mafatih.or.id
  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog
21 November 2021 by Qoryah Quran Mafatih

Khilafah Pemersatu Antarbangsa dalam Ikatan Islam

Khilafah Pemersatu Antarbangsa dalam Ikatan Islam
21 November 2021 by Qoryah Quran Mafatih

Sejarah Ahlul Bait dan Ulama menegakkan hukum Kesatuan Khalifah

Oleh: Ahmad Abdurrahman al-Khaddami

Pasca 1924 setelah dihapuskan istilah Khilafah di Istanbul oleh Inggris melalui  anteknya, Kemal Pasya la’natullah ‘alaih terjadi upaya serius memalingkan kaum muslimin dari persatuan hakiki sebagai umat Islam dalam satu negara, sebagaimana menjadi amanah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ

“Barangsiapa yang hendak memecah belah urusan umat ini sedangkan mereka bersatu maka bunuhlah dengan pedang siapapun dia.”

Hadits ini diriwayatkan para Imam: Ahmad, Muslim, Abu Daud, an-Nasa`i, dan Ibn Hibban dari Sayyidina ‘Arfajah radhiyallâhu ‘anhu dengan lafad tersebut dan diriwayatkan pula para Imam: al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Îmân, al-Hakim, ath-Thayalisi, Abu ‘Awanah, dan ath-Thabrani, dengan lafad lain yang semisal.

Ide – ide Barat semisal Nasionalisme dan Pan Islamisme menjadi bahan diskusi “panas” antar aktivis politik dan pergerakan di negeri – negeri Islam yang kemudian melahirkan banyak negara berdasarkan teori devide et impera dalam bentuk nation-state ala Syikes – Picot Agreement, padahal sebelumnya disatukan dalam naungan Khilafah Utsmaniyyah, terutama saat masa Khalifah Abdul Hamid II Khan al-Ghazi rahimahullah.

Namun, yang aneh ialah setelah merasa “berdikarI” dan “merdeka” semuanya segera berlomba menghinakan diri untuk diakui dalam “Keluarga Internasional” semacam PBB yang jelas dikuasai 5 (lima) negara: AS, Inggris, Perancis, Rusia dan Cina. Lebih daripada itu, secara umum kaum muslimin masih bangga dan bahagia dengan persatuan umat dalam Manasik Haji di bulan Dzulhijjah.

Di masa lalu, Khilafah mampu menyatukan banyak bangsa dan wilayah berdasarkan akidah dan syariah Islam nan penuh wibawa di hadapan kaum Kafir. Bahkan dari berbagai negeri yang dibebaskan melalui Jihad dan Dakwah lahir para Ulama dan Ilmuwan yang karya mereka masih terus bermanfaat hingga saat ini. Berikut ini gambaran betapa luasnya wilyayah yang menghimpun berbagai bangsa bisa melebur dan saling memberikan kebaikan:

Masa Khilafah Rasyidah

  1. Syam: Damaskus/Suriah, Himsh/Suriah, Ba’labak/Libanon, Bushrah/Suriah, Ubullah/Basrah, Urdun, Thabariyah/Yordania, Bait al-Maqdis/Palestina, Qinnasrin/Suriah, Halab/Suriah, Manbij/Suriah, Saruj/Suriah, Qarqisiya/Suriah, ar-Ruha/Syam – Irak
  2. Afrika Utara: Mishr, Iskandariyah, Burqah/Libya, Athrablus/Libya, Ifriqiyyah/Afrika Utara
  3. Persia: Jazirah, Ahwaz/Iran, Mada`in/Irak, Tikrit/Irak, Jundaisabur/Iran, Hulwan/Iran, Maushil/Irak, Qaisariyah/Iran, Tustar/Iran, Nahawand/Iran, ad-Dainur/Iran, Mah Sanadan/Iran – Irak, Hamadzan/Iran, Rayy/Iran (Razi), Askar/Iran, Qumis/Iran, Kirman/Iran, Ashbahan/Iran, Sijistan/Afghan – Iran, Makran/Iran – Pakistan Sabur/Iran, Arrajan/Iran, Dara-Abjarad, Ishtakhar/Iran, Fasa/Iran, Jur/Iran, Naisabur/Iran, Thus/Iran, Sarkhas/Iran, Baihaq/Iran
  4. Asia Tengah: Khurasan/Iran – Afghan dll; Balkh/Afghan, Marwa/Turkmenistan
  5. Asia Kecil dan Kaukasus: Anthakiyah/Turki, Sumaisath/Turki, Harran/Turki, Nushaibin/Turki, Rum/Turki, Qubrus/Cyprus, Adzrabaijan

