Hubungan Utsmaniyyah – Nusantara: Kemajuan, Kemunduran, dan Pascakhilafah 923 – 1343 H / 1517 – 1918 M
Oleh: Ahmad Abdurrahman al-Khaddami
Dimulai abad 10 H / 16 M, Utsmaniyyah memulai kebangkitan dan mencapai kemajuan hingga 11 – 12 H / 18 M, terutama masa Khalifah Sulaiman al-Qanuni, kemudian mengalami kemunduran sejak abad 13 H / 19 M.
Era Kemajuan Khilafah

Abad 16
1517 Sultan Salim menjadi Khalifah kaum muslimin setelah diakui Mesir, Syam dan Hijaz
1520 – 1566 Masa Khalifah Sulaiman al-Qanuni yang menghimpun 3 (tiga) benua: Asia, Eropa (Timur) dan Afrika (Utara) serta 2 (dua) samudera: Atlantik dan Hindia
1525 Raja Perancis meminta bantuan kepada Khalifah Sulaiman dari penahanan Spanyol
1527 Pembebasan Sunda Kalapa oleh Demak dari Pajajaran – Portugis, Panji Macan Ali – Cirebon dan hiasan meriam Ki Amuk – Banten yang berkaitan dengan syiar Jihad Utsmaniyyah
1529 Pengepungan Wina – Austria I, berhasil membebaskan sebagian
1530-an Laksamana Khairuddin Barbarossa berusaha menyelamatkan Andalusia (Spanyol – Portugal)
1566 – 1574 Masa Khalifah Salim II ibn Sulaiman, utusan dan surat Aceh pertama ke Istanbul
1567 Bantuan militer Utsmaniyyah tiba di Aceh, kemudian mendirikan Akademi Baitul Makdis
1570 – 1575 Terusirnya Portugis dari Nusantara setelah diperangi pasukan Sultan Ternate Babullah yang dibantu Aceh, Jawa dan lainnya serta militer Utsmaniyyah
1574 – 1595 Masa Khalifah Murad III ibn Salim II, persembahan kitab Syarah Ta’lim al-Muta’allim
1579 Pembebasan Pakuan – Pajajaran oleh Banten dibantu militer Utsmaniyyah
Abad 17
1625 Misionaris memulai aktivitas di dunia Islam
1638 – 1641 Banten, Mataram dan Makassar bergabung secara resmi dengan Khilafah Utsmaniyyah melalui Wali Hijaz Syarif Mekkah, masa Khalifah Murad IV ibn Ahmad
1648 Perjanjian Westphalia untuk menyatukan bangsa Eropa dan membendung pengaruh Khilafah Utsmaniyyah
1663/62 Penyusunan naskah Sajarah/Babad Banten masa Sultan Abu al-Fath al-Bantani, wakil Khalifah Utsmaniyyah di Tatar Sunda
1677 – 1698 Penyusunan naskah Pustaka Wangsakerta yang menjelaskan hubungan Cirebon dengan wilayah Khilafah semisal Baghdad, Mesir dan Hijaz
1682 – 1683 Perlawanan Jihad Sultan Abu al-Fath al-Bantani bersama al-Qadhi Syaikh Yusuf al-Maqassari, alumni al-Haramain murid Syaikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syaikh Ibrahim al-Kurani terhadap Kafir Belanda
1683 Pengepungan Wina – Austria II, mengalami kegagalan
Abad 18
1700-an – 1880-an Jaringan Ashabul Jawi, alumni Hijaz I: Syaikh Abdusshamad al-Falimbani, Syaikh Arsyad al-Banjari, Syaikh Daud al-Fathani, Syaikh Ahmad Khathib as-Sambasi dan Syaikh Abdul Manan at-Tarmasi
1762 – 1796 Rusia menyerang wilayah Utsmaniyyah
1773 – 1789 Masa Khalifah Abdul Hamid I
1781 – 1801 Pengusiran Belanda dari Maluku dan sekitarnya oleh pasukan Sultan Nuku Amiruddin Tidore
1788 – 1810 Gerakan Su’udiyyah – Wahhabiyyah menyerang wilayah Utsmaniyyah, terutama Hijaz, Syam dan Irak atas arahan Inggris
1795 AS memasuki wilayah Utsmaniyyah di Afrika Utara dengan membayar cukai
1798 Perancis menyerang wilayah Utsmaniyyah di Mesir, lalu ke Syam
Era Kemunduran Khilafah

