Akibat tidak suka bermusyawarah sangatlah berbahaya untuk dirinya sendiri juga orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu setiap manusia dianjurkan untuk bermusyawarah agar menemukan solusi terbaik dari setiap masalahnya.
Bermusyawarah merupakan prinsip agung dan merupakan sarana untuk menentukan hati, di samping sebagai pintu gerbang menuju kesuksesan. Allah Swt telah memberi pujian kepada kaum mukminin, Allah Swt berfirman,
وَٱلَّذِينَ ٱسْتَجَابُوا۟ لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ
Wallażīnastajābụ lirabbihim wa aqāmuṣ-ṣalāta wa amruhum syụrā bainahum wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn
“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asyura: 38)
BACA JUGA: BERHATI-HATILAH FAUDHIYYAH TERHADAP 4 HAL INI
Al-Qurtubi berkata, “Mereka saling bermusyawarah dalam hal segala urusan, orang-orang ansor -sebelum kedatangan nabi shallallahu alaihi wasallam kepada mereka- jika mereka hendak melakukan suatu urusan mereka, maka mereka memusyawarahkan urusan itu lalu mereka melaksanakannya. Maka dari itu Allah memuji mereka dengan firmannya.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Maksudnya adalah karena mereka patuh kepada putusan bersama di dalam urusan-urusan mereka dan mereka bersepakat dan tidak berselisih maka akan aku persatuan itulah mereka dipuji.”
Dalam Al Hummah al-Aliyah Mu’awwiqatuha wa muwwimatuha karya Muhammad Ibrahim al-Hamid, dikatakan bahwa orang yang berakal, cerdas dan memiliki cita-cita tinggi analisa yang tajam tidak akan bersikap keras kepala untuk mempertahankan pendapatnya di mana sikap itu membuat dirinya tidak mau bermusyawarah. Bahkan sebaliknya ia terus berusaha untuk selalu mengajak musyawarah pada orang-orang yang memiliki pemikiran sehat dan banyak pengalaman dari orang-orang yang mempunyai kredibilitas ilmu, amal dan suka memberi nasihat. Maka dengan bermusyawarah berarti semakin tajam dan semakin matang pemikiran seseorang serta bertambah luas wawasannya dan hubungan di antara mereka semakin erat.
Umar bin khattab berkata, “Pria itu ada tiga macam, pertama pria yang diberikan kepadanya suatu urusan, lalu urusan itu ia luruskan dengan pendapatnya sendiri. Kedua pria yang musyawarahkan perkara yang tidak jelas baginya lalu ia memutuskan urusan itu sesuai dengan anjuran dan saran ahli ilmu dan ketiga ialah pria bingung lagi rusak pemikirannya yaitu orang yang tidak bermusyawarah dan tidak patuh kepada orang yang memberinya nasihat.”
Terkadang manusia lemah dalam berpikir dan dalam mencapai tujuannya, akan tetapi itu akan menjadi mudah baginya ketika ia memadukan pemikirannya dan pemikiran orang lain. Hingga menjadikan jelas baginya jalan yang harus ditempuh dan ia pun mencapai tujuannya dengan mudah dan ringan sebagaimana disebutkan bahwa burung musyawarah itu adalah hakikat petunjuk.
Setiap perkara penting membutuhkan pemikiran sedangkan pemikiran membutuhkan pengalaman. Dan tidak sedikit manusia yang salah paham ketika mereka berpendapat bahwa bermusyawarah adalah bukti kekurangan dan merupakan penghinaan terhadap mereka. Ini merupakan kekeliruan yang besar sebab akibat tidak suka bermusyawarah sangatlah bahaya.
Bahkan Allah Swt telah memberikan kepada kita contoh yang amat jelas dan nyata pada diri manusia yang paling sempurna pemikirannya dan paling suci jiwanya yaitu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Sebagaimana Allah Swt pun telah memerintahkan beliau untuk bermusyawarah,
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Qs Ali Imran: 159)
BACA JUGA: INI 4 ADAB SETELAH MAKAN YANG JARANG DIKETAHUI
Sebab celakalah orang yang tergesa-gesa dalam bertindak tanpa perhitungan dan semangat yang tidak terarah. Hal ini akan mengakibatkan bencana dan keburukan terhadap kebangkitan islam.
Sumber: Buku 31 Sebab Lemahnya Iman, Karya Husain Muhammad Syamir