Tambahan Masa Khilafah Umayyah

  1. India: Quhustan/Pakistan Armail/Pakistan, Qanzabur/Pakistan, Daibul/Pakistan, Karij, Barham, Multan/Pakistan
  2. Asia Tengah: Rukhaj – Sijistan/Afghan – Iran, Bikand/Uzbek, Bukhara, Nasaf/Uzbek, Kasy/Uzbek dst, Syuman/Uzbek dst, Khawarizm/Iran – Uzbek – Tajik – Turkmn, Samarqand, Kasygar – Turkistan/Cina, Sughd/Tajik, Kabul/Afghan, Farghanah/Uzbek Tajik Kirgiz, Syasy/Uzbek, Qiqan/Afghan – Pakistan
  3. Afrika Utara: Waddan – Burqah/Libya, Kaura – Sudan, Shunhajah, Aurabah – Maghrib/Maroko, Bajah/Tunis
  4. Asia Kecil dan Eropa Barat: Hiraqlah/Turki, Sinan –  Mushaishah, Mushaisah/Turki – Syam, Armenia, Sardaniyah/Itali, Mamthurah, Rum: Qumiqam, Buhairah al-Fursan, Jurtsumah, Thuwanah/Tyana, Mayurqah – Manurqah/Spanyol, Bahr Adzrabaijan, Andalus, Sandarah, Hushun al-Hadid, Sarda/Turki, Syatta, Shaqalibah/Slavia – Italia, Qaisariyah/Turki, Khanjarah/Turki, Kharsyanah – Malathyah/Turki
  5. Persia: Wasith/Irak, Baidha/Iran, Jurjan/Iran, Thabaristan/Iran, Dailam/Iran
  6. Syam: al-Bab/Syam, Thuwais/Syam

Setidaknya hingga masa Khalifah Harun ar-Rasyid dapat dikatakan kondisi umat dan negara stabil. sejahtera dan disegani lawan dengan wilayah yang sedemikian luas: Timur hingga ke India dan perbatasan Cina, Utara hingga Turki dan Kaukasus dan Barat hingga Eropa Barat. Bagaimana para pendahulu umat menegakkan syariah Islam dalam masalah kesatuan Khalifah setelah masa Khalifah Harun ar-Rasyid? Diantara para pemimpin menjadi teladan bagi generasi umat setelahnya ialah Imam ad-Dibaj, Syarif Abu Hasyim, Sultan Barakat Khan dan Sultan Ghiyatsuddin Syah.

Imam Muhammad ad-Dibaj ibn Ja’far al-Husaini – Hijaz

Beginilah Cara Mempelajari Kitab Para Ulama (1)

Dinukil Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan al-Hasani dalam Tarikh ad-Duwal al-Islamiyyah yang asalnya dari nukilan Imam Ibn Jarir ath-Thabari dalam Tarikh-nya bahwa pada tahun 199 H, terdapat gerakan Abu as-Saraya yang didukung Thalibiyyin, baik Alu Ali maupun Alu Ja’far untuk menegakkan urusan umat saat terjadi konflik antara al-Ma`mun dengan saudaranya al-Amin. Diantara wilayah yang berhasil dikuasai ialah (1) Kufah, (2) Bashrah dipimpin al-‘Abbas ibn Muhammad ibn Isa ibn Muhammad al-Ja’fari, (3) Mekkah dipimpin al-Husain ibn al-Hasan ibn Ali ibn al-Husain ibn Ali al-Afthas, (4) Yaman dipimpin Ibrahim ibn Musa ibn Ja’far, (5) Persia dipimpin Isma’il ibn Musa ibn Ja’far dan (6) Ahwaz dipimpin Zaid ibn Musa ibn Ja’far. Namun, ternyata Khalifah al-Ma`mun berhasil menyelesaikan konfliknya sehingga Abbasiyyin tetap berhak atas pemerintahan umat sebagaiman baiat awalnya. Terjadilah, perbedaan pendapat diantara kedua pihak hingga menyeret keduanya dalam pertempuran antar Ahlul Bait: Thalibiyyin dengan Abbasiyyin.

