Momen terbaik untuk membentuk kebiasaan melakukan amal saleh adalah ketika bulan Ramadan. Kondisi lingkungannya sangat mendukung sekali, orang-orang punya cukup rasa malu untuk tidak menampakkan kemaksiatannya di depan umum.
Aktivitas syiar-syiar Islam juga bergerak secara serempak di manapun. Jadi, untuk memulai kebiasaan positif berupa amal saleh, tidak akan ada alasan untuk ragu dan menyalahkan lingkungan.
Tinggal kita melakukan mekanisme tertentu untuk memantau perubahan diri kita selama Ramadan, untuk tetap dijaga selepas Ramadan. Sebab amal saleh mudah sekali lepas setelah Ramadan, karena support systemnya tidak lagi berjalan seperti saat Ramadan.
1. Memilih Teman
Salah satu cara yang paling praktis untuk mendapatkan support system yang saleh, adalah dengan memilih teman.
Bagaimana dengan pernyataan yang mengatakan memilih teman itu tidak baik?
Konteksnya di sini adalah teman dekat yang bisa membantu kita untuk mendekat kepada Allah. Kalau tidak punya, maka kita akan lebih mudah terbawa arus. Sulit untuk berubah kalau lingkungan kita masih teman-teman yang belum tersentuh untuk mendekatkan diri pada Allah.
Adapun untuk aktivitas dakwah dan mengajak kepada Islam itu harus tetap dilakukan kepada teman-teman yang lama, karena mereka adalah orang yang harus kita selamatkan dari siksa api neraka. Demikian juga dari pemikiran sekularisme yang menjalar di dalam benak setiap manusia yang hidup hari ini. Kalau tidak ada aktivitas dakwah, mereka tidak akan terselamatkan dari kotornya sekularisme dan siksa neraka.
2. Mutaba’ah
Teman-teman ini yang akan melakukan kontrol terhadap amal saleh kita. Bukan riya’. Dalam konteks pelatihan kebiasaan untuk diri, penting untuk mengontrol amal saleh dan aktivitas kita untuk memastikan apakah kita masih berada dalam koridor keimanan atau tidak.
Jadi, ini merupakan hal yang wajar dalam konteks pendidikan, bukan untuk diumbar di depan umum.
Pola Pembentukan Kebiasaan
Setidaknya pola pembentukan kebiasaan itu ada 4 tahap: pemicu, kebiasaan, hadiah, dan hukuman.
Tinggal dibuat dalam bentuk kalimat untuk diafirmasi di setiap pagi hari setelah dzikir pagi.
Misalnya:
Setiap masuk dan keluar rumah, saya harus membaca doa, agar hati saya menjadi tenang dan mendapat cinta dari Allah. Jika tidak, berarti saya sudah melakukan kemaksiatan.
Setiap masuk dan keluar rumah adalah pemicunya. Membaca doa adalah kebiasaan yang ingin diterapkan. Ketenangan adalah hadiahnya.
Ketika lalai, berarti kita melakukan kemaksiatan. Itulah dosa yang kita dapatkan.
Sebetulnya pola pikir seperti ini sudah dilakukan oleh generasi terbaik umat ini. Hanya saja belum diteorikan. Hari ini kita menyusun pola pikir seperti ini dengan teori, agar lebih mudah dalam segi penerapannya.
3. Konsisten
Tinggal kita bertekad untuk konsisten. Ketika hendak melakukan suatu kebaikan, maka bertekadlah sebagai bentuk tawakkal kepada Allah. Dengan begitu Allah akan pelan-pelan memberikan hidayah-Nya. []
Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)

