Terhitung sejak tahun 2016, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah yang merupakan implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Gerakan Literasi Sekolah ini dicanangkan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan budaya dan kemampuan literasi siswa yang meliputi baca-tulis, baik tingkat sekolah dasar (SD), menengah (SMP), maupun atas (SMA).
Namun, berdasarkan sebuah survei yang dilakukan pada awal 2017, dari 24 sekolah dasar yang disurvei di sebuah kota, hanya 33% yang rutin melaksanakannya sesuai dengan panduan Gerakan Literasi Sekolah. Bahkan, masih terdapat 33% sekolah yang belum pernah mengimplementasikan program tersebut sesuai dengan panduan dan selebihnya pernah melaksanakannya, tetapi tidak rutin (Krismanto, 2017).
Hasil survei tersebut menunjukkan masih rendahnya kesadaran literasi masyarakat, terutama di lingkungan sekolah, peserta didik, maupun pelajar. Hal ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama, terlebih bagi pemerintah selaku pemangku kebijakan.
Tahmidaten (2020) menuturkan bahwa setidaknya ada lima faktor penyebab masalah/penghalang literasi, yakni (1) kesalahan persepsi tentang konsep kemampuan membaca pada sebagian besar masyarakat termasuk siswa dan guru; (2) pengembangan kemampuan membaca masih dipersepsikan sebagai bagian dari tanggung jawab mata pelajaran bahasa saja; (3) proses pembelajaran sekolah dasar masih belum memanfaatkan model, metode, strategi dan media pembelajaran yang beragam dan sesuai untuk pembelajaran membaca pemahaman; (4) bahan bacaan, kegiatan pembelajaran, dan soal-soal latihan/evaluasi yang ada pada bahan ajar di sekolah cenderung masih berkutat pada keterampilan berpikir tingkat rendah (low order thinking); dan (5) belum maksimalnya sarana prasarana dan pelayanan perpustakaan sekolah sebagai pusat pengembangan kemampuan membaca siswa.
- Faktor penghalang pertama adalah kesalahan persepsi tentang konsep kemampuan membaca pada sebagian besar masyarakat, termasuk siswa dan guru

Sebagian besar dari orang tua dan guru merasa bahwa membaca adalah hanya mengeja. Karena itu, dalam benak mereka kemampuan membaca sudah tuntas pada jenjang SD, bahkan PAUD. Karena itu, pola pikir bahwa membaca itu tidak hanya mengeja perlu diremajakan. Membaca adalah proses menginternalisasi ilmu dan pengetahuan dari bacaan. Membaca adalah investasi masa depan. Persis seperti pada hasil penelitian David Mc Clelland yang menyebutkan bahwa membaca memengaruhi kemajuan, bahkan memicu kemajuan sebuah bangsa.
- Faktor penghalang kedua pengembangan kemampuan membaca masih dipersepsikan sebagai bagian dari tanggung jawab mata pelajaran bahasa saja

Literasi dipahami sebatas membaca huruf. Padahal, literasi juga berperan dalam mengembangkan kemampuan siswa dalam membaca grafik, tabel, dan diagram. Guru mata pelajaran (mapel) IPS mengembangkan kemampuan siswa dalam membaca denah dan peta dan guru mapel IPA mengembangkan kemampuan membaca prosedur, dsb. Karena itu, kolaborasi sesama guru mata pelajaran perlu ditingkatkan, bukan malah saling mengandalkan sehingga tidak bekerja bersama untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa (Aziz, 2021).
- Faktor penghalang ketiga adalah proses pembelajaran sekolah dasar masih belum memanfaatkan model, metode, strategi, dan media pembelajaran yang beragam serta sesuai dengan pembelajaran membaca pemahaman
Selain kerja sama atau kolaborasi sesama guru mata pelajaran, guru pun harus mengorkestrasi model, metode, atau strategi yang beragam. Paling tidak, dengan mengandalkan TIK, dilansir dari kemdikbud go.id (2018), dengan latar belakang sosial ekonomi yang sama, ketika diajar dan didampingi oleh guru yang memanfaatkan TIK, skor perolehan siswa juga akan meningkat sebanyak 40 poin.
- Faktor penghalang keempat adalah bahan bacaan, kegiatan pembelajaran, dan soal-soal latihan/evaluasi yang ada pada bahan ajar di sekolah cenderung masih berkutat pada keterampilan berpikir tingkat rendah (low order thinking)

Juga mengutip hasil penelitian David Mc Clelland terkait dengan perbedaan kemajuan Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 bahwa faktor penentu dan pembeda antara Spanyol dan Inggris terletak pada muatan buku. Buku di Inggris pada awal abad ke-16 itu, mengutip bahasa Agus M. Irkham (Tempo, 2-9-2014), mengandung semacam virus yang menyebabkan pembacanya terjangkiti penyakit “butuh berprestasi”.
Sementara itu, cerita anak dan dongeng yang ada di Spanyol didominasi oleh cerita romantis, lagu-lagu melodramatis, dan tarian yang justru membuat penikmatnya lunak hati, seolah dininabobokan. Karena itu, buku rujukan literasi di sekolah kita harus memuat virus berpikir tingkat tinggi bagi siswa-siswa kita.
- Belum maksimalnya sarana prasarana dan pelayanan perpustakaan sekolah sebagai pusat pengembangan kemampuan membaca siswa

Di sekolah, terutama sekolah pelosok, perpustakaan masih sangat miskin. Padahal, buku bacaan menjadi “virus baik” yang akan disuntikkan kepada siswa. Karena itu, sekolah-sekolah di pinggiran harus dibenahi, terutama sarana dan prasarana untuk menunjang gerakan literasi. Hal itu termuat dalam penelitian Ane Permatasari yang memberikan ide program yang layak dijalankan sebagai upaya membangun budaya baca masayarakat Indonesia (Permatasari, 2015), yaitu salah satunya perlu memperbaiki kualitas dan pemerataan pendidikan agar bisa mendorong tingkat melek huruf yang lebih tinggi. Infrastruktur (fasilitas) dan suprastruktur (sumber daya manusia) perlu dikembangkan hingga menjangkau pelosok tanah air.
Dengan demikian, gerakan literasi di sekolah harus dipahami sebagai investasi masa depan. Karena hasilnya saat ini belum memadai, bukan berarti kita harus berhenti di tengah jalan. Kolaborasi antara pemangku kebijakan harus makin kuat dan teguh. Lebih dari itu, kualitas pendampingan bagi siswa pada saat mengikuti program literasi juga menjadi sangat penting. Pendamping harus meminta siswa agar mampu menginternalisasi nila-nilai yang terdapat dalam bacaan. Paradigma kita pun harus dikoreksi terkait dengan pemaknaan terhadap literasi. Literasi bukan hanya soal mengeja, melainkan juga menyelami ilmu serta merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai nilai-nilai baru yang konstruktif. []
Sumber: https://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/artikel/3547/menumbuhkan-gerakan-literasi-di-sekolah

