mafatih.or.id
  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog
16 Mei 2021 by Qoryah Quran Mafatih

Memaknai Hakikat Idul Fitri: Taat Ilahi Sepenuh Hati

Memaknai Hakikat Idul Fitri: Taat Ilahi Sepenuh Hati
16 Mei 2021 by Qoryah Quran Mafatih

Ada ungkapan indah dari salah seorang sahabat terdekat Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, yakni Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu dalam memaknai hakikat Idul Fitri. Beliau berkata:

Idul Fitri bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru.

Idul Fitri adalah bagi orang yang aman dari ancaman (neraka).

Idul Fitri bukanlah bagi orang yang memakai pakaian baru.

Idul Fitri adalah bagi orang ketaatannya bertambah.

Idul Fitri bukanlah bagi orang yang bagus pakaian dan kendaraannya.

Idul Fitri adalah bagi orang yang diampuni dosa-dosanya.

Sungguh tepat ungkapan sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu tersebut dalam memaknai hakikat Idul Fitri bahwasanya manusia yang bebas dari ancaman neraka, yang ketaatannya bertambah dan yang diampuni dosa-dosanya hanyalah mereka yang bertakwa. Inilah buah puasa Ramadhan yang sekaligus juga hakikat dari Idul Fitri sebagaimana firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (TQS al-Baqarah [2]: 183)

Kata “taqwa” berasal dari kata “waqâ”. Artinya, melindungi. Maknanya, melindungi diri dari murka dan azab Allah SWT. Wujudnya dengan menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Yang halal dilakukan. Yang haram ditinggalkan. Dalam seluruh aspek kehidupan. Tak ada rasa keberatan sedikit pun terhadap aturan Allah dan keputusan Rasulullah saw., sebagaimana firman-Nya:

“Demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka atas keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (TQS an-Nisa’ [4]: 65)

Imam ath-Thabari, saat menafsirkan QS al-Baqarah ayat 2, mengutip sejumlah pernyataan tentang hakikat orang-orang bertakwa. Al-Hasan, misalnya, menyatakan, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang Allah haramkan atas mereka dan melaksanakan apa saja kewajiban yang Allah titahkan atas mereka.”

Ibn Abbas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang khawatir terhadap azab Allah ‘Azza wa Jala jika meninggalkan petunjuk-Nya yang telah mereka ketahui dan mengharapkan rahmat-Nya dengan membenarkan apa saja yang datang kepada dirinya (berupa al-Quran, red.).”

Ibn Mas’ud menuturkan dari sekelompok Sahabat Nabi saw. bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang Mukmin.

Abu Bakr ‘Ayyas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.”

Qatadah berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang disifati dengan sifat—sebagaimana dalam ayat berikutnya, red.—yaitu: orang yang mengimani perkara gaib, menegakkan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah limpahkan kepada mereka.”

Ibn Abbas juga menyatakan bahwa orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut menyekutukan Allah SWT dan mengamalkan apa saja yang telah Allah SWT wajibkan atas mereka (Lihat: Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân li Ta’wîl al-Qur’ân, I/232-233).

Al-Quran pun banyak mengungkap ciri orang-orang yang bertakwa. Di antaranya sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Baqarah ayat 3-5. Demikian juga dalam al-Hadits. Begitu pun yang dinyatakan oleh para Sahabat dan banyak ulama dari generasi salafush-shalih. Di antaranya adalah yang dinyatakan oleh al-Hasan, “Orang bertakwa memiliki sejumlah tanda yang dapat diketahui, yakni: jujur/benar dalam berbicara; senantiasa menunaikan amanah; selalu memenuhi janji; rendah hati dan tidak sombong; senantiasa memelihara silaturahmi; selalu menyayangi orang-orang lemah/miskin; memelihara diri dari kaum wanita; berakhlak baik; memiliki ilmu yang luas; senantiasa ber-taqarrub kepada Allah.” (Ibn Abi ad-Dunya’, Al-Hilm, I/32).

Terkait ciri orang yang bertakwa pula, Wahab bin Kisan bertutur bahwa Zubair ibn al-Awwam pernah menulis surat yang berisi nasihat untuk dirinya. Di dalam surat itu dinyatakan, “Amma ba’du. Sesungguhnya orang bertakwa itu memiliki sejumlah tanda yang diketahui oleh orang lain maupun dirinya sendiri, yakni: sabar dalam menanggung derita, ridha terhadap qadha’, mensyukuri nikmat dan merendahkan diri (tunduk) di hadapan hukum-hukum al-Quran.” (Ibn al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, I/170; Abu Nu’aim al-Asbahani, Hilyah Awliya’, I/177).