Pada akhirmya di tahun 200 H, hanya sekitar 10 bulan semenjak awal gerakannya, kekuatan Abu as-Saraya melemah dan berhasil dikalahkan, maka para pendukungnya terutama Thalibiyyin juga melemah. Sebagian memisahkan diri semisal Imam Ibrahim ibn Musa membangun pemerintahan di Yaman, yang kemudian dikenal dengan Daulah Thabathaba; sedangkan yang lain semisal Imam al-Afthas, Imam ad-Dibaj dan banyak Alu Ja’far dan Alu Ali tetap bertahan di Mekkah. Imam ad-Dibaj, yakni Muhammad ibn Ja’far ash-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn Ali Zainul Abidin ibn al-Husain ibn Ali ‘alaihimussalam dibaiat oleh masyarakat dan bersedia menerimanya setelah diyakinkan oleh putranya Imam Ali ibn Muhammad dan Imam al-Afthas. Diantara yang mendukung beliau ialah Imam Muhammad ibn Ali al-Uraidhi ibn Ja’far ash-Shadiq ‘alaihimussalam leluhur para Dai, Sultan dan Habaib di Bilad al-Jawi/Nusantara.

Namun setelah sampai fakta bahwa Khalifah al-Ma`mun masih sehat, beliau segera mengumumkan kepada masyarakat:

انني بلغني ان المأمون مات وكانت له في عنقي بيعة وكانت فتنة عميت الارض فبايعني الناس ثم انه صح عندي ان المأمون حي صحيح وانا استفر الله من البيعة وقد خلعت نفسي من البيعة التي بايعتموني عليها كما خلعت خاتمي هذا من اصبعي فلا يبقى لي في رقابكم

“Sesungguhnya telah sampai pada saya bahwa al-Ma`mun telah wafat dan baginya di pundak saya terdapat baiat, sedangkan terjadi fitnah yang meliputi bumi lalu masyarakat membaiat saya kemudian telah sah berita padaku bahwa al-Ma`mun masih hidup nan sehat dan saya memohon ampun pada Allah dari baiat ini dan sungguh saya lepas baiat yang kalian membaiat saya atasnya sebagaimana saya lepas cincin saya dari jari saya, maka tak ada (baiat) untuk saya di pundak kalian”.

Kemudian semua wilayah yang dikuasai kembali tunduk kepada Khalifah al-Ma`mun dan tahun berikutnya pada tahun 201 H, Khalifah al-Ma`mun menjadikan Imam Ali ar-Ridha ibn Musa al-Kazhim ibn Ja’far ash-Shadiq, saudara Imam ad-Dibaj sebagai calon Khalifah setelahnya dan memberinya gelar ar-Ridha.

Syarif Abu Hasyim Muhammad ibn Ja’far al-Hasani – Hijaz

Al-Quran dan Sunnah Saja, Cukupkah? - Analisis dan Opini, Berita Sosial,  Ekonomi, Geopolitik Nasional dan Internasional - Resistensia.org

Dinukil Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan al-Hasani dalam Tarikh ad-Duwal al-Islamiyyah pada tahun 455 H, Amir Yaman Ali ibn Muhammad ash-Shulaihi berhasil menguasai Mekkah setelah sebelumnya dipimpin oleh pihak yang tunduk kepada Ubaidiyyin (kadang disebut Fathimiyyin) di Mesir, kemudian menempatkan Syarif Abu Hasyim Muhammad ibn Ja’far ibn Muhammad ibn Abdullah ibn Abu Hasyim Muhammad ibn al-Husain ibn Muhammad ibn Musa ats-Tsani ibn Abdullah ibn Musa al-Jun ibn Abdullah al-Mahdh ibn al-Hasan al-Mutsanna ibn al-Hasan ibn Ali ‘alaihimussalam sebagai pemimpin Mekkah.

Diantara langkah berani Syarif Abu Hasyim al-Hasani ialah mengumumkan ketundukan kepada Khilafah Abbasiyyah, yakni pada masa Khalifah al-Qaim dengan mendoakan para Abbasiyyin, menghentikan khutbah atas nama Ubaidiyyin dan menghentikan tambahan lafad adzan Hayya ‘ala Khair al-‘Amal yang diperintahkan penguasa Mesir. Artinya, setelah sebelumnya Mekkah dikuasai Ubaidiyyin maka beliau mengembalikan kepada hukum asalnya, yakni baiat dan taat pada Khalifah.

