Menjalankan konsep Islam saat ini, hakikatnya adalah tobat kepada Allah. Sebab, cara hidup kita sebelum ini bisa jadi sangat sekuler sekali.
Bisa jadi kita pernah menjadi orang yang benci dengan istilah ‘infak dan sedekah’ tapi tidak anti terhadap istilah ‘sawer dan donasi’.
Bisa jadi kita menjadi orang yang lebih menyukai term ‘moral dan budi pekerti’ daripada ‘akhlakul karimah’.
Kita pernah menjadi penentang fanatisme buta terhadap agama, tapi sangat fanatik terhadap liberalisme.
Kita menjadi penyeru kebebasan, sementara umat Islam tidak bebas menampakan cita rasa keimanan yang dimiliki.
Kita menjadi penolak pelanggaran HAM, tapi saudara semuslim ‘dilaparkan’ selama sehari semalam tidak pernah bersuara.
Kita pernah menolak kekerasan terhadap perempuan, tapi hijab yang menjadi pakaian perempuan tidak pernah ditolak.
Kita pernah menjadi orang yang menolak pemaksaan pendapat, tapi kita yang justru memaksakan pendapat.
Kita pernah menjadi pemburu kebenaran, tapi kalau kebenaran itu datang dari Islam kita tolak mentah-mentah.
Di antara kita mungkin ada yang pernah menjadi begitu. Akarnya hanya satu: sekulerisme. Maka menjalankan konsep Islam dari ranah fisik sampai metafisik, dari thaharah sampai bermasyarakat, adalah cara tobat kita kepada Allah. Diiringi dengan istighfar, karena kita tahu Allah Maha Pengampun. []
Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)