Abad 19
1800-an Awal kemunduran Khilafah Utsmaniyyah, yakni sejak masa Khalifah Salim III ibn Mushthafa III dan Khalifah Mushthafa IV ibn Abdul Hamid, bangsa Eropa memulai kebangkitan dengan ideologi Kapitalisme – Sekuler; diawali revolusi Perancis kemudian revolusi industri di Inggris
1807 Awal masa Muhammad Ali Pasya – antek Perancis menguasai Mesir dan Syam
1817 – 1886 Mufti Utsmaniyyah di Hijaz, Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan
1825 – 1830 Perang Jawa Kyai Abdul Hamid Diponegoro bersama Kyai Mojo (penerus sanad Syaikh Daud al-Fathani) dan Panglima Sentot Ali Pasya, yang terpengaruh militer Utsmaniyyah
1842 – 1850 Masa strategi Misionaris “gaya baru” yang lebih universal dan humanis, sehingga berhasil menarik minat kaum muslimin untuk memasukan anak – anaknya di sekolah mereka, terutama di Syam ataupun langsung di negeri mereka, terutama Inggris dan Perancis
1849 – 1932 Qadhi Utsmaniyyah di Syam dan Istanbul, Syaikh Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani
1849 – 1905 Tokoh Modernis Muhammad Abduh, murid Jamaluddin al-Afghani
1849 – 1850 Pengiriman surat Sultan Aceh Manshur Syah kepada Khalifah Abdul Majid I yang menyebutkan Sumatra dan Nusantara secara umum adalah bagian dari rakyat Utsmaniyyah
1855 Khalifah Abdul Majid I memulai era Tanzhimat atas tekanan Inggris dan Perancis “Dokumen Humayun”
1856 Khilafah Utsmaniyyah diterima oleh “Keluarga Internasional” di Eropa, dengan syarat meninggalkan politik luar negeri Islam
1857 – 1858 Upaya memasukan hukum Eropa melalui Undang – Undang (UU) dalam pidana serta keuangan dan perdagangan, pengiriman surat Sultan Riau – Lingga Ali ibn Ja’far dan Sultan Jambi Thaha Saifuddin kepada Khalifah Abdul Majid I supaya diakui sebagai rakyat Utsmaniyyah,
1865 – 1935 Pelanjut modernisme Abduh, Rasyid Ridha melalui al-Manar
1867 – 1958 Ulama Utsmaniyyah di Zaitunah – Tunis dan al-Azhar – Mesir, Sayyid Muhammad al-Khidhir ibn Husain
1870 Pengubahan peradilan menjadi 2 (dua) sistem: syari’yyah dan nizhamiyyah (sipil)
1876 – 1908/09 Masa Khalifah Abdul Hamid II
1876 Upaya memasukan hukum Eropa dalam Sistem Pemerintahan oleh Midhat Pasya “Qanus Asasi”, namun dibatalkan Khalifah Abdul Hamid II, penetapan al-Majallah untuk panduan muamalah secara syar’i, namun terpengaruh hukum Eropa
1877 – 1878 Penetapan Undang – Undang (UU) untuk peradilan sipil serta pemilikan dan pidana yang diadopsi dari hukum Eropa berdasar pada fatwa Syaikh al-Islam dan sebagian Ulama
1880-an – 1920-an Jaringan Ashabul Jawi, alumni Hijaz II: Syaikh Abdullah at-Tarmasi, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani, Syaikh Muhammad Shalih as-Samarani, Syaikh Mahfuzh at-Tarmasi, Syaikh Ahmad al-Khathib al-Mankabawi dan Syaikh Khalil al-Bankalani
1883 – 1924 Pembukaan Konsulat Utsmaniyyah di Batavia dan Singapura, sesuai putusan Khalifah Abdul Hamid II
1890-an Pengiriman kapal dakwah Ertugrul ke Jepang, pencegahan penghinaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melalui drama di Perancis dan Inggris oleh Khalifah Abdul Hamid II
1892 – 1902 Upaya Yahudi meminta izin membangun pemukiman di Palestina dan semuanya ditolak Khalifah Abdul Hamid II
Abad 20
1900 – 1916 Pembangunan dan pelayanan Jalur Kereta Api Hijaz atas perintah Khalifah Abdul Hamid II
1901 – 1905 Awal Pergerakan Islam: al-Jami’ah al-Khairiyyah di Jakarta, Sarekat Dagang Islam di Surakarta, kemudian menjadi Sarekat Islam (SI)
1908 – 1909 Jun Turkler (Turki Muda), Budi Utomo di Jakarta, Perhimpunan Indonesia di Belanda, Khalifah Muhammad V dan Trio Pasya: Enver, Tal’at dan Jamal
1911 – 1919 as-Salafiyyah di Sempur – Purwakarta, Muhammadiyyah di Yogyakarta, I’anah ath-Thalibin wa al-Masakin di Cianjur, al-Irsyad al-Islamiyyah di Jakarta, Jong Java dan Jong Sumatranen Bond di Jakarta, Indische Social Democratische Vereniging (ISDV) di Jakarta, Perserikatan Ulama di Majalengka, Mathlaul Anwar di Banten, Sumatera Tawalib di Bukittinggi
1916 Perjanjian Sykes (Inggris) – Picot (Perancis), yang memecah belah dunia Islam menjadi negara – negara bangsa (nation state)
1918 Akhir Perang Dunia I, Khilafah Utsmaniyyah terlibat dan kalah, akhir Sistem Khilafah
1922 – 1923 Jong Islamieten Bond di Jakarta, Persatuan Islam di Bandung
1924 Penghapusan nama Khilafah oleh Kamal Pasya – antek Inggris, Kongres al-Islam dan Komite Khilafah di Garut, Bandung dan Surabaya, Muktamar Khilafah di Mesir dan Hijaz; keduanya gagal oleh makar Inggris, Partai Komunis Indonesia (PKI) – Semaun, antek Uni Soviet
Era Pascakhilafah

1926 Nahdhatul Ulama di Surabaya
1927 Majelis Tarjih Muhammadiyyah di Pekalongan, Partai Nasional Indonesia (PNI) di Bandung
1928 Kongres Pemuda II – Sekuler, dilaksanakan oleh Perhimpunan Pelajar – Pelajar Indonesia (PPPI) dan dihadiri pemuda Islam “kaum modernis”: JIB, SI dan Muhammadiyyah
1930 Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) di Bukittinggi
1934 Persatuan Arab Indonesia (PAI) di Semarang
1942 – 1945 Masa Penjajahan Jepang, pembentukan Pembela Tanah Air (PETA), Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dan BPUPKI, perumusan Piagam Jakarta
1945 – 1948 Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, sidang PPKI, Pancasila dan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari, Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Sosialis/Front Demokrasi Rakyat (FDR) – Amir Syarifudin, pertempuran Surabaya, Medan, Bandung dan Ambarawa, Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), pembentukan Tentara Nasional Indonesia (TNI), kudeta PKI Madiun, Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) – Tan Malaka
Purwakarta, 30 Oktober 2021

