Setiap hal yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW pasti bukan sekedar perintah kosong tanpa makna. Pun sebagaimana adab saat menjumpai makanan panas, tentunya terdapat hikmah di balik larangan meniup makanan panas yang belum kita ketahui.
Berikut terdapat tiga hikmah di balik larangan meniup makanan panas serta penjelasan singkatnya:
Hikmah di Balik Larangan Meniup Makanan Panas: Pandangan Dunia Medis

Meniup makanan panas dapat menimbulkan beberapa penyakit. Penjelasannya yakni ketika kita meniup makanan, tentu udar yang keluar dari mulut ialah karbondioksida sehingga Bersatu dengan uap dari makanan panas dan menghasilkan asam karbonat yang mempengaruhi tingkat keasaman dalam darah. Hal ini menyebabkan darah kita akan menjadi lebih asam, dikenal dengan istilah asidosis.
Maka seiring menurunnya Ph darah, pernapasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida.
Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengompensasi skeadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih. Maka sejalan dengan memburuknya asidosis, penderita akan mulai mengalami kebingungan, lebih jauh lagi jika semakin memburuh, tekanan darah akan turun, menyebabkan syok, koma bahkan sampai pada kematian.
Hikmah di Balik Larangan Meniup Makanan Panas: Berdasarkan Etika Sosial

Di beberapa daerah, meniup makanan panas tidak dianjurkan karena dianggap tidak sopan. Sehingga apabila dihidangkan makanan atau minuman masih panas, tunggulah sebentar sampai berkurang temperaturnya dan mulut dapat menerima masuk.
Hikmah di Balik Larangan Meniup Makanan Panas: Melatih Bersabar

“Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW telah melarang bernafas di dalam bejana atau melarang untuk meniup padanya. “(HR At-Tirmidzi).
Hadits terkait larangan meniup makanan atau minuman dalam kondisi panas pun mengandung filosofi lain. Yakni dengan menunggu makanan menjadi dingin tentunya memerlukan waktu dan dengan itulah seorang muslim diminta bersabar untuk hal yang terlihat kecil namun berdampak besar bagi Kesehatan dan etika sosial.
Wallahu a’lam. []

