Sebagaimana kita ketahui bahwa setan merupakan makhluk terkutuk sekaligus musuh bagi manusia. Allah ciptakan setan dari golongan jin pada hakikatnya sebagai ujian dan pelajaran bagi manusia agar tidak terjerumus ke dalam sifat-sifat maupun perbuatan keji dan mungkar. Pasalnya, setan senantiasa menggoda manusia agar jatuh ke lembah kemaksiatan melalui bisikan-bisikan halus dan tersembunyi.
Dalam Alquran surah An-Nas, Allah mengajarkan manusia terutama hamba-hambanya yang beriman untuk senantiasa meminta perlindungan kepada-Nya, baik dari setan maupun manusia. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلََهِ النَّاسِ مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (Rob/yang memelihara) manusia, Raja manusia, Sembahan (Ilaah) manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia, dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Naas: 1-4)
Was-was dan Khannas
Dalam surah an-Nas ayat ke-4 Allah ta’ala berfirman,
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
“Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi.” (QS. An-Naas: 4)
Pada ayat di atas terdapat kata was-was yang berarti gerakan atau suara yang samar sehingga kita menjaga diri darinya. Was-was merupakan suatu gangguan yang masuk dalam jiwa. Gangguan ataupun godaan itu bisa berupa suara halus dan samar yang hanya didengar oleh orang yang digoda. Namun, adakalanya bisa juga tanpa suara seperti saat setan menggoda manusia. Adapun khannas adalah sifat sembunyi pada diri setan ketika kita berzikir mengingat Allah.
Dalam Al-Kalim Ath-Thayyib, Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa kita diperintahkan oleh Allah untuk berzikir. Fungsi zikir adalah seperti seseorang yang mengusir musuhnya dengan cepat. Sampai-sampai jika musuh itu datang pada benteng, ia akan terlindungi. Demikianlah fungsi zikir bagi diri. Diri seseorang akan semakin terlindungi dari setan hanyalah dengan zikir kepada Allah.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Jika keutamaan dzikir hanyalah ini, tentu seorang hamba akan terus membasahi lisannya dengan dzikir pada Allah Ta’aladan terus teguh dengan dzikir tersebut. Karena yang dapat melindunginya dari musuh (yaitu setan, pen.) hanyalah dengan dzikir. Musuhnya pun baru bisa menyerang ketika ia lalai dari dzikir. Musuh tersebut baru akan menangkap dan memburunya ketika ia lalai dari dzikir. Namun, jika dirinya disibukkan dengan dzikir pada Allah, musuh tersebut akan bersembunyi, menjadi kerdil dan hina. Sampai-sampai ia seperti burung pipit atau seperti lalat (binatang kecil yang tak lagi menakutkan, pen.). Karenanya setan memiliki sifat waswasil khannas. Maksudnya, menggoda hati manusia ketika manusia itu lalai. Namun, ketika manusia mengingat Allah, setan mengerut (mengecil).” (Al-Wabil Ash-Shayyib, hlm. 83)

