Cita-cita seorang muslim seharusnya bukan lagi meliputi dunia saja, namun hal yang cakupannya lebih luas dan kebaikan yang kekal abadi.
Bukan suatu hal yang berlebih-lebihan jika dikatakan bahwa sebagian besar di antara orang-orang yang konsisten bercita-cita rendah merupakan sikap kecil hati untuk meraih yang lebih mulia dan sikap puas serta rela dalam perkara-perkara kecil.
Sehingga tidak mempunyai cita-cita untuk merealisasikan tujuan-tujuan mulia. Padahal nilai seorang manusia adalah sebesar kemampuan dan cita-citanya. Maka sudah waktunya semua menyadari bagaimana cita-cita seorang muslim seharusnya.
BACA JUGA : ANJURAN BERMUSYAWARAH BAGI SETIAP MUSLIM
Ibnu qayyim berkata, “Maksudnya adalah bahwa sesungguhnya kemauan seseorang apabila bergantung kepada Allah yang didasari harapan tulus kepadanya semata maka itulah yang dimaksud kemauan tinggi yang tidak dapat ia tunda. Tidak sabar untuk tidak meraihnya karena jiwanya telah dikuasai oleh harapan tersebut dan karena telah menjadikan perbuatan tekadnya untuk meraih cita-cita. Maka ia tidak menoleh kepada selain apa yang ia cita-citakan. Orang yang memiliki kemauan keras seperti ini sudah mencapai dan meraih apa yang ia cita-citakan.”
Sungguh umat ini membutuhkan orang-orang yang mempunyai cita-cita dan kemauan tinggi mengarungi awan di langit untuk mengembalikan kejayaan dan untuk memberi catatan emas dalam sejarah bagi umat islam yang hampir saja terlupakan. Sebab adanya berbagai macam rintangan dan aral yang telah memalingkan hati sebagian besar kaum muslimin.
Sebagai akibatnya adalah mereka menukar sesuatu yang berharga yang mereka miliki dengan sesuatu yang murah. Mereka lebih mengutamakan nikmat sesaat daripada nikmat yang abadi hingga sebagian diantara umat yang mengaku telah mengikrarkan kalimat lailahaillallah hidup hanya untuk memenuhi keinginan sendiri dan meraih cita-cita duniawinya saja.

Jika lemah kemauan dan rendahnya cita-cita seorang muslim itu telah melanda sebagian besar kaum muslimin, maka seharusnya dan selayaknya tidak melanda orang-orang soleh yang konsisten berpegang teguh kepada agama mereka.
Akan tetapi fakta telah menjadikan saksi bahwa lemah kemauan rendahnya cita-cita seorang muslim telah merambat kepada orang-orang multazimin. Orang mukmin sejati selalu mencintai nilai lebih karena kemauan dan cita-citanya tinggi dan karena yang dicintainya yaitu allah sedang tempat cita-cita dan kemauan keras itu adalah hati dan hati adalah tempat dan pusat perhatian allah.
Barang siapa yang berkeinginan untuk memiliki cita-cita dan kemauan keras, berkeinginan untuk mengejar ketertinggalannya maka hal itu adalah mudah dan dengan kemampuannya ia dapat meninggikan kemauan dan cita-citanya dengan mencurahkan faktor-faktor yang mendukung hal itu.
Berkenaan dengan hal ini maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Sesungguhnya ilmu pengetahuan itu adalah dengan belajar yang sesungguhnya sifat lemah lembut itu adalah dengan bersikap lemah lembut. Barangsiapa yang berupaya mencari kebaikan niscaya diberikan kepadanya dan barangsiapa yang berupaya menghindari keburukan istilah terhindar darinya.“
BACA JUGA : INI 4 ADAB SETELAH MAKAN YANG JARANG DIKETAHUI
Kemampuan dan cita-cita tinggi itu adalah akhlak mulia sementara akhlak itu sendiri dapat berubah dan bukan sesuatu yang mustahil atau tidak mungkin untuk melakukan perubahan. Ada beberapa langkah dalam upaya untuk membangun mental dan perkembangan keras kita mampu menyelaraskan dengan cita-cita seorang muslim sebagaimana mestinya, antara lain:
- Berakidah lurus
- Keteguhan beriman kepada allah
- Berdoa
- Menumbuhkan sifat malu
- Membaca alquran dengan penghayatan
- Menghindari mental suka kemewahan dan bersenang-senang
- Bertukar pikiran dengan para ahli pikir yang aktif
- Menerima kritikan yang membangun dan nasihat yang terarah
- Niat yang suci dan ikhlas dalam bekerja
- Mempelajari jalan hidup para tokoh pahlawan dan para pembaharu yang cendekia
- Bergaul dengan orang-orang baik dan mereka yang memiliki cita-cita dan kemauan tinggi
- Sabar dan memantapkan kesabaran
- Bercita-cita rendah
Sumber: Buku 31 Sebab Lemahnya Iman, Karya Husain Muhammad Syamir

