Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Tugas kalbu merupakan satu diantara kaidah-kaidah agama seperti mencintai Allah Swt dan rasulnya, tawakal kepada Allah Swt, ikhlas beragama karena Allah Swt, bersyukur kepada Allah Swt, bersabar terhadap segala sesuatu yang telah ditetapkannya, takut kepada Allah Swt serta mengharapkan kepada Allah Swt dan lain-lain.” Kemudian Ibnu Taimiyah menambahkan, “semua hal ini wajib dilakukan oleh setiap hati manusia.”
Hati atau kalbu merupakan tempat perhatian Allah Swt, maka sudah sepatutnya bagi setiap muslim untuk memperhatikan setiap gerak dari kalbunya.
BACA JUGA : 6 CARA MENDIDIK MENTAL DALAM ISLAM
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt tidak akan melihat pada bentuk-bentuk dan harta-harta kalian, tetapi Dia akan melihat pada hati-hati dan perbuatan-perbuatan kalian.” (HR Muslim dari hadis Abu Hurairah)

Tidak sedikit kaum muslimin yang perhatikan amal-amalnya namun mereka mengabaikan amal-amal kalbu, mereka tidak menyadari bahwa kebaikan hati seseorang merupakan kebaikan bagi anggota tubuhnya, dan hati memiliki kedudukan bagaikan raja yang mengeluarkan seluruh perintah dan larangan bagi rakyat, yaitu anggota tubuh.
Banyak tugas yang harus dikerjakan hati manusia, antara lain adalah mencintai Allah Swt, ini merupakan tugas kalbu yang paling besar dan merupakan tujuan yang paling mulia. Ibnu qayyim berkata tentang hal ini, “Mencintai Allah Swt merupakan santapan rohani, makanan kalbu, dan permata hati.”
Lalu bagaimana halnya dengan tugas kalbu kita terhadap sikap mencintai Allah Swt? Apakah mencintai Allah Swt itu lebih diutamakan daripada mencintai harta, istri dan anak atau sebaliknya?
Allah Swt telah berfirman,
قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَٰنُكُمْ وَأَزْوَٰجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَٰلٌ ٱقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأْتِىَ ٱللَّهُ بِأَمْرِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْفَٰسِقِينَ
Artinya: Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Qs At-Taubah: 24)
Ibnu Katsir dalam menafsirkan firman Allah Swt yang berbunyi, “Maka tunggulah sampai Allah Swt mendatangkan putusannya,” ia berkata, “Maksudnya adalah tunggulah sampai datang sesuatu yang akan menimpamu berupa azab dan siksanya.”
Alangkah bahagianya orang yang hatinya diikuti dan kecintaan kepada Allah Swt dan rasulnya. Bagaimana keadaan akal kita dihadapan sikap tawakal, memohon pertolongan, takut, mengharap, khusyuk dan tunduk kepada Allah Swt?
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda sesungguhnya seorang hamba melaksanakan salat dan tidaklah dituliskan baginya kecuali setengahnya sepertiganya seperempatnya seperlimanya hingga mencapai sepersepuluhnya.” (HR Abu Daud dan An-Nasa’i serta oleh Al Baihaqi dalam As-Sunnah Al-Kubro dari hadis ‘Ammar dan ini adalah hadis yang shahih)
Ibnu qayyim berkata, “Kalau diketahui bahwa seluruh perbuatan anak manusia mah tergantung kepada kondisi hatinya, maka nilai keutamaan perbuatan manusia di sisi Allah Swt sangat tergantung kepada kadar keimanan, keikhlasan, kecintaan kepada Allah Swt dan lain-lain yang ada di dalam hati.”
Maka ketika seorang muslim mengabaikan amal-amal hatinya, maka ia akan mengalami kelemahan dan tidak pernah mencapai pada tujuan yang hakiki dan ibadah yang telah ia lakukan. Sebab ibadah yang dilakukan manusia berporos kepada dua pokok dasar, yaitu pertama penuh rasa cinta dan kedua penuh rasa hina serta sikap tunduk. Hal tersebut tentu saja memerlukan kesadaran akan tugas kalbu manusia.
Bagi orang yang ingin mendapatkan petunjuk dan ingin mendapatkan kenikmatan yang kekal, maka hendaknya ia selalu mengawasi dan memperhatikan kondisi hatinya dengan menghiasinya untuk Allah Swt dan mematuhi perintah dan larangannya, karena yang sedemikian itu adalah bagian dari ketakwaan hatinya.
Tidak sedikit mereka yang konsisten di dalam beragama mengabaikan seluruh aktivitas tugas kalbu hingga ibadah mereka tidak berfungsi dan berakibat kelemahan pada dirinya. Karena ibadah yang ia lakukan belum dapat memberikan arti sesungguhnya, ibadah yang mereka lakukan hanya timbul dari anggota tubuh saja dan tidak timbul dari hati.
Padahal amal ibadah itu sangat tergantung kepada hati. Jadi apa yang mereka lakukan itu tidak lebih baik dari ibadah-ibadah yang penuh kekurangan yang bercampur berbagai noda kesyirikan yang tersembunyi, haus, mencari, ria atau kagum pada diri sendiri.
Allah Swt berfirman,
وَلَقَدْ أُوحِىَ إِلَيْكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ
Arab-Latin: Wa laqad ụḥiya ilaika wa ilallażīna ming qablik, la`in asyrakta layaḥbaṭanna ‘amaluka wa latakụnanna minal-khāsirīn
Artinya: Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Qs az Zumar: 65)
BACA JUGA : KETAHUI 11 WAKTU KHUSUS UNTUK BERDOA
Maka selayaknya seorang muslim memeriksa dengan teliti kondisi hatinya agar terhindar dari segala macam debu dan noda, agar hati tetap bersih untuk menghadap kepada Tuhannya. Sebagaimana firman Allah Swt,
إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: “Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (Qs Asyura:89)
Sumber: Buku 31 Sebab Lemahnya Iman, karya Husain Muhammad Syamir

