“Mulutmu adalah harimaumu.” Tampaknya kita sudah tak asing lagi mendengar pepatah bijak tersebut. Pepatah ini sering dijadikan sebagai nasihat bagi kita sebagai manusia untuk selalu berhati-hati menjaga lisan dan ucapan. Pasalnya, lisan manusia itu ibarat dua sisi mata pisau yang bisa memberikan dampak baik maupun buruk, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain dan masyarakat sekitarnya. Karena itu, Rasulullah shalallahualaihi wasallam bersabda,
“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (H.R. Al-Bukhari)
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam (jika tidak mampu berkata baik).” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Lebih dari itu, lisan atau ucapan seseorang juga merupakan cerminan pribadi orang itu sendiri. Dengan kata lain, ucapan yang terlontar dari lisan kita hakikatnya menunjukkan seperti apa kualitas diri kita yang sebenarnya di hadapan banyak orang. Jika yang terucap adalah hal-hal baik dan bernilai positif, tentu yang demikian itu hanya akan keluar dari lisan orang-orang yang baik pula. Sebaliknya, jika yang terlontar merupakan kata-kata kasar, kotor, provokatif, dan lain sebagainya yang bermuatan negatif, tentu orang yang mengucapkannya pun tak jauh berbeda pribadinya dari apa yang ia ucapkan itu. Layaknya sebuah teko yang hanya akan mengeluarkan sesuatu sesuai dengan apa yang diisikan padanya.
Abu Hurairoh r.a. meriwayatkan bahwasanya salah seorang sahabat pernah berkata kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam: “Wahai Rosululloh, sesungguhnya wanita itu rajin salat, rajin sedekah, rajin puasa. Namun, dia suka menyakiti tetangga dengan lisannya.” Lantas Rasulullah bersabda, “Dia di neraka.” Kemudian sahabat bertanya lagi, “Ada wanita yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang salat sunah, dan dia hanya bersedekah dengan potongan keju. Namun, dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Rasulullah bersabda, “Dia ahli surga.” (HR. Ahmad)
Maka dari itu, mari kita selalu tingkatkan iman dan takwa di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Salah satunya, dengan cara muhasabah diri selalu memperhatikan dan menjaga lisan kita dari perkataan-perkataan yang sia-sia maupun tak berfaedah. Ibarat anak panah yang melesat dari busurnya, demikian pulalah ucapan yang terlontar dari lisan kita. Sekali ia melesat terlepas dari busurnya maka dipastikan tidak akan pernah bisa ditarik lagi. Apabila anak panah itu tertancap pada sasarannya, niscaya sungguhpun ia cabut kembali maka bekasnya tidak akan pernah hilang dan akan tetap ada. Bahkan, andaipun bekas itu ditambal sedemikian rupa, niscaya bekasnya itu tidak akan pernah kembali utuh seperti sediakala. Wallahu a’lam bishawab. []