Sultan Barakat (Berke) Khan at-Tatari – Khawarizm

Biografi Al khawarizmi, Bapak Algoritma dan Penemu Aljabar - Dicoding Blog

Dinukil Imam Ibn Abd azh-Zhahir dalam ar-Raudh azh-Zhahir bahwa telah datang para utusan dari Amir Barakat Khan, pemimpin Tatar kepada Sultan al-Malik azh-Zhahir Baybars sebelum perang dengan Hulagu Khan, di saat situasi mencekam akan kedatangan Tatar – Mongol yang menghancurkan ibukota Khilafah di Baghdad. Setelah pemeriksaan secara seksama diputuskan bahwa para utusan tersebut adalah kaum muslimin yang baik Islamnya dan dapat dipercaya sebagaimana pemimpin nya, yakni Amir Barakat Khan. Beliau adalah sepupu Hulagu Khan dan cucu Jengis Khan serta murid Imam Sa’id ibn al-Mutahhar al-Bakharzi, Ulama Khurasan murid Imam Najmuddin al-Kubra.

Diantara persiapan pertempuran yang kemudian dikenal dengan perang ‘Ain Jalut tahun 658 H ialah dikirimnya utusan Sultan al-Malik azh-Zhahir Baybars kepada Amir Barakat Khan yang membawa surat tentang keadaan Islam, baiat kepada Khalifah dan perintah beramal yang bersandar pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Beliau senantiasa teguh dengan baiat hingga wafatnya di masa Khalifah al-Hakim, sekitar tahun 665 H. Kemudian penerusnya melanjutkan kesetiaan dan khdimah beliau kepada para Khalifah dan Sultan.

Sultan Ghiyatsuddin A’zham Syah – Hind

Where algebra got its name from - 1001 Inventions

Dinukil Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa bahwa pada masa Khalifah al-Musta’in sekitar tahun 812 H, Amir Ghiyatsuddin A’zham Syah ibn Iskandar Syah, pemimpin al-Hind atau negeri India mengirim utusan kepada Khalifah meminta penetapan kuasa sebagai bentuk ketaatan untuk menegakkan Syariah Islam terkait kesatuan Khilafah.

Keempat pemimpin tersebut semakin menambah daftar panjang para pendahulu umat dalam menjaga kesatuan Khilafah yang telah masyhur semisal:

  1. Sultan Adhud ad-Daulah Alp Arsalan as-Saljuqi – Rum, masa Khalifah al-Qaim, tetap menjaga kesatuan Khilafah meskipun lebih kuat dibandingkan Abbasiyyin, bahkan berhasil menang dalam perang melawan Rum atau Romawi Timur di Manzikert.
  2. Sultan Yusuf ibn Tasyfin al-Murabithi – Maghrib dan Andalus, masa para Khalifah: al-Muqtadi dan al-Mustazhhir, secara sukarela meminta penetapan kuasa meskipun berada di negeri yang jauh paling Barat, berbeda dengan Umawiyyin, Idrisiyyin atau Ubaidiyyin.
  3. Sultan Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi – Syam dan Mesir, masa para Khalifah: al-Mustadhi` dan an-Nashir, secara penuh mendukung Khalifah setelah kemenangan besar atas Kafir Eropa dan Ubaidiyyin.
  4. Sultan Ruknuddin al-Malik azh-Zhahir Baybars al-Mamluki – Mesir, masa para Khalifah: al-Mustanshir dan al-Hakim, menjadi penopang kekuatan Khalifah setelah kehancuran Baghdad oleh serangan Tatar – Mongol. []

Purwakarta, 21 November 2021

Previous articleHATI-HATI! 4 AMAL INI JADI SEBAB AZAB KUBURNext article Kastil Al Hazm, Jejak Peradaban Islam di Oman

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About The Blog

Nulla laoreet vestibulum turpis non finibus. Proin interdum a tortor sit amet mollis. Maecenas sollicitudin accumsan enim, ut aliquet risus.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Tag

adab AGEN OF CHANGE ajal alquran anak anak saleh bahaya utang dakwah fidyah hafiz ibadah ibadah puasa ibadah ramadan idul fitri ilmu islam kematian kenakalan anak keutamaan ramadhan komunikasi anak lisan mendidik anak nasihat nasihat lukman pemuda pendidikan pendidikan anak pendidikan islam penghafalAlquran pesantren puasa puasa ramadan puasa syawal Ramadan ramadhan remaja remajaislam rezeki santri saum ramadan sekuler sukses syawal utang ZAKAT

Yuk! Raih Kemuliaan bersama Pesantren Al-Qur’an Mafatih, Melahirkan Khadimul Al-Qur’an ( Para Penghafal Al-Quran, Dai dan Guru Al-Quran) untuk Indonesia.

Tentang Kami

  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog

HUBUNGI KAMI

+62812-8639-653

Alamat kami

Legokhuni, Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41174

About This Sidebar

You can quickly hide this sidebar by removing widgets from the Hidden Sidebar Settings.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org