قول العبد الله أكبر خير من الدنيا وما فيها
“Ucapan Allahu Akbar seorang hamba lebih baik dari dunia dan seisinya.”
(Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu).
Kalimat takbir “Allahu Akbar” memiliki kedudukan tinggi dalam ajaran Islam, ketika disebut “Allahu Akbar” seorang muslim memahami yang agung hanya Dia, tidak ada yang lebih besar dari-Nya, Allah adalah penguasa yang segala sesuatu tunduk pada-Nya. Takbir merupakan deklarasi keagungan Allah, sekaligus ketundukan hati akan kebesaran-Nya.
Takbir juga merupakan suara perjuangan, yang diserukan para mujahid di jalan Allah saat perjalanan di medan perang. Sehingga mereka merasakan keagungan, kekuatan, kebesaran dan kebersamaan Allah, yang melahirkan kekuatan, keteguhan, keikhlasan dan keperkasaan bagi para mujahid. Kalimat takbir bukan hanya ditakuti syaithan, bahkan sepanjang sejarah peradaban Islam syiar takbir memunculkan berbagai kejadian luar biasa tak terbayangkan.

Secara normatif takbir disyariatkan dalam berbagai momen besar dan agung, serta beragam keadaan lainnya. Ibnu Hajar rahimahullah berkata mengenai hal ini:
ذكرٌ مأثورٌ عند كل أمرٍ مهُول، وعند كل حادِثِ سُرورٍ، شُكرًا لله تعالى، وتبرئةً له من كل ما نَسَبَ إليه أعداؤُه
Takbir adalah dzikir ma’tsur ketika menghadapi berbagai peristiwa getir dan berbagai momen bahagia; sebagai rasa syukur kepada Allah sekaligus pengingkaran dari segala tuduhan musuh Allah terhadap-Nya. (Fath al-Bari, II/438).
Karena itu jika dihitung, syiar takbir hadir di dalam enam belas kondisi dan keadaan seorang muslim, kurang lebih sebagai berikut:
1. Pertama, takbir yang berkaitan ibadah shalat; baik adzan, iqamat hingga akhir shalat, yang jika ditotal sesuai pendapat jumhur ada 447 takbir, sedangkan sesuai pendapat Hanafiyyah ada 457 takbir. (Lihat, ‘Abdus Sami al-Anis, at-Takbir: Mawathinuh wa Atsaruh fi at-Tarbiyyah wa al-Imaniyyah, 3/5/2016).
2. Kedua, takbir karena melihat hilal; Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat hilal, bertakbir:
اللَّهُ أكْبَرُ اللَّهُمَّ أهِلَّهُ عَلَيْنا بالأمْنِ والإِيْمَانِ والسَّلامَةِ والإِسلامِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ رَبُّنا وَتَرْضَى رَبُّنا وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Allahu Akbar! Ya Allah, nampakkan hilal kepada kami dengan aman, iman, keselamatan, Islam dan taufik untuk melakukan apa yang dicintai dan diridhai Rabb kami. Rabb kami dan kamu adalah Allah.” (HR. ad-Darimi, 1729; dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma).
3. Ketiga, takbir di bulan Dzulhijjah, yang dianjurkan diperbanyak pada sepuluh hari di bulan itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنَ الْعَمَلِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ والتحميد
“Tidak ada suatu hari yang lebih agung di sisi Allah dan tiada pula hari yang lebih Dia cintai untuk beramal daripada sepuluh hari ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad, 6154; Hasan menurut Ibnu Hajar rahimahullah).
4. Keempat, takbir yang merupakan ciri khas ibadah haji; baik saat melempar jumrah, saat beranjak dari Mina ke Arafah, ketika thawaf dan kegiatan rangkaikan manasik haji lainnya.
5. Kelima, takbir idul fithri dan idul adha; baik saat malam menjelang pelaksaan shalat id, termasuk pula takbir di dalam pelaksanaan shalat id.
عن عَمرِو بنِ شُعَيبٍ، عن أبيه، عن جَدِّه: أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كبَّر في عيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرةَ تَكبيرةً، سبعًا في الأولَى، وخمسًا في الآخرة، ولم يُصلِّ قَبلَها ولا بَعدَها
Dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya berkata: “Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir sebanyak dua belas kali dalam shalat id, tujuh kali di rakaat pertama, dan lima kali di rakaat terakhir, dan beliau tidak melaksanakan shalat sunnah sebelumnya juga sesudahnya.” (HR. Ahmad, 6688; Isnad Hasan menurut Syaikh al-Arnauth).
6. Keenam, takbir ketika naik tunggangan atau kendaraan dan berangkat bepergian.
كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ…
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di atas kendaraan hendak bepergian, maka terlebih dahulu beliau bertakbir sebanyak tiga kali kemudian berdoa…” (HR. Muslim).
7. Ketujuh, takbir ketika menaiki tempat tinggi; selain disunnahkan takbir saat safar, disunnahkan pula takbir ketika naik atau turun dari tempat tinggi, supaya merasakan kebersamaan Allah, keagungan dan penjagaan-Nya, serta merenungi hamparan bumi yang antar tepian dan ufuknya saling berjauhan. Sabda nabi:
أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالتَّكْبِيرِ عَلَى كُلِّ شَرَفٍ
“Bertakwalah kamu kepada Allah dan bertakbirlah ketika melalui tempat yang tinggi.” (HR. at-Tirmidzi, 3445; Ibnu Majah, 2771; dan Ahmad, 8310; Isnad Hasan menurut Syaikh al-Arnauth).
8. Kedelapan, takbir ketika menyembelih kurban. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu yang berkata:
ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkurban dua ekor domba putih yang bertanduk.” Anas melanjutkan, “Saya melihat beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, dan menginjakkan kaki di pangkal leher domba itu, sambil membaca basmalah dan takbir.” (HR. Muslim).

