Ternukil dalam kitab klasik Nashooihul ‘Ibaad, menceritakan kisah Rasulullah dan para Sahabat tentang 3 Indikator Iman.
Pagi itu, Rasulullah yang baru saja masuk kamar bergegas keluar kembali karena mendengar sayup-sayup para sahabat sedang membicarakan sesuatu.
Dari pojok masjid yang menyatu dengan rumah yang menjadi kamar beliau, Rasulullah menghampiri para sahabat dan duduk bergabung bersama mereka. Beliau bertanya, “Kayfa ashbahtum ya ashhaabii (bagaimana kabar kalian di waktu pagi ini).”
“Ashbahna bil iimaan billah (pagi ini kami dalam keadaan diliputi dengan iman kepada Allah),” jawab salah seorang sahabat mewakili yang lainnya.
Dengan senyum yang mengembang di wajahnya, Rasul mengapresiasi jawaban sahabatnya itu dengan balik bertanya, “Maa ‘alamatu iimaanikum (apa indikasi kalian benar-benar dalam keadaan iman)?”
“Kami benar-benar sabar dengan semua ujian Allah, (nashbiru ‘alal balaa), kami pun senantiasa bersyukur atas semua limpahan karunia Allah (nasykuru ‘alar rakhooi), serta kami sangat ridha atas takdir-Nya (wanardhoo bil qodari),” tegas seorang sahabat.
Rasulullah menjawabnya dengan bijak sebagaimana yang terpancar dalam setiap tindakannya, “Antumul mu’minuuna haqqan (kalian benar-benar dalam keadaan iman yang benar)!”
Dari kisah tersebut bisa kita ketahui apa saja 3 indikator Iman, diantaranya:
- Indikator Iman: Sabar

Bersedia sabar atas semua ujian yang Allah berikan. Setiap manusia beriman baik dari golongan orang yang memiliki banyak harta ataupun berkecukupan, ulama atau ustadz sekalipun, semuanya pasti akan diuji.
Sebagaimana dalam firman Allah, “Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu.” (QS al-Baqarah 2: 214)
2. Indikator Iman: Bersyukur

Amal syukur ini sebenarnya merupakan bagian dari kasih sayang Allah kepada hamba-Nya karena ditegaskan dalam firman-Nya, “Jika kalian bersyukur, niscaya akan Aku tambah (nikmat-Ku) kepadamu.” (QS Ibrahim 7).
3. Indikator Iman: Ridha
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3413879/original/029573100_1616996028-WhatsApp_Image_2021-03-29_at_11.54.39.jpeg)
Rasa ikhlas dan rela atas setiap peristiwa dan kejadian yang terjadi dalam hidup kita, itu menjadi salah satu bukti atas keimanan kita di hadapan-Nya.
Karena, semua kejadian di muka bumi termasuk pada peritiwa yang menimpa diri kita, telah ditetapkan jauh sebelum kehidupan ini ada. Di sinilah kita sebagai seorang mukmin diminta untuk bisa cerdas dalam mengambil hikmah di balik semua takdir-Nya. Wallahua’lam bishowab. []

