Hakikat dari kebahagiaan adalah mendapatkan rida dari Allah. Dengan keridaan Allah itu, muncullah ketenangan dan kedamaian dalam hati, meski dalam kondisi sulit sekalipun. Dengan itu pula, tumbuh kesenangan dalam diri kita yang tampak dalam wujud kenyamanan, sehingga kita tidak mencari ketenangan ke tempat maksiat, atau dengan melakukan suatu kemaksiatan.
Manusia hari ini tertipu dengan konsep kebahagiaan yang disematkan kepada kepemilikan materi. Orang mendefinisikan bahagia dengan mampu membeli sesuatu yang diinginkan, meski hanya mampu, beli tanpa pernah peduli gunanya untuk apa.
Dengan fakta ini kita paham, bahwa kita erat sekali memandang dunia ini dengan sebelah mata. Kita hanya memandang dunia ini dari unsur fisik, dan melepaskannya dari unsur metafisik.
Lebih parahnya lagi, dunia hari ini mungkin memandang agama adalah cara orang untuk meninggalkan rasionalitas dan kemajuan. Padahal, masalah rasionalitas dan kemajuan ini harus diperhatikan ulang.
Rasionalitas terkait dengan cara berpikir dan pengolahan informasi, sedangkan realitasnya hari ini, generasi muda tidak cukup rasional dalam menyikapi masalahnya sendiri, lebih cenderung menguatkan dirinya dengan perasaan dan intuitif. Padahal menyikapi masalah secara rasional justru lebih mudah.
Misalnya, menyikapi pertanyaan basa-basi saat lebaran, seperti kapan nikah, kapan punya anak, kerja di mana, sudah punya apa, dan masih banyak lagi.
Kalau disikapi dengan pikiran yang jernih, kita akan mengetahui bahwa itu hanyalah basa-basi tidak berguna yang tidak perlu dianggap serius. Lagipula, meninggalkan jawaban atas pertanyaan konyol adalah jawaban sejati.
Seandainya pertanyaan-pertanyaan itu masuk ke area dialog yang lebih serius, sikapilah dengan serius. Kenapa harus segera menikah, kalau ternyata calonnya belum ada? Kenapa pertanyaan seperti itu yang harus dilontarkan? Apa pentingnya buat kemajuan hidup penanya?
Memang tampaknya sulit, karena ada jarak usia antara penanya dan penjawab. Tapi yang terpenting, pegang teguh prinsip sendiri dengan rasional, tidak perlu diambil hati.
Quarter Life Crisis

Istilah yang sedang gandrung di kalangan anak muda masa kini adalah Quarter Life Crisis, yang mengacu pada situasi di usia 25 tahun yang tidak berhasil menemukan makna hidup.
Ini bukan salah anak muda saat ini seutuhnya, karena pola kehidupan kita hari ini menuntut banyak hard skill untuk bertahan hidup tanpa bayangan metafisik soal konsep rezeki. Sedangkan masalah soft skill seperti mengelola diri, berpikir kritis untuk mencari hakikat dan makna hidup, itu tidak dilatih sejak dini.
Anak SMA yang membicarakan masalah kapitalisme yang merusak lingkungan hidup akan dianggap aneh, karena tidak menggambarkan cita-citanya 5 sampai 10 tahun ke depan sama sekali
Atau anak SMA yang mencoba memahami bahwa cinta yang terlihat masa kini adalah rekayasa yang dibuat industri hiburan sehingga kita banyak berangan-angan bahwa kehidupan cinta kita mulus seperti film. Sekalipun patah hati, dikecewakan, dan diselingkuhi adalah fakta dan masalah yang serius, tapi karena eksploitasi yang begitu apik, maka suasana kepedihan itu bisa jadi merasuk ke dalam karakter manusia, sehingga ketika hidup jauh dari pembahasan seperti itu seolah tidak merasakan kenikmatan hidup. Hari-hari dilalui dengan lemah seolah butuh penguatan dengan kutipan-kutipan yang diambil dari buku, tokoh publik, atau membuat afirmasi sendiri. Itulah sebabnya pemuda hari ini banyak memposting ulang kutipan-kutipan yang didapat dari media sosial, karena kesesuaiannya dengan kondisi diri.
Sementara saat usia memasuki 25 tahun, manusia baru mulai berpikir tentang konsep merelakan, hidup dengan kemajuan, dan kebijaksanaan.
Di dunia Islam, ini kasus baru. Sebab di usia seperempat abad, manusia terbaik di masanya sudah memberikan kontribusi yang besar buat dunia dan agama. Imam asy-Syafi’i sudah dibolehkan berfatwa sejak usia 13 tahun. Padahal 13 tahun belum bisa dikatakan dewasa secara fisik. Tapi secara pemikiran beliau sudah melampaui usianya.
Sultan Muhammad al-Fatih di usia 22 tahun sudah memimpin pasukan perang untuk membebaskan Konstantinopel. Orang-orang yang dia pimpin jelas-jelas tidak hanya anak seusianya saja, tapi banyak juga dari kalangan tua.
Imam al-Bukhari menyusun Shahih Bukhari di usia 18 tahun. Pada proses penyusunannya rihlah ke berbagai negeri ribuan kilometer dari kampung halaman menjadi sebuah keharusan. Jasa beliau sampai hari ini bisa dinikmati oleh setiap penuntut ilmu syariah.
Kenapa Contohnya dari Kalangan Islam?

Pertanyaan yang sangat menarik mungkin akan muncul, kenapa untuk mematahkan argumentasi Quarter Life Crisis harus datang dari kisah hidup orang-orang Muslim?
Jawabannya sederhana, karena sejak kecil umat Islam sudah diajarkan untuk memikirkan masa depan yang lebih jauh daripada kemapanan karier di usia 40 tahun dan dana pensiun yang melimpah. Umat Islam dilatih untuk bekerja keras dalam mempersiapkan hari di kehidupan kedua yang abadi. Kalau mau jadi orang yang beruntung, maka harus mendekat kepada Allah dengan berbagai jalur ibadah, mulai dari menuntut ilmu, berjihad, sampai menjadi filantropi.
Sebagaimana konsep investasi yang tidak bisa dinikmati hari ini, kehidupan akhirat juga begitu. Kalau hari ini kita harus konsisten dan bertahan untuk menyisihkan harta untuk investasi, maka hidup kita juga harus disisihkan untuk investasi kehidupan kedua yang abadi. Kalau kemapanan profesi dan dana pensiun adalah untuk kenikmatan dan kenyamanan, maka kunci surga yang diberikan kepada kita karena Allah rida dan kita rida pada Allah juga semata-mata untuk kenikmatan dan kenyamanan yang abadi.
Nama-nama yang disebutkan di atas punya potensi besar untuk mendapatkan kenikmatan itu. Hasil duniawinya kita rasakan: namanya disebutkan di tulisan ini, di setiap ceramah, dan majelis-majelis ilmu untuk dijadikan contoh bahwa Quarter Life Crisis adalah masalah dunia Barat, bukan masalah umat Islam dan negeri-negeri mayoritas Muslim. Semoga Allah merahmati mereka dan memasukkan mereka ke dalam surga-Nya. Semoga kita dimasukkan pula oleh Allah ke dalam surga, sehingga kita bisa melihat mereka di sana dan berhasil membuktikan gagasan ini di hari itu. []
Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)

