Ikhlas itu memurnikan hati dari tujuan selain Allah. Tidak ada yang diharapkan selain balasan dari Allah, dan tidak ada yang ditakuti selain kehilangan berkah dari Allah. Dari situlah cinta kepada-Nya tumbuh mekar.
Dalam beramal, ikhlas adalah keharusan. Tidak akan diterima amal kita kecuali kita benar-benar ikhlas karena Allah.
Allah langsung yang memerintahkan kita untuk ikhlas dalam beramal. Sebagaimana firman-Nya:
وَمَآ أُمِرُوٓا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ ۚ وَذٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)
Paradoks Ikhlas

Ikhlas kita harus diperiksa lagi keikhlasannya. Bisa jadi kita gagal dalam mengikhlaskan keikhlasan kita.
Ini bukan sesuatu yang sifatnya falsafi. Tapi memang seringkali kita merasa sudah ikhlas beramal, padahal perasaan ‘merasa ikhlas’ itu masih ada. Itulah tanda ketidakikhlasan.
Maka keikhlasan harus sering dikoreksi, dan diperbarui. Sebab ikhlas itu erat kaitannya dengan niat. Kalau niat diperbarui, maka ikhlas juga ikut diperbarui.
Mengganggu Keikhlasan
Seringkali kita tidak sadar mengganggu keikhlasan orang.
Kita ikhlas membersihkan rumah karena ingin meringankan beban orang tua. Ada saja orang yang mengotorinya kembali, sampai membuat kita kesal. Bahkan kita ingin mengumpat. Orang yang mengotori itu yang mengganggu keikhlasan.
Di bulan Ramadan kita ingin bertaubat, menegakkan salat dengan berangkat salat berjamaah ke masjid, sesampainya di masjid dibilang tumben. Yang bilang tumben itu mengganggu keikhlasan.
Selain harus ikhlas, kita tidak boleh mengganggu keikhlasan orang lain sebagai bentuk adab kepada mereka.
Kunci Lailatul Qadar
Kunci Lailatul Qadar adalah ikhlas berharap rida Allah, bukan berharap mendapat Lailatul Qadar itu sendiri. Sebab Lailatul Qadar adalah sepercik cinta Allah yang diberikan kepada umat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Terkait kita cinta dan rindu pada Lailatul Qadar, itu adalah cabang keimanan sendiri, dan asasnya pun cinta dan benci karena Allah, cinta pada apa yang dicintai Allah, dan benci apa yang dibenci-Nya.
Tapi kecintaan kepada Allah harus tetap dikedepankan. Karena inilah inti dari ikhlas dalam beribadah: berharap cinta kita pada Allah tidak bertepuk sebelah tangan.
Maka dalam rangka menyambut sepercik cinta Allah dalam Lailatul Qadar, kita bersihkan dulu hati kita dari segala macam gangguan yang menghalangi cinta kita kepada Allah. []

