Ketika kegiatan introspeksi diri lemah dan berkurang, makasih sesungguhnya nafsu manusia akan semakin keras kepala dan tali kendali jiwanya lepas, lalu ia melakukan apa saja yang diinginkan nafsunya dengan tidak peduli kepada apa pun.
وَٱصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِٱلْغَدَوٰةِ وَٱلْعَشِىِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُۥ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُۥ عَن ذِكْرِنَا وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ وَكَانَ أَمْرُهُۥ فُرُطًا
Arab-Latin: Waṣbir nafsaka ma’allażīna yad’ụna rabbahum bil-gadāti wal-‘asyiyyi yurīdụna waj-hahụ wa lā ta’du ‘aināka ‘an-hum, turīdu zīnatal-ḥayātid-dun-yā, wa lā tuṭi’ man agfalnā qalbahụ ‘an żikrinā wattaba’a hawāhu wa kāna amruhụ furuṭā
Artinya: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Qs Al-Kahfi: 8)
BACA JUGA: INI 4 ADAB SETELAH MAKAN YANG JARANG DIKETAHUI
Mujahid berkata, “Ia telah menyia-nyiakan jiwanya dan telah merugi, selalu bersama dengan itu engkau dapatkan ia sangat menjaga hartanya, lagi menyia-nyiakan agamanya.”
Sesungguhnya orang-orang yang sukses itu tidaklah sukses dengan orang yang beruntung tidak beruntung kecuali karena mereka melakukan introspeksi terhadap diri mereka. Salah seorang diantara mereka menginspeksi diri lebih daripada yang introspeksi seorang teman kepada temannya. Jika mereka hendak melakukan suatu perbuatan, maka mereka bertanya kepada diri mereka sendiri mengapa dan bagaimana? Mengapa harus dikerjakan dan bagaimana akibat dari pekerjaan ini?
Sedangkan kita, sedikit pekerjaan aku kagum pada diri sendiri, seakan-akan surga diperindah untuk kita setiap pagi dan petang yang sudah merasa aman lalu tidak berbuat. Sedangkan mereka meliputi rasa khawatir akan posisinya di hari kiamat, maka dari itu mereka bekerja, sungguh sangat berbeda antara dua golongan tersebut.
Terdapat beberapa macam cara untuk melakukan intropeksi diri, antara lain introspeksi diri yang dilakukan antara selang waktu yang berjauhan, ada pula yang dilakukan setelah terjadinya kesalahan besar, ada pula introspeksi diri tiap saat dan inilah yang terbaik, di mana seseorang melakukan introspeksi diri diri setiap kali ia melakukan kesalahan.
Al hasan al bashri berkata, “Allah sayang kepada hambanya yang berhenti sejenak ketika hendak melakukan suatu pekerjaan, jika sesuatu yang akan dikerjakannya untuk Allah, maka ia lanjutkan. Jika sesuatu yang akan dikerjakan itu bukan untuk Allah, maka ia mengurungkannya.”
Dan sebagian diantara para ulama menerangkan ucapan hasan al basri ini dengan mengatakan, “Jika jiwa seorang hendak melakukan suatu pekerjaan, maka yang pertama kalinya kerjakan adalah berpikir sejenak: apakah pekerjaan itu mampu ia lakukan atau tidak? Jika tidak mampu, maka ia tidak akan.
Jika mampu, maka ia berhenti dan berpikir sejenak, apa melakukan pekerjaan itu lebih baik bagi dirinya daripada meninggalkannya, ataukah meninggalkan lebih baik bagi dirinya daripada mengerjakannya?
Jika yang terjadi adalah yang kedua maka ia tinggalkan pekerjaan itu dan jika yang terjadi adalah yang pertama maka ia harus berhenti sejenak untuk berpikir lagi.
Apakah motif melakukan pekerjaan itu adalah untuk mencari keridhaan Allah Swt dan pahala darinya, ataukah ia mengharapkan pujian, kedudukan dan harta dari manusia? Jika yang kedua terbetik dari dalam dirinya maka ia tidak akan melakukannya sekalipun pekerjaan itu dapat menghantarkan dirinya pada apa yang diharapkan.
Namun keputusan ini perlu dilakukan agar dirinya tidak terbiasa untuk melakukan perbuatan syirik dan tidak melakukan perbuatan yang bukan untuk Allah Swt.
BACA JUGA: 6 CARA MENDIDIK MENTAL DALAM ISLAM
Sementara jika yang terpenting dalam hatinya adalah yang pertama, maka ia berpikir lagi: Apakah ia akan ditolong untuk melakukan hal itu, dan ada penolong-penolong yang akan menolong dan membantunya jika pekerjaan itu membutuhkan pertolongan? Jika iya belum memiliki para penolongnya, maka ia menunda pekerjaan itu, lalu jika ia telah menemukan penolongnya, maka ia maju untuk melakukan pujian itu karena semuanya ya kamu mendapatkan kemenangan.
Sungguh kita waktu pada sikap introspeksi diri terhadap sesuatu yang kecil ataupun yang bisa di setiap waktu dari setiap tempat. Agar kita dapat mengendalikan diri ini, jika Allah Swt akan meminta pertanggungjawaban kepada orang-orang yang tulus tentang ketulusan mereka, kalau bagaimana dengan orang yang lemah seperti kita?
Wallahu alam bishawab. []
Sumber: Buku 31 Sebab Lemahnya Iman, karya Husain Muhammad Syamir


