Dalam sebuah hadist yang cukup masyhur berkaitan dengan bulan Ramadan, Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda,
“Telah datang kepadamu bulan Ramadan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya; pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat; juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia terhalang mendapat sesuatu yang besar.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
Dalam hadis di atas Rasulullah menyebutkan bahwa pada bulan Ramadan setan-setan dibelenggu atau diikat, sedangkan pintu-pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Banyak orang yang kemudian bertanya mengapa sekalipun setan-setan sudah diikat oleh Allah subhanahu wa ta’ala di bulan suci Ramadan, kemaksiatan dan kemungkaran masih saja merebak di tengah masyarakat? Apa sebenarnya makna dari dibelenggunya setan pada bulan yang mulia ini?
Ternyata penjelasannya jika merujuk pada buku Fikih Puasa dan Zakat Fitrah yang diterbitkan oleh LBM-NU Kota Kediri, 2021, sebagian ulama menerangkan bahwa terbelenggunya setan hanya bagi shaim (orang yang berpuasa) yang menjaga syarat, rukun, dan adabnya. Menurut sebagian ulama, terbelenggunya setan tidak identik dengan hilangnya kemaksiatan. Pasalnya, sebab kemaksiatan bukan hanya dari setan, melainkan bisa juga bersumber dari hawa nafsu dan kebiasaan buruk.
Dalam kitab Umdatul Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari (10/270) disebutkan:
“Apabila kamu bertanya, ‘Kenapa maksiat masih banyak terjadi padahal setan sudah terbelenggu?, maka saya katakan, ‘Ini berlaku bagi orang yang menjaga rukun serta adab-adab puasanya. Menurut sebagaian ulama, pemicu maksiat tidak hanya dari setan, terkadang juga bersumber dari hawa nafsu dan kebiasaan yang buruk’.”
Wallahu a’lam bishawab. []

