Penulis: Zakaria_Naxsantri (Santri Ma’had Mafatih Purwakarta)
Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْأِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنَ
“Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia melainkan agar mereka mengabdi kepadaKu.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَآءِكَةَ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْأَرْضَ خَلِيْفَة
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat. ‘Aku hendak menjadikan khalifah dimuka Bumi.” (QS. Al-Baqarah Ayat: 30)
Dari kedua ayat di atas, bisa disimpulkan bahwa tugas manusia di muka bumi ada dua:
- Mengabdi kepada Allah.
- Menjadi seorang Khalifah di muka Bumi.
Mari kita bahas kedua tugas ini lebih lanjut lagi.
Mengabdi kepada Allah
Mari kita lihat pada surat: Adz-Dzariyat ayat: 56 disebutkan bahwa Manusia itu diciptakan untuk mengabdi kepada Allah. Jika kita tafsirkan huruf Al-Lam pada kata “liya’budun” bermakna tujuan dan kesudahan. Dengan demikian makna kata dalam ayat ini adalah beribadah kepada Allah. Namun, mari kita perhatikan kata “ya’budun” yang kita bisa lihat dalam bahasa Arab kata “ya’budun” berasal dari kata “abd” yang secara harfian berarti “hamba”.
Hal ini seharusnya membuat kita menyadari bahwa kita diciptakan Allah Subhanahu wata’ala bukan sebagai penyembah-Nya yang asal-asalan, tapi sebagai hamba sebenar-benarnya. Apakah perbedaan antara seorang penyembah dan seorang hamba? Coba lihat dibawah ini!
# Seorang penyembah memiliki pilihan kapan ia akan menyambah Tuhannya dan kapan ia tidak menyembah Tuhannya, tetapi seorang hamba tak memiliki pilihan sama sekali, ia akan SELALU menjadi seorang HAMBA.
# Seorang penyembah memiliki waktu-waktu tertentu ketika ia dipanggil untuk menghadap/menyembah Tuhannya, tetapi seorang HAMBA dapat dipanggil untuk melayani/bekerja/menyembah KAPAN PUN.
# Seorang penyembah melakukan tindakan Khusus (berdoa, bersedekah, berpuasa, dll). Adapun seorang hamba melakukan tindakan itu semua ditambah apapun yang diminta/disukai dari Tuhannya.
# Penghambaan bersifat permanen. Disisi lain, penyembahan tidak bersifat permanen.
Banyak orang yang tidak menyukai istilah “penghambaan” karena terdengar merendahkan, dan lebih suka menggunakan istilah “pelayanan”. Namun, saya ingin Anda memahami bahwa Allah Subhanahu wata’ala memanggil anda pada penghambaan yang berbeda: Penghambaan yang terikat dengan-Nya dan membebaskan Anda dari penghambaan dunia/kehidupan ini. Sebagaimana seorang guru pernah katakan kepada salah-satu muridnya, yaitu Muhammad Faris (Salah-satu seorang muslim yang termasuk kategori 500 muslim paling berpengaruh di dunia tahun 2014), “Jika kamu tidak ingin menjadi hamba Allah, maka kamu akan menjadi hamba bagi sesuatu atau orang lain.” Itulah sifat manusia. Kita diciptakan menjadi seorang hamba, oleh sebab itu kita dapat menentukan ingin menjadi hamba Allah Tuhan seluruh alam yang dunia ini berada digenggaman-Nya atau menjadi seorang hamba uang, pekerjaan, atau ego yang tidak ada apa-apanya.
Sekarang kita sudah mengetahui apa itu seorang hamba, maka sekarang mari kita mencari tahu apa makna ibadah.
Jika kita telusuri banyak sekali pemaknaan kata ibadah salah satunya: Al-Zamakhsyari, memaknainya sebagai “ketundukan dan perendahan diri paling puncak”. Maksudnya kita sebagai orang yang melaksanakan ibadah tidak punya pilihan lain, kecuali taat kepada Allah.
Nah, apakah tujuan ibadah itu? Karena tidak mungkin Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan untuk beribadah, melainkan dengan tujuan tertentu.
Kalau kita pelajari Alquran, maka akan kita temui dua macam tujuan ibadah:
Tujuan Umum
Tujuan umum adalah tujuan yang meliputi semua ibadah yang ada di dalam ajaran Islam. Paling tidak ada 3 macam tujuan umum bagi semua ibadah tersebut:
Pertama, untuk membuktikan diri kita sebagai hamba Allah. Karena kita diberikan pilihan ingin menjadi hamba Allah atau ingin menjadi hamba selain Allah.
Kedua, untuk membuktikan bahwa kita adalah Manusia. Allah menyatakan, bahwa orang-orang yang ingkar pada Allah bukan manusia dalam pengertian Allah, sebagaimana yang telah difirmankan-Nya:
“Sesungguhnya seburuk-buruknya hewan melata menurut Allah ialah orang-orang kafir, karena mereka tak mau beriman.” (QS. Al-Anfal: 55)
Jadi menurut ayat tersebut orang-orang kafir atau yang tidak beribadah kepada Allah itu bukan manusia dalam pandangan Allah. Dengan demikian ibadah adalah pembuktian kita bahwa kita adalah manusia.
Ketiga, untuk membina ketaqwaan dalam diri manusia. Dalam hal ini Allah Subhanahu wata’ala tegas sekali menyatakan bahwa ibadah adalah sarana untuk membina ketaqwaan dalam diri manusia, sebagaimana yang difirmankan-Nya:
“Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)
Takwa ialah melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya. Dengan demikian ibadah bertujuan untuk membina diri manusia agar siap melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.
Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus ialah tujuan bagi masing-masing ibadah tertentu. Sudah pasti masing-masing ibadah tertentu tersebut mempunyai tujuan masing-masing seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.

