Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)
Ramadan adalah thariqah bagi kita untuk mendekatkan diri pada Allah. Yang dilatih di sini bukan hanya berbagai kebiasaan positif saja, melainkan juga amal dan adab. Ada kalimat terkenal di kalangan ahli tasawuf berbunyi sebagai berikut:
الطريقة كلها أدب
Thariqah itu seluruhnya adab.
Maka dalam bulan yang dimuliakan Allah ini kita mesti melatih diri kita menjadi lebih baik. Agar berbekas taqwa kita sepanjang hayat.
Membiasakan diri dengan adab mesti kita jadikan sebagai cara kita menempuh Ramadan supaya lebih baik lagi di bulan berikutnya.
Hakikat Adab
Adab adalah sisi praktis dari akhlak. Sementara akhlak adalah syariat Islam itu sendiri. Bisa dibilang, adab adalah etika dengan standar syariat, bukan akal seperti pada filsafat etika.
Hakikat adab adalah memuliakan suatu perkara. Misalnya, adab terhadap diri sendiri, berarti memuliakan diri sendiri. Caranya dengan menerapkan sifat-sifat terpuji menurut standar Islam, membersihkan hati, tidak makan kecuali yang halal dan thayib, menyegerakan diri dalam beribadah, dan sebagainya.
Atau adab makan, berarti memuliakan makanan dan diri sendiri ketika makan. Misalnya, memulai dengan doa, makan dengan tangan kanan, tidak terburu-buru ketika makan, tidak rakus, dan mengambil makanan dari yang dekat dengan pandangan kita.
Semuanya berdampak kepada kemuliaan diri sendiri, martabat, dan kesan bagi orang lain. Sebab, sederhananya, orang yang mengganggu itu tidak beradab.
Keluasan Adab
Keluasan pengkajian soal adab sama luasnya dengan membahas syariat. Karena adab adalah bagian dari syariat. Tentu saja perlu waktu untuk mempelajari seluruhnya sampai bisa menjadi bagian dari cara hidup kita.
Tapi paling tidak, kita bisa paham, bahwa adab itu harus seiring dengan pemahaman terhadap syariat. Selain itu, juga sejauh mana kita menghormati dan memuliakan sesuatu.
The Loss of Adab
Prof. Muhammad Naquib al-Attas menemukan satu problem fatal di tubuh umat Islam. Di antaranya adalah yang beliau sebut sebagai The Loss of Adab (Hilangnya Adab). Bukan cuma adab pada diri sendiri, tapi dalam berbagai aspek, termasuk dalam politik dan sains.
Penyebab paling mendasar dari kehilangan adab ini adalah pemikiran sekulerisme yang memisahkan antara materi dengan ruh, sehingga suatu perbuatan hanya dilihat baik-buruknya berdasarkan perbuatan yang nampaknya saja, tidak diperhatikan motivasi perbuatan dan nilai yang hendak dicapainya.
Karena dipisahkannya materi dengan ruh, efeknya berimbas pada dianggap tidak sakralnya suatu amal saleh. Bahkan amalan sehari-hari pun seolah tidak ada pahalanya.
Lebih jauh lagi, ialah pemisahan agama dari kehidupan, bahkan pemisahan agama dari negara.
Sederhananya, dampak yang sangat jelas dari sekulerisme ini tampak pada pembahasan agama yang dipersempit hanya perkara ibadah mahdah saja, pembahasan agama tidak boleh di luar forum pengajian seperti tempat nongkrong dan warung kopi, dan negara yang dibangun di atas syariat.
Langkah Awal
Untuk memulai perubahan pada diri sendiri, kita harus paham dulu konsep akidah dan syariat sebagai landasan dan cara hidup, apa saja racun-racun pemikiran, dan bagaimana mengubah keadaan yang kurang adab menjadi beradab.
Menerapkan adab dalam diri sendiri harus dimulai dengan pemahaman soal adab terlebih dahulu dan rinciannya di setiap momen dan tempat. Termasuk kesadaran hati tentang hubungan manusia dengan Allah harus mulai dilatih.
Dengan begitu gagasan soal kerusakan adab di antara kita menemukan solusinya berupa penerapan adab bagi diri sendiri.
Di antara adab terhadap ilmu juga berupa menyampaikan ilmu yang baru di dapat kepada siapapun yang memungkinkan untuk dipahamkan, baik itu teman, saudara, maupun keluarga. Dalam menyampaikan ilmu juga kita mesti paham, kita hanya berbicara, terkait perkataan kita menyentuh hati atau tidak itu urusan Allah. Menyampaikan adalah perkara zhahir, sedangkan diterima atau tidak itu perkara batin yang hanya Allah yang tahu. []

