Dalam diri manusia terdapat banyak fitrah. Puasa adalah salah satu cara untuk mengembalikan fitrah itu. Maka setelah Ramadan, ada hari raya Idul Fitri, yaitu hari kita merayakan kembalinya kita kepada fitrah.
Di antara fitrah yang ada dalam diri manusia—meski tidak disebutkan semuanya—adalah sebagai berikut:
Fitrah Hati
Fitrahnya hati manusia itu tidak iri, dengki, dan dendam pada siapapun. Kita bisa melihat ini dalam diri anak kecil. Mereka akan berbagi jika temannya tidak punya sesuatu, dan akan saling memaafkan setelah berkelahi. Begitulah semestinya yang kita lakukan.
Hati pada dasarnya tentram. Kalau tidak tentram berarti ada masalah pada hatinya. Bisa jadi karena penerimaan fakta dan konsep pikiran yang salah yang membuat hati tidak tentram.
Fitrah Pikiran
Fitrah pikiran tidak akan menerima sesuatu yang salah. Misalnya tidak selalu menisbatkan kebahagiaan pada uang, sebagaimana yang digambarkan kapitalisme. Apa yang membuat tenang dan senang itulah kebahagiaan sebenarnya.
Pikiran juga harus terpuaskan dengan rasio yang dimiliki. Apapun yang tidak sesuai dengan akal manusia, alias tidak masuk akal, akan sulit untuk diterima pikiran manusia.
Fitrah Pergaulan
Fitrahnya pergaulan adalah keterpisahan antara lingkungan lelaki dengan lingkungan perempuan. Keduanya memiliki dunianya masing-masing, berjalan bersama beriringan, tapi tidak bersinggungan. Barangkali ada maknanya mitos bahwa kalau laki-laki bermain dengan perempuan akan bercampur darah. Setidaknya itu memberikan rasa takur untuk tidak bersinggungan satu sama lain.
Fitrah Keimanan
Fitrahnya keimanan adalah Islam. Karena anak tidak mungkin lahir dalam keadaan Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Anak juga tidak terlahir membawa konsep kapitalisme dan sosialisme, karena semua itu muncul di perkembangan kehidupan selanjutnya. Kalau salah jalan, maka akan tersesat. Kalau mendapat petunjuk, maka akan berada pada jalan yang lurus.
Fitrah Manusia
Manusia itu lemah, terbatas, dan memerlukan yang lain. Karena itu manusia memerlukan ‘sosok’ yang tidak terbatas, mahakuat, dan berdiri sendiri. Hampir sisa hidup yang dimiliki manusia bisa mencari hakikat dari Dzat yang secara sifat bertentangan dengan dirinya.
Tapi dengan cahaya Islam, pencarian itu singkat. Karena sesuai fitrah: menenangkan hati dan masuk akal. Islam memang hadir untuk memberikan pengarahan bagi hidup manusia yang terombang-ambing tanpa arah.
Maka mempelajari Islam adalah jalan menuju seluruh fitrah yang sudah disebutkan di atas. Puasa yang kita jalani adalah cara Allah untuk menjaga kita tetap pada fitrahnya, sehingga ketika Ramadan itu berakhir, kita perlu merayakan hari di mana kita kembali ke fitrah setelah begitu banyak hari kita terkotori oleh hal-hal di luar fitrah. []
Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)

