Oleh: Abdurrahman al-Khaddami
Peradaban Barat berasal dari Benua Eropa terutama Perancis, Inggris dan Jerman. Berbagai isme atau paham yang asalnya “milik Eropa”, sekarang menjadi seakan “milik Dunia”. Kemunculan nya tidak bisa dilepaskan dari agama Nasrani yang menguasai Eropa selama Dark Age (era Kegelapan), kemudian berubah toal ditandai dengan pencerahan (Renaissance/Aufklarung). Lahirlah Sekulerisme, Matrealisme, Liberalisme, Pluralisme hingga 2 (dua) Ideologi: Kapitalisme dan Sosialisme.
Mengapa agama Nasrani “melahirkan” Kapitalisme dan Sosialisme?
Syaikh Yusuf an-Nabhani dalam kitab Sa’adah al-Anam membandingkan antara ajaran Islam dengan ajaran Nasrani sebagai berikut:
Pertama,
Nasrani meyakini tentang Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyalahi akal/pikiran atau bertentangan dengan akal semisal tentang Trinitas dan penyaliban, yasng diterima secara taklid buta, berbeda dengan Islam yang dibangun berdasarkan akal dan proses berpikir yang benar, sehingga tidak meyakini suatu yang mustahil tentang Allah subhanahu wa ta’ala seperti yang diyakini Nasrani. Memang benar, terdapat hal – hal ghaib yang tak dapat dipikirkan atau bukan wilayah akal, namun akal sendiri tidak bisa menilainya mustahil.
Kedua,
Nasrani bersandar pada apa yang dianggap Taurat dan Injil, tanpa didukung sanad mutawatir yang meyakinkan, bahkan terbukti mengalami pergantian dan perubahan. Taurat mereka disusun jauh setelah masa Nabi Musa ‘alaihissalam sekitar 30-an generasi, sedangkan Injil mereka yang Empat: Matius, Markus, Lukas dan Yohanes hanya semisal kitab sejarah yang tak jelas sanad dan rawinya yang menyambungkan ke masa Nabi Isa ‘alaihissalam dan beredar dengan terjemahan yang tak bisa dijamin keasliannya, bahkan bahasa asalnya Yunani, bukan Ibrani ataupun Suryani (yang dianggap bahasa Yesus).
Ketiga,
Shalat atau doa-nya Nasrani tidak jelas aturannya, bahkan tidak disyaratkan Thaharah (bersuci) dari najis dan hadats serta terjadi percampuran antara laki – laki dengan perempuan, sangat berbeda dengan Shalat dengan ajaran Islam yang memiliki aturan/hukum dan adab terbaik.
Keempat,
Shaum-nya Nasrani hanya sekedar “pilih – pilih” makanan, berbeda dengan Shaum dalam Islam yang bisa berfaidah mengendalikan hawa nafsu.
Kelima,
Zakat-nya Nasrani bukan sebuah kewajiban, hanya ada Sedekah yang bersifat pilihan sehingga kaum fakir mereka tidak ada jaminan pasti, berbeda dengan Islam yang mewajibkan Zakat dan menetapkan Sedekah Sunnah.
Keenam,
Tidak ada Haji bagi Nasrani, hanya sekedar ziyarah ke tempat yang dianggap suci dan bukan bagian dari perintah agama mereka, sedangkan Haji dalam Islam jelas aturannya dan menjadi sarana yang menyatukan umat Islam se-Dunia dalam taat dan ibadah.
Ketujuh,
Nasrani tidak punya hukum pergaulan antara laki – laki dan perempuan yang jelas, bahkan tidak mengatur tentang aurat dan campur – baur (ikhtilath) sehingga menjadi ladang subur bagi maksiyat seoerti Zina, berbeda dengan Islam dengan segala aturannya termasuk dalam hal Nikah dan Cerai yang jelas menjadi kebaikan untuk perempuan dan keluarga.
Kedelapan,
Nasrani tidak mengatur hukum Muamalah semisal jual – beli, sedangkan Islam memiliki hukum – hukum Muamalah yang jelas dan menjamin tercapainya mashlahat dunia hingga akhirat.
Kesembilan,
Nasrani tidak mengatur tentang hukum pidana, bahkan cenderung membiarkan dosa – dosa besar seperti Zina, menuduh Zina, minum Khamar, mencuri, membunuh dan merampok tanpa solusi pasti untuk mencegahnya terjadi di masyarakat, berbeda dengan Islam dengan hukum – hukum sepytar Hudud dan Jinayatnya, semisal Qisas dan Rajam sehingga masyarakat dapat aman dan tentram dari kriminalitas.
Demikianlah agama Nasrani di Eropa.
Sang Cucu, Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam menjelaskan bahwa Sekulerisme yang melahirkan Liberalisme dan Kapitalisme, yang kemudian saat ideologi Kaptalisme mengalami krisis membuat Karl Marks dan pengikutnya mengajarkan ideologi Sosialisme pada asal nya adalah akibat dari “konflik berdarah” antara para Raja dan Gereja melawan para filosof dan pemikir di Eropa.
Intinya, para Raja bekerja sama dengan Gereja untuk berlaku zalim terhadap rakyat atas nama agama dan wakil Tuhan. Tentu saja, bangsa Eropa tidak tinggal diam dan akhirnya “memberontak”. Hasil dari perlawanan tersebut kini menjadi berbagi isme atau paham yang kita kenal sebagai ide atau pemikiran Barat, terutama yang saat ini dipimpin oleh AS dan Inggris.
Artinya, agama Nasrani telah “melahirkan” Peradaban Barat yang jelas menjajah negeri – negeri Islam sejak abad 17 M hingga sekarang, secara politik, militer, ekonomi dan budaya. Jika bangsa Eropa dulu dan sekarang mengenal ajaran – ajaran Islam dengan baik, Insya Allah mereka tidak perlu lagi ideologi rusak semisal Kapitalisme ataupun Sosialisme – Komunisme. wallahu a’lam.
Lalu, mengapa ada umat Islam yang justru kagum dan mengikuti ajaran Kafir Penjajah Barat?