Karena itu sebagai manusia yang insya Allah lulus dari medan Ramadhan, tak layak kita mengabaikan dan mencampakkan al-Quran. Al-Quran rutin dibaca, tetapi tak berbekas pada jiwa. Al-Quran bahkan dilombakan, tetapi tak dipahami dan diamalkan. Peristiwa turunnya al-Quran diperingati, tetapi isinya tak diikuti. Al-Quran disakralkan, tetapi hukum-hukumnya tak dijadikan aturan kehidupan. Fisik al-Quran dijaga dari pemalsuan, tetapi kandungannya tak dijaga dari penyimpangan. Al-Quran diklaim sebagai pedoman, tetapi tak dijadikan sebagai aturan kehidupan. Al-Quran dijadikan sebagai penenang hati dengan lantunan yang mengalun, tetapi tak dijadikan sebagai sumber hukum. Yang menyedihkan, al-Quran mulia dianggap oleh negara sebagai hukum negatif yang harus diabaikan.

Jika demikian, berhati-hatilah! Seperti yang dikatakan oleh Anas bin Malik, yang ditulis oleh Imam al-Ghazali, dalam kitab Al-Mursyid al-Amin, halaman 65:

Banyak orang yang membaca al-Quran, tetapi al-Quran justru melaknat dirinya.

Mengapa? Karena mereka mencampakkan al-Quran. Apalagi para penguasa yang diberi kesempatan untuk menerapkan seluruh isi al-Quran, tetapi mereka tidak menerapkan al-Quran, padahal mereka punya kekuasaan.

Tanpa berpegang teguh pada al-Quran, negara berantakan. Ini karena hawa nafsu dikedepankan. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dikebelakangkan. Jangan heran jika Islam malah dituduh sebagai sumber perpecahan, ancaman persatuan, bahkan dituding menginspirasi radikalisme dan ekstremisme.

Inilah kezaliman nyata di depan mata kita. Yang benar dianggap salah. Yang salah dianggap benar. Yang berkuasa bertindak seenaknya. Yang lemah diinjak-injak seperti sampah tak berguna. Hilang kasih sayang. Yang muncul nafsu kekuasaan.

Padahal Islam ya’lu wala yu’la. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Islam diturunkan oleh Zat Yang Mahamulia, melalui malaikat yang paling mulia, Jibril ‘alaihissalam, kepada manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad saw. Bagaimana mungkin Islam menyebabkan kerusakan, kehancuran dan keterbelakangan?

Justru dengan Islam kaum Muslim akan menjadi umat terbaik, khayru ummah. Islam dengan sistemnya, Khilafah, akan mengangkat derajat manusia dari kezaliman, keterpurukan, keterbelakangan, ketertindasan menuju peradaban agung yang diridhai Allah SWT.

Karena itulah Idul Fitri harus menjadi momentum kita semua untuk berubah. Menjadi manusia baru. Laksana kupu-kupu yang indah memesona, yang baru melewati masa kepompong selama Ramadhan. Taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara totalitas, tanpa batas.

Akhirnya, mari bergandeng tangan. Eratkan ukhuwah dan kesampingkan perbedaan furu’iyyah. Perjuangkan syariah. Tegakkan sistem hidup berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah. Hidup mulia dengan Islam. Ingatlah seruan Allah SWT:

“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul-Nya jika dia menyeru kalian pada sesuatu yang memberikan kehidupan kepada kalian.” (TQS al-Anfal [8]: 24).

Semoga Allah SWT menolong kita, menerima puasa kita, mengabulkan doa-doa kita, juga menempatkan kita semua di jannah-Nya. Amin.[]

Sumber: Mediaumat.news

Previous articleBolehkah Berpuasa Syawal di Luar Bulan Syawal ?Next article Waspada, 4 Dampak Negatif Pendidikan Sekularistik

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About The Blog

Nulla laoreet vestibulum turpis non finibus. Proin interdum a tortor sit amet mollis. Maecenas sollicitudin accumsan enim, ut aliquet risus.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Tag

adab AGEN OF CHANGE ajal alquran anak anak saleh bahaya utang dakwah fidyah hafiz ibadah ibadah puasa ibadah ramadan idul fitri ilmu islam kematian kenakalan anak keutamaan ramadhan komunikasi anak lisan mendidik anak nasihat nasihat lukman pemuda pendidikan pendidikan anak pendidikan islam penghafalAlquran pesantren puasa puasa ramadan puasa syawal Ramadan ramadhan remaja remajaislam rezeki santri saum ramadan sekuler sukses syawal utang ZAKAT

Yuk! Raih Kemuliaan bersama Pesantren Al-Qur’an Mafatih, Melahirkan Khadimul Al-Qur’an ( Para Penghafal Al-Quran, Dai dan Guru Al-Quran) untuk Indonesia.

Tentang Kami

  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog

HUBUNGI KAMI

+62812-8639-653

Alamat kami

Legokhuni, Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41174

About This Sidebar

You can quickly hide this sidebar by removing widgets from the Hidden Sidebar Settings.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org