain
Menggunjing alias gibah adalah menyebutkan sifat-sifat orang lain dengan sifat yang tidak disukainya meskipun sesuai fakta. Allah melarang gibah dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
2. Mengadu domba
Adu domba merupakan perbuatan memprovokasi atau menghasut seseorang agar antar individu maupun kelompok tidak saling menyukai satu sama lain sehingga menimbulkan permusuhan, bahkan hingga pertumpahan darah. Adu domba termasuk juga kegiatan menyebarluaskan berita yang tidak benar (fitnah) dan tentu saja ini perbuatan yang diharamkan secara keras dalam Islam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al Qalam : 10-11).
Rasulullah Shalallahualaihi wa sallam juga bersabda, “Pelaku adu domba tidak akan masuk surga.” (HR Muslim no. 303).
3. Berkata dusta
Berkata dusta adalah memberi kabar tidak sesuai dengan kenyataan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat melarang keras umatnya untuk berdusta. Sebaliknya, beliau memerintahkan kaum muslim untuk berkata yang baik, di antara bentuk berkata yang baik adalah jujur, yaitu memberitakan sesuatu sesuai dengan hakekatnya.
Dusta termasuk dalam kategori dosa besar sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam adz-Dzahabi dalam kitab beliau, al-Kabâir, dosa besar ke-30: “Sering Berdusta”.
4. Memandang sesuatu yang diharamkan
Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Katakanlah kepada perempuan yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya” (QS. an-Nur : 30-31)
Rasulullah Shalallahualaihi wasallam bersabda, “Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata adalah dengan melihat (yang diharamkan), zina hati adalah dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara, kemaluan membenarkan atau mendustakan itu semua.” (HR Ahmad)
5. Sumpah palsu
Ulama mengategorikan sumpah palsu ke dalam kabâ-ir (dosa besar). Selain haram dengan keharaman yang amat keras, perbuatan tersebut merupakan tindakan yang sangat lancang kepada Allah Azza wa Jalla . (Lihat al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 7/286).
Imam Adz-Dzahabit berkata, “Sumpah palsu (ghamûs: menjerumuskan) adalah sumpah yang dilakukan oleh seseorang yang sengaja berdusta dalam sumpahnya. Disebut ghamûs (menjerumuskan) karena sumpah ini menjerumuskan orang yang bersumpah itu dalam dosa, ada yang mengatakan, menjerumuskannya dalam neraka.”
6. Memandang sesuatu yang diperbolehkan dengan pandangan syahwat
7. Mengucapkan perkataan buruk
8. Melakukan perbuatan buruk

