4. Fungsikan Akal untuk Memikirkan Alam, Manusia, dan Kehidupan
Usia anak adalah usia yang masih sangat steril atau masih suci akal pikirannya karena belum banyak menerima informasi dan data tentang kehidupan. Daya rekam yang dimiliki masih sangat tajam dan peka. Maka dari itu, jika data dan informasi (maklumat) yang diterima itu salah, akan melahirkan pola pikir dan bertingkah laku yang salah. Sebaliknya, jika data dan informasi itu benar diterimanya, akan benar pola pikir dan tingkah lakunya. Pasalnya, tingkah laku yang dilahirkan anak adalah cerminan dari sebuah pemahaman terhadap segala sesuatu, sedangkan pemahaman sangat tergantung pada pola pikir (fikroh).
Melakukan aktivitas berpikir bagi anak harus membawa dampak pada perilaku yang positif, yaitu tingkah laku yang membawa kepatuhan anak kepada Penciptanya, yakni Allah Ta’ala, kepatuhan dengan orang tua, dan berperangai ramah dengan sesamanya. Salah satu teknik yang paling praktis adalah mengenalkan tentang kedudukan alam, manusia, dan kehidupan sebagai sebuah ciptaan. Setiap ciptaan itu adalah makhluk dan setiap makhluk pasti ada penciptanya. Pada poin maka pahamkanlah kepada anak bahwa Sang Pencipta itu ialah Allah subhanahu wa ta’ala. Karena itu, alam, manusia, dan kehidupan adalah makhluk ciptaan Allah yang harus/wajib patuh kepada Sang Penciptanya.
Kerangka berpikir seperti itu akan memberikan dasar berpikir untuk mewujudkan tingkah laku anak yang ramah terhadap sesamanya, ramah lingkungan, dan tidak radikal dalam melakukan keputusan hidupnya. Setiap prinsip pembentukan tingkah laku yang tidak disandarkan pada pemahaman ke-Tuhannannya yang benar maka hanya akan melahirkan tingkah laku yang bersifat semu. Ia akan berperangai baik kepada sesamanya hanya karena ada motivasi eksternal. Jika tidak ada motivasi itu, tingkah laku yang aslinya akan keluar dengan perangai yang kontra produktif.
“Setiap prinsip pembentukan tingkah laku yang tidak disandarkan pada pemahaman ke-Tuhannannya yang benar maka hanya akan melahirkan tingkah laku yang bersifat semu.”
5. Lanjutkan Pemfungsian Akal pada Anak untuk Memikirkan Penciptaan Alam, Manusia, dan Kehidupan
Tingkah laku terpuji bagi anak adalah tingkah laku yang diciptakan dari sebuah pemahaman yang ada dalam pemahaman yang ada pada akal pikirannya tentang manusia dan alam semesta adalah makhluk dan setiap makhluk ada yang menciptakannya, yaitu Sang Khalik. Pemahaman ini diharapkan akan melahirkan kesadaran dalam mematuhi segala tata aturan Penciptanya, baik dalam bentuk perintah maupun larangan-Nya.
Jangan memberi anak gambaran hidup yang menyeramkan, seperti ungkapan hidup ini penuh lika liku, banyak tenaga pengangguran, hidup penuh dengan persaingan maka jadi anak harus pandai dan banyak keterampilan, untuk pandai dan memiliki keterampilan harus sekolah yang baik, bermutu, dan menjanjikan masa depan. Ungkapan-ungkapan tersebut dan semisalnya adalah sebuah doktrin paham materialisme yang sering menggiring ke pola pikir dan pola tingkah laku radikal. Pasalnya, paham materialisme akan menghalalkan segala cara, yang akhirnya tingkah laku yang baik akan dikorbankan demi tercapainya tujuan hidup.
6. Fungsikan Kembali Akal untuk memikirkan Sesudah kehancuran Alam, Manusia, dan kehidupan
Pada pokok pembahasan sebelumnya telah dikaji masalah shalat berfungsi untuk mencegah agar anak jangan bertingkah laku nakal. Kajian ini dilandasi dari sebuah ungkapan ayat Alquran bahwa shalat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Alhasil, pemahaman tentang shalat kepada anak agar dilanjutkan yang lebih dalam lagi, yaitu bahwa adanya manusia, kehidupan, dan alam semesta ini pasti akan hancur, rusak, dan kembali pada semula, yaitu “ketiadaan”. Hancurnya manusia, alam, dan kehidupan itu dinamakan kiamat. Pada hari kiamat tidak ada yang menyelamatkan dirinya, kecuali amal perbuatan yang pernah dilakukan di dunia. Karena itu, setiap apa yang pernah diperbuat di dunia, baik dalam bentuk ucapan maupun tingkah laku akan mendapat imbalan dari Allah Ta’ala.
“Pada hari kiamat tidak ada yang menyelamatkan dirinya, kecuali amal perbuatan yang pernah dilakukan di dunia.”
Anak sudah harus dipahamakan tentang akan terjadinya hari kiamat, dikenalkan akan ada hari perhitungan amal perbuatan manusia dan dikenalkan akan ada surga maupun neraka. Anak juga dikenalkan siapa yang hendak masuk surga dan siapa yang akan masuk neraka, serta apa yang menjadikan manusia masuk surga dan apa pula yang menyebabkan orang masuk neraka. Semua itu dikenalkan agar anak sejak dini memiliki tingkah laku yang baik.
Wallahu a’lam bishawab. []

