Adab kepada Diri Sendiri
Sebenarnya banyak sekali perincian tentang adab kepada diri sendiri.
Misalnya adab makan, dimulai dengan basmalah, makan dengan tangan kanan, makan secukupnya, dan akhiri dengan hamdalah.
Atau minum, dimulai dengan basmalah, tidak boleh sekali teguk—harus dijeda sedikit untuk bernafas—, tidak bernafas di dalam gelas, dan akhiri dengan hamdalah.
Atau berpakaian mulai dengan basmalah dan hamdalah, masukkan tangan dari yang kanan dulu, dan tidak memakai yang terlalu mencolok bagi ‘urf setempat tidak pula terlalu lusuh untuk menjaga wibawa.

Atau keluar rumah dengan basmalah, masuk rumah juga dengan basmalah.
Atau keluar-masuk masjid dengan membaca doa, tidak buru-buru pergi dari masjid dan bersegera ketika berangkat ke masjid.
Atau keluar-masuk kamar mandi, masuk membaca doa, dengan kaki kiri, dan bersegera keluar kamar mandi dengan kaki kanan seraya membaca doa setelah buang air selesai.
Atau membaca al-Qur’an dengan memperindah suaranya, tidak terburu-buru, tartil, sudah bersuci, menghadap kiblat, dan dalam keadaan mulut yang sudah dibersihkan.
Atau berdiam diri di rumah dengan menyibukan diri untuk ibadah, tidak melakukan hal yang sia-sia, dan memperbanyak berdzikir.
Namun, dasar dari semua itu adalah memperbaiki pemahamannya sendiri dengan cara belajar—sebab kalau persepsinya belum terbentuk, adab ini akan dianggap merepotkan—, merasa butuh kepada ilmu dan penerapan adab sebagai perhiasan diri dan jalan menuju Allah. Dari persepsi yang benar, muncullah dorongan untuk konsisten dalam pelaksanaannya.
Adab kepada Orang Lain

Adapun memuliakan orang lain itu tetap harus melihat waktu, tempat, usia, dan perannya di tengah-tengah umat.
Misalnya kepada anak-anak, cara memuliakannya adalah dengan bersikap ramah terhadap anak, seperti mengajaknya bercanda, bermain dan memberikan hadiah bila memungkinkan.
Atau kepada orang tua. Berbicara dengan orang tua harus dengan tutur kata yang baik dan pemilihan kata yang tepat, tidak kasar, dan dipahami—mengingat istilah kita hari ini seringkali banyak yang tercampur bahasa Inggris atau diubah dengan gaya alay.
Terkait waktu misalnya, ketika kita bertamu, harus memperhatikan waktu. Kalau pada waktu tidur dan orang yang ingin ditemui tidak bisa melayani, baiknya kita pulang, dan tidak mengganggunya sama sekali. Juga ketika mengetuk pintu harus menghadap keluar, khawatir ada bagian rumah yang terlihat kalau kita menghadap ke dalam, karena rumah itu aurat.
Atau ketika menelepon, tidak di waktu orang sedang bekerja, kecuali darurat yang menyangkut nyawa, tidak berlama-lama karena khawatir ada yang terzalimi, dan tidak mengganggu orang dengan berbicara seperti orang yang berteriak.
Terkait tempat, ketika di ruang publik, maka tidak boleh berjalan dengan congkak, harus menundukkan pandangan, dan menebarkan salam kepada sesama.
Ketika di ruang khusus, seperti rumah orang yang kita kunjungi, tidak baik bila banyak mencuri pandang ke bagian rumah yang tidak selayaknya, tidak banyak menyentuh barang tanpa keperluan, dan tidak memandang perempuan penghuni rumah.
Adapun adab kepada anak dan istri itu berlaku sepanjang waktu, mengingat mereka bersama kita hampir setiap saat. Juga, karena tempat hidup mereka bersama dengan kita.
Cara memuliakan anak, misalnya, dengan memberikannya pendidikan, pengajaran terbaik, melatih adabnya mengajaknya berinteraksi dan bersenda gurau, meluangkan waktu khusus dengannya, memenuhi kantong hatinya dengan cara memenuhi bahasa kasih yang dia butuhkan, menjadi support system baginya, tidak menjatuhkan harga dirinya sehingga membuatnya trauma, dan tidak memberikan nafkah kecuali dari yang halal.
Memuliakan istri, di antara caranya adalah dengan memberikannya pendidikan pengajaran terbaik, menggaulinya dengan mesra, memberikan hak biologis dan psikologis baginya, meluangkan waktu khusus, berinteraksi dan bersenda gurau, dan tidak memberikan nafkah kecuali dari yang halal.
Adapun adab kepada mereka yang punya peran di masyarakat, seperti ulama dan penguasa, juga harus diperhatikan.
Kepada ulama, kita harus menghormati ilmu dan perannya di masyarakat, tidak mencela pribadinya meski berselisih paham dengan kita, tidak menuduhnya dengan perkara yang tidak ada pada dirinya, tidak menatap matanya secara langsung karena khawatir menyinggung, tidak meminta bantuan kepadanya kecuali dengan tutur kata yang baik, serta memberikan doa, pujian, dan pembelaan kepadanya jika ada yang mencelanya.
Kepada penguasa, jika dia adil, maka didoakan, dibela, dan didukung. Jika dia zalim, maka dinasehati, dikritik, dan didoakan. Wallahu a’lam bishawab. []
Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)

