Satu di antara hal yang dapat menunjukkan kepandaian dan kecerdasan Imam At-Thabari adalah kisah Imam Ath Thabari tentang dirinya sendiri tatkala dia mampu menguasai ilmu Arudh (ilmu tentang syair atau sajak) dalam tempo satu malam. Kisahnya adalah sebagai berikut.
Imam Ath Thabari berkata, “Tatkala aku tiba di Mesir, tidak tersisa seorang ahli ilmu pun kecuali mereka menemuiku untuk menguji kan apa yang telah dikuasainya. Pada suatu hari, datang kepadaku seorang laki-laki bertanya tentang sebagian tertentu dari arudh yang aku sendiri belum mengetahui tentang arudh. Akhirnya, aku katakan kepadanya: ‘Aku tidak bisa bicara karena hari ini aku tidak akan membicarakan masalah arudh sedikitpun. Tetapi datanglah besok dan temui aku.’ Lalu akupun meminjam kitab arudh karya Khalil Ahmad dari temanku. Malam itu aku pelajari kitab arudh tersebut dan pagi harinya aku telah menjadi seorang ahli Arudh.”
Kezuhudan dan Kewara’annya
Al-Farghoni berkata, “Muhammad bin jarir Ath thobari tidak takut celaan dan cercaan manusia biarpun itu terasa menyakitkan. Kerjaan itu muncul dari orang-orang bodoh, hasad, dan yang mengingkarinya. Adapun manusia berilmu dan ahli menjelaskan agama maka mereka tidak akan mengingkari kapasitas dan kredibilitas Muhammad bin jarir.”
Mereka juga mengakui kejuhudannya dari dunia dan qanaah dengan merasa cukup menerima sepetak tanah kecil peninggalan ayahnya di tabaristan. Perdana menteri Al khorqani bertaqlid kepadanya lalu ia mengirimkan uang dalam jumlah yang besar kepadanya. Akan tetapi dia menolak pemberian tersebut. Ketika Ibnu jarir Ath Thobari ditawarkan kedudukan Qadhi (hakim) dengan jabatan wilayah al-Mazhalim, dia pun menolaknya.
Akibat dari penolakan Ibnu Jarir tersebut, teman-temannya mencelanya. Mereka berkata, “Ketika kamu terima jabatan ini, kamu akan mendapatkan gaji tinggi dan akan dapat menghidupkan pengajian sunnah yang kamu laksanakan.”
Pada dasarnya mereka ingin sekali memperoleh jabatan tersebut. Namun dengan perkataan mereka itu, akhirnya Ibnu jarir membentak mereka seraya berkata, “Sungguh aku mengira kalian akan mencegahku ketika aku senang jabatan tersebut.”
Karya-Karyanya
Beberapa di antara karya-karya imam ath-thabari adalah Jami al-bayan fi Ta’wil Alquran yang lebih dikenal dengan sebutan Tafsir at Thabari; Tarik Umam wa Al muluk yang lebih dikenal dengan tarikh ath-thabari; Dzail Al Mudzil; ikhtilaf ulama Al amshar fi ahkam Syara’i Al Islam yang lebih dikenal dengan ikhtilaf Al fuqaha; Lathif Al qaul fi ahkam Syara’i Al Islam, yaitu fiqih Al Jariri.; Adab Al Qudhah; Al musnad Al mujarrad; Al qiroat wa Tanzil Al Quran; mukhtashar manasik Al hajj; Al mujiz fi Al Ushul: Musnad Ibnu Abbas, dan masih banyak lainnya.
Meninggalnya Sang Imam
Berkenaan dengan wafatnya Imam Ath-Thabari, Ahmad bin Kamil berkata, “Ibnu jarir ath-thabari meninggal pada waktu sore, 2 hari sisa bulan Syawal tahun 310 Hijriyah. Beliau dimakamkan di rumahnya di mihrab Yakub, Baghdad.”
Wallahu alam bishawab.[]
Sumber referensi: Musyarof, Ibtihadj. Biografi Tokoh Islam. Jakarta: Tugu Publisher. 2010.

