9. Kesembilan, takbir ketika mendengar kabar menyenangkan dan baik. Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَبْشِرُوا، فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا
“Bergembiralah, karena setiap seribu yang dimasukkan neraka, dari kalian cuma satu, sedang sembilan ratus sembilan puluh sembilannya dari Yajuj dan Majuj.”
Beliau lanjut bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ
“Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi di antara seperempat penghuni surga.”
Maka kami bertakbir. Kemudian beliau bersabda lagi:
أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ
“Aku berharap kalian menjadi di antara sepertiga penghuni surga.”
Maka kami bertakbir lagi. Kemudian beliau bersabda lagi:
أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الجَنَّةِ
“Aku berharap kalian menjadi di antara setengah penghuni surga.”
Maka kami bertakbir sekali lagi. (HR. al-Bukhari).

10. Kesepuluh, takbir ketika ada musibah kebakaran. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا رَأَيْتُمُ الْحَرِيقَ فَكَبِّرُوا، فَإِنَّ التَّكْبِيرَ يُطْفِئُهُ
“Jika kalian melihat kebakaran, maka bertakbirlah, karena sesungguhnya takbir dapat memadamkannya.” (HR. ath-Thabarani, al-Baihaqi dan Ibnu as-Sani; Lihat, al-Maqashid al-Hasanah, 63; Zad al-Ma’ad fi Hady Khair al-‘Ibad, IV/ 194).
Sehingga ketika kita sedang berupaya memadamkan api kebakaran, maka dianjurkan seorang muslim sambil mengumandangkan takbir dari hati yang ikhlas dan kekuatan keyakinan kepada Allah.
11. Kesebelas, takbir ketika merendahkan diri dalam shalat istisqa’ yakni shalat minta hujan. Siapa yang mengucapkan takbir, maka artinya berdalil berdasarkan hadits yang diriwatkan ad-Daruquthni (1800) dari Ibnu ‘Abbas, bahwa beliau bertakbir dalam shalat istisqa’ tujuh dan lima kali, sebagaimana shalat id, lalu membaca surat al-A’la dan al-Ghasiyyah. Ibnu ‘Abdil Barr berkata: “Diriwayatkan Ibnu ‘Abbas, beliau melakukan takbir sebagaimana shalat id.” (al-Istidzkar, II/428).
12. Kedua belas, takbir ketika adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, bagi anak yang baru lahir. Dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (Dar al-Fikr, VIII/442) disebutkan:
السنة أن يؤذن في أذن المولود عند ولادته ذكرا كان أو أنثى ويكون الأذان بلفظ أذان الصلاة لحديث أبي رافع الذي ذكره المصنف. قال جماعة من أصحابنا يستحب أن يؤذن في أذنه اليمنى ويقيم الصلاة في أذنه اليسرى
Sunnah mengumandangkan adzan di telinga bayi baru lahir, baik bayi laki-laki maupun perempuan, dengan redaksi adzan shalat sesuai hadits Abu Rafi’ yang disebutkan penulis al-Muhadzdzab. Sekelompok ulama kita menyatakan: disunnahkan mengumandangkan adzan di teling kanan dan iqamat di telinga kiri.
13. Ketiga belas, takbir dalam shalat jenazah, yang berjumlah empat kali takbir sesuai keterangan as-sunnah.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ نَعَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَصْحَابِهِ النَّجَاشِيَّ ثُمَّ تَقَدَّمَ فَصَفُّوا خَلْفَهُ فَكَبَّرَ أَرْبَعًا
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumumkan kematian an-Najasyi kepada para sahabatnya, kemudian beliau maju dan membuat barisan shaf di belakang, beliau lalu takbir empat kali.” (HR. al-Bukhari).
14. Keempat belas, takbir yang diucapkan demi “membuka pintu langit” (yakni ucapan yang sampai ke langit dan diterima Allah). Dari Ibnu ‘Umar berkata: Ketika kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba seseorang mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Mahabesar Allah, dan segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, dan Mahasuci Allah, baik waktu pagi dan petang.”
Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bertanya:
مِنَ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا؟
“Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?”
Seorang Sahabat menjawab: “Saya wahai Rasulullah.” Beliau bersabda:
عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ
“Sungguh aku sangat kagum dengan ucapan tadi, sebab pintu-pintu langit dibuka karena kalimat itu.”
Kata Ibnu ‘Umar, “Maka aku tak pernah lagi meninggalkannya semenjak aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hal itu.” (HR. Muslim).
15. Kelima belas, takbir yang banyak diucapkan diluar keadaan sebelumnya. Sebab bacaan Allahu Akbar, pahalanya bisa memenuhi langit dan bumi. Dalam hadits disebutkan:
التَّسْبِيحُ نِصْفُ الْمِيزَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ يَمْلَؤُهُ وَالتَّكْبِيرُ يَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
“Bacaan tasbih adalah separuh timbangan, alhamdulillah memenuhinya, dan takbir memenuhi antara langit dan bumi,” (HR. Ahmad, dan at-Tirmidzi, menurut beliau hasan).
16. Keenam belas, takbir sebagai dzikir atau wirid amalan shalih, dan sebagai salah satu dari empat kalimat paling disukai Allah. Dalam hadits disebutkan:
أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ
“Ada empat ucapan yang paling di sukai Allah subhanahu wa ta’ala: Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Ilaaha Illallah, dan Allahu Akbar. Tidak berdosa bagimu dengan mana saja kamu memulai.” (HR. Muslim).
Khatimah
Menjadi jelaslah bahwa takbir bukan kalimat yang ringan, sebab takbir adalah kalimat yang menunjukan kebesaran Allah subhanahu wa ta’ala. Pengulangan berkali-kali kalimat takbir pada beberapa kondisi dan keadaan yang sudah dijelaskan sebelumnya, pasti memiliki pengaruh keimanan dalam kehidupan seorang muslim dan akan meninggikan kedudukan dan derajatnya di sisi Allah. Dengan catatan ucapan takbir ini dibarengi dengan kesadaran spiritual yang tinggi, yakni berupa kesadaran bahwa dibalik keberadaan alam semesta dan makhluk di dalamnya, ada Sang Khaliq yang menciptakan semuanya serta menurunkan aturan kehidupan syariah Islam demi keselamatan dunia dan akhirat. Allahu Akbar!
Ustaz Yan S. Prasetiadi
(Pengasuh Majelis Syaraful Ummah, Purwakarta)
Sumber: https://www.trenopini.com/2021/07/keagungan-takbir.html

