Menghadirkan hati saat ibadah merupakan suatu keharusan. Agar ibadah yang dilakukan tidak hanya menjadi penggugur kewajiban, maka menghadirkan hati saat ibadah menjadi hal penting yang patut diperhatikan.
Sudah seharunya, jika ibadah yang sudah sering dilakukan akan sulit lepas dari pelakunya. Namun tidak jarang pula akibat dari terbiasanya melakukan ibadah tertentu malah mengurangi kekhusyukan.
Sebagaimana perlu kita ketahui, jika kebiasaan yang berasal dari kata Al ‘Aadah memiliki makna yang netral, termasuk dalam kebaikan jika manusia membiasakan diri dengan kebaikan, dan menjadi paten prilaku manusia tersebut tanpa ada paksaan, telah disebutkan di dalam hadits:, “Kebaikan adalah kebiasaan, dan keburukan adalah keras kepala”. (HR. Ibnu Majah: 221 dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya: 310)
Maka dari itu perlu bagi seorang Muslim untuk berusaha dalam menghadirkan hati saat ibadah.
1. Menghadirkan Hati Saat Ibadah: Sabar Saat Beramal

Ibnu Qayyim berkata di dalam ‘Iddatus Shabirin, “Sabar saat beramal: jadi seorang hamba hendaknya berkomitmen untuk sabar dari alasan-alasan meremehkan dan mengabaikan, dan berkomitmen untuk sabar mengiringinya dengan mengingat niat, dan hadirnya hati di hadapan Dzat yang disembah, dan tidak melupakan-Nya dengan urusan-Nya.
Maka inilah ibadahnya para hamba yang ikhlas kepada Allah, ia membutuhkan kesabaran untuk menyempurnakan hak ibadah, dengan melaksanakan ibadahnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang diwajibkan, dan sunnah-sunnahnya, dan untuk sabar untuk mengirinya dengan menyebut Dzat yang disembah di dalamnya, dan tidak lalai dari-Nya saat beribadah, maka jangan sampai terhenti kehadirannya di hadapan Allah dengan hatinya untuk melaksanakan ibadah dengan anggota tubuhnya, dan jangan sampai terhenti kehadiran hatinya di hadapan Allah karena gerakan ibadah dengan anggota tubuhnya”.
2. Menghadirkan Hati Saat Ibadah: Tidak Meninggalkan Amal

Amal merupakan perbuatan baik yang dilakukan secara ikhlas dengan hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Sebab jika tujuannya bukanlah ridha Allah, maka itu hanya suatu bentuk perbuatan riya.
Sebab dalam melakukan suatu perbuatan bisa saja menjadi sarana syetan untuk menahan manusia dari amal karena ketidakhadiran hati, maka seorang mukmin hendaknya waspada, dan hedaknya terus beramal.
3. Menghadirkan Hati Saat Ibadah: Berdoa

Doa menjadi senjata bagi seorang Muslim. Maka tidka heran jika di antara yang bisa membantu untuk menghadirkan kebersamaan Allah dan pertolongan-Nya adalah doa.
4. Menghadirkan Hati Saat Ibadah: Menjauhkan diri dari kemaksiatan

Sebagai seorang Muslim, kita hendaknya bersiap siaga dalam menjauhi hal-hal yang bisa melalaikan hati, sebab hal ini mempengaruhi kekhusyukan dalam ibadah.
Dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Tidak (sempuna) shalat di hadapan makanan, dan karena ia terdorong untuk buang air kecil dan besar.” (HR. Abu Daud: 89)
5. Menghadirkan Hati Saat Ibadah: Melakukan Ibadah Sunnah Lainnya

Salah satu cara agar hati mampu hadir dalam ibadah, bisa dengan melakukan ibadah lainnya yang bersifat sunnah. Seperti shalat sunnah dhuha, silaturrahim, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah dan masih banyak. Wallahua’lam bishowab. []

