Dakwah pada zaman ini bisa dilakukan dengan sangat mudah melalui media sosial. Dakwah melalui media pun bisa secara lisan sampai tulisan, namun siapa yang mengira ternyata dakwah dengan perbuatan jauh lebih mudah sampai ke hati banyak orang.
Dalam menyampaikan dakwah kita harus bersabar atas dakwah itu sendiri dan bersabar atas respon orang di sekitarnya yang tentu saja itu tidak mudah. Maka dari itu bagi setiap muslim, hendaknya benar-benar meluruskan niat ketika hendak menjadi aktivis dakwah. Agar hanya ridha Allah yang menjadi tujuan, bukan penilaian manusia.
Sebab jadi sebagian manusia mencela, marah, mengacuhkan, bahkan mengganggu dengan berbagai macam cara. Tak jarang dakwah mengganggu urusan dunia mereka sehingga mereka akan memberikan respon negatif.
Belum lagi, bisa saja mereka sudah terbiasa mendengar dakwah secara lisan, namun nasihat yang mereka terima seringkali hanya berupa gaya bahasa dan retorika belaka tanpa adanya contoh konkret dan perbuatan yang dipraktikkan.

Mari kita perhatikan hadis berikut, Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab. Jika beliau sujud, beliau meletakkannya dan jika beliau berdiri, beliau menggendongnya.” (Muttafaqun ‘alaih. Dalam riwayat Muslim, “Sedang beliau mengimami orang-orang di masjid.”) [HR. Bukhari, no. 516 dan Muslim, no. 543].
Tanpa di sadari, dalam hadis ini memperlihatkan dakwah dengan perbuatan. Adapun faedah yang dapat kita ambil dari hadis di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menunjukkan pada orang Arab bahwa beliau sangat menyayangi anak perempuan dengan menggendong Umamah putri Zainab, cucu beliau.
Dakwah dengan perbuatan cukup dengan praktik saja, tanpa banyak bicara. Sehingga, Dakwah dengan perbuatan itu tak perlu banyak retorika namun bisa menyentuh hati banyak orang daripada banyak bicara.
Maka benar saja, hal terberat bagi seorang guru atau ustadz bukanlah agar ilmu sampai dan dipahami oleh muridnya, tetapi bagaimana menjadi teladan yang baik dalam perbuatan sehingga memotivasi dan menginspirasi dalam semangat ilmu, amal, dan akhlak yang mulia. Demikian juga para orang tua pada anak-anaknya.

Misalnya dakwah dengan perbuatan pada orangtua bisa dengan menunjukan diri sebagai anak teladan dan berbakti, tanpa harus jadi seorang penceramah di hadapan ayah atau bunda. Atau dakwah dengan perbuatan di tengah masyarakat dengan akhlak dan tingkah laku yang baik, Insya-Allah akan lebih mengena dan ajakan lainnya akan mudah diterima.
Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bishawab. []
Sumber: Rumaysho
Referensi: Fiqh Bulugh Al-Maram li Bayaan Al-Ahkaam Asy-Syar’iyyah. Cetakan pertama, Tahun 1443 H. Syaikh Dr. Muhammad Musthafa Az-Zuhaily. Penerbit Maktabah Daar Al-Bayaan.

