Maraknya kasus kenakalan anak pada usai remaja belakangan ini patut menjadi perhatian bersama semua kalangan, terutama para orang tua. Anak yang merupakan aset berharga bagi sebuah keluarga, masyarakat, maupun bangsa dan negara semestinya tumbuh dalam karya dan prestasi. Namun, realitasnya yang ada justru jauh dari harapan demikian. Remaja kini banyak menuai problematika. Tak sedikit anak remaja dewasa ini sudah mengenal pergaulan bebas, terpapar pornografi, narkoba, tawuran, hingga tindakan kriminal lainnya seperti pencurian maupun pembunuhan.
Sungguh ironis kenyataan dunia remaja saat ini. Hal ini tentu menjadi PR besar bagi kita selaku pendidik, baik guru, orang tua, maupun masyarakat pada umumnya dengan beragam latar belakang profesinya. Pasalnya, anak adalah amanah sekaligus aset harapan masa depan umat. Akan seperti apa kondisi umat dan peradaban zaman pada masa mendatang maka sangat bergantung pada generasi sekarang.
Dalam rangka menjawab ataupun mengatasi berbagai problematika kenakalan pada remaja, diperlukan cara dan langkah yang solutif serta mendasar untuk mengurai faktor-faktor penyebab masalah-masalah tersebut. Dr. Mukhotim El Moekry di dalam bukunya yang berjudul Membina Anak Beraqidah Kokoh (Wahyu Press, 2004) membagikan enam langkah mendidik anak. Melalui enam tahap awal mendidik anak ini, para pendidik maupun orang tua mampu maksimal dalam membentuk kepribadian anak yang bertakwa.
1. Pahamkan Akidah dengan Bahasa Ibu
Tak sedikit dijumpai di kalangan pendidik di sekolah, khususnya, yang tidak pernah memerhatikan anak dari aspek ideologi. Hal itu tampak pada seringnya para pendidik mengabaikan faktor akidah dalam proses belajar mengajar. Begitu pun orang tua di lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah. Alhasil, anak tumbuh tanpa memiliki dasar hidup yang kuat sementara dasar hidup itu adalah ideologi.
Adapun yang dimaksud memahamkan akidah kepada anak dengan bahasa ibu adalah bahwa ibu merupakan sumber kasih sayang bagi anak. Karena itu, pemahaman akidah kepada anak haruslah dengan cara lemah lembut (layyin). Hal demikian itu seperti pengajaran Lukman kepada anaknya di dalam Alquran.
Pahamkan anak agar tidak melakukan perbuatan syirik sekecil apa pun. Dengan kata lain, pahamkanlah anak agar jangan sampai ada dalam benak hatinya memahami tuhan selain Allah. Di sinilah perlu peran ibu sebagai orang pertama bagi dunia anak. Bahasa ibu sangat menentukan terhadap pemahaman akidah bagi usia anak. Bahasa ibu yang dimaksud adalah bahasa perasaan, bahsa naluri, dan bahasa kasih sayang. Itulah bahasa ibu sebagai teknik pendekatan mengenalkan akidah yang benar pada anak. Ibu sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak jika tidak pernah memberikan pemahaman akidah yang benar maka anak akan tumbuh sesuai dengan naluri hawa nafsu yang digerakkannya.
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap manusia dilahirkan oleh ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim)
2. Ajarkan Shalat kepada Anak sebagai Kewajiban
Belajar menegakkan shalat bagi anak merupakan asas dalam rangka menegakan akidah yang sudah dipahamkan oleh kedua orang tua. Pahamkan anak tentang shalat dengan pendekatan bahasa ibu. Jangan melakukan pemahaman shalat kepada anak dengan kalimat:
“Nak, yuk shalat agar disayang Allah,” atau “Yuk shalat nak agar disayang teman-teman.”
Kalimat tersebut secara verbal kelihatannya baik dan benar, tetapi tidak ideologis.
Pahamkan kepada anak tentang shalat bahwa shalat adalah kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim, baik anak-anak maupun dewasa. Pahamkan juga bahwasanya menegakkan shalat adalah melaksanakan perintah Allah di samping dengan menegakkan shalat akan dicegah dirinya dari perbuatan keji dan jahat. Itulah pemahaman ideologis.
Namun, bagaimana jika dalam praktiknya anak sulit untuk diajarkan shalat? Dalam hal ini, Rasulullah telah memberikan solusi pendidikan bagi orang tua ketika anak yang sudah tamyiz (sempurna berpikirnya), yaitu usia 7 tahun, belum mau menegakkan shalat maka harus dipukul. Pendekatan ini haruslah dilakukan oleh ibu. Pasalnya, memukulnya seorang ibu kepada anak ketika mendidik agar shalat adalah memukul kasih sayang sekalipun pemukulan tidak menyakitkan, tetapi akan berpengaruh pada jiwa anak. Anak akan takut tidak disayang ibu jika menolak perintahnya. Alhasil, pemukulan sang ibu kepada anak dalam mendidik shalat adalah sebagai teknik memberikan sikap patuh anak kepada perintah Tuhannya, Allah Ta’ala.
“memukulnya seorang ibu kepada anak ketika mendidik agar shalat adalah memukul kasih sayang sekalipun pemukulan tidak menyakitkan, tetapi akan berpengaruh pada jiwa anak.”

