Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)
Adab kepada Allah dibagi menjadi dua: waktu khusus dan waktu umum.
Waktu khusus adalah di kala kita ibadah, misalnya bersuci, salat, dan puasa. Seluruh ibadah ini—apapun itu—harus ikhlas, hanya berharap pada rida-Nya. Kedudukan fadilah amal (keutamaan beramal), hanyalah sebagai pendorong untuk menjemput janji-Nya, karena Allah Maha Menepati Janji.
Riya dan syirik juga harus dihindari. Riya adalah melakukan ataupun meninggalkan amalan karena manusia. Syirik adalah melakukan amalan tertentu karena selain Allah. Keduanya adalah penyakit dalam keyakinan.
Waktu umum ialah seluruh kesempatan yang Allah berikan kepada kita. Karena waktu Dia yang memberi, kesemparan Dia yang memberi, maka kita sebagai manusia dan hamba-Nya harus menjadikan seluruh waktu kita untuk Allah.
Setiap aktivitas yang kita lakukan harus disandarkan kepada niat untuk mendekat kepada Allah.
Dalam bekerja ada kebaikan, seperti tidak meminta pada orang, mencari rezeki yang halal, dan menafkahi keluarga. Karena itu ia bisa menggugurkan dosa.
Dalam bergaul kepada sesama manusia ada kebaikan, misalnya menyebarkan senyum dan tawa kepada sesama sebagai bentuk bantuan kita dalam menghilangkan kesusahan teman.
Dalam belajar juga ada kebaikan, seperti menunaikan fardu ain, menghilangkan kebodohan, dan berharap rida Allah.
Dalam mempergauli istri ada kebaikan pula, seperti memenuhi haknya, menjaga dan menyalurkan syahwat pada tempatnya, sumber keceriaan di rumah, dan hiburan halal setelah penat di luar.
Kebaikan-kebaikan itu disampaikan lewat lisan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan menjadi keutamaan amal yang harus kita jemput, karena janji Allah dan Rasul-Nya tetap harus dijemput, meski sudah pasti tepat 100%.
Kaidah Perbuatan
Jalan untuk menjadikan waktu umum kita untuk Allah seluruhnya adalah dengan memahami kaidah perbuatan.
Pertama, harus ada tujuan tertentu. Baik itu karena harta, kemanusiaan, moral, maupun murni bentuk ibadah ritual kepada Allah.
Kedua, caranya sesuai dengan syariat Islam. Kalau bertentangan, berarti pedoman dari Allah dan Rasul-Nya belum menjadi tuntunan buat kita.
Ketiga, berlandaskan keimanan pada Allah, ikhlas, dan berharap pada rida-Nya semata.
Dengan begitu, harapannya, waktu kita yang luas bisa digunakan untuk mengingat Allah.
Dzikir

Dzikir artinya mengingat. Yang kita ketahui soal dzikir adalah menyebut nama Allah, maupun kalimat yang dicontohkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Itu adalah dzikir lisan. Ada dua macam yang lainnya: dzikir hati dan dzikir perbuatan.
Dzikir hati artinya membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati dan diisi dengan amalan-amalan hati yang mulia, seperti tawakal, rida, khauf (takut), raja’ (harap), dan mahabbah (cinta).
Dzikir hati bisa juga bermaksud mengeluarkan bersitan hati yang jelek, persepsi yang salah, dan ideologi kufur dari pikiran kita, kemudian diisi dengan pemikiran-pemikiran khas Islam yang dilandasi akidah yang kokoh.
Termasuk juga menyebut nama Allah dan mengucapkan kalimat yang dicontohkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tanpa suara.
Dzikir perbuatan adalah melakukan berbagai amalan saleh, dan meniatkan setiap perkara mubah sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Misalnya, makan dan minum yang diniatkan untuk menjaga amanah dari Allah disertai dengan caranya yang mengikuti sunnah Nabi. Masuk dan keluar kamar mandi diikuti dengan adabnya, membaca doa ketika masuk dan keluarnya, tidak berlama-lama, dan tidak banyak bicara di dalamnya.
Semuanya adalah cara kita memuliakan dan mencintai Allah. Kita niatkan melakukannya untuk mendekatkan diri pada-Nya. []

