Bulan Muharam merupakan bulan pertama dalam penanggalan kalender Islam (Hijriah). Itu artinya, tahun baru Islam selalu diawali dengan masuknya 1 Muharam sebagai awal tahun menggantikan bulan ke-12, yakni Dzulhijjah.
Dalam sejarahnya, perhitungan tahun baru Islam bermula pada masa Umar bin Khattab r.a., tepatnya enam tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad Shalallahualaihi wa sallam. Ketika itu Khalifah Umar mendapat sebuah surat balasan yang mengkritik bahwa suratnya terdahulu dikirim tanpa penomoran (penanggalan). Lantas, Umar pun mengajak para sahabat untuk bermusyawarah.
Kala itu sebagian sahabat mengusulkan perhitungan awal penanggalan tahun baru Islam dimulai sejak lahirnya Nabi Muhammad Shalallahualaihi wa sallam, tepatnya pada pada Tahun Gajah. Ada juga yang mengusulkan tahun baru Islam dimulai sejak diutusnya Nabi Muhammad sebagai nabi dan rasul Allah. Sebagian sahabat yang lain juga mengusulkan tahun baru Islam terhitung sejak wafatnya Nabi. Namun, semua itu usulan itu ditolak dengan berbagai pertimbangan hingga singkatnya mereka pun bermufakat untuk menjadikan momentum peristiwa hijrah Nabi sebagai awal mulai perhitungan tahun dalam Islam.
Sejak dahulu masyarakat Arab sudah mengenal tahun dengan menamainya menggunakan berbagai peristiwa penting yang terjadi pada tahun tersebut. Misalnya, kelahiran Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam yang dikenal dengan Tahun Gajah sebab pada tahun tersebut terjadi penyerangan pasukan gajah terhadap Kabah. Meski begitu, pada saat yang sama mereka pun sudah mengenal sistem kalender qomariyah (kalender Islam) yang berdasarkan peredaran bulan.
Bangsa Arab sudah menggunakan bulan Muharram sebagai bulan pertamanya dan Dzulhijjah sebagai bulan terakhir, yakni kedua belas, sebelum masa kenabian. Dengan kata lain, nama-nama bulan dalam kalender Hijriah bukanlah nama-nama baru, melainkan nama-nama yang telah digunakan sebelumnya dalam sejarah tahun baru Islam. Wallahu a’lam bishawab. []

