Tanda diterimanya amalan seseorang selama Ramadan adalah adanya perubahan di dalam dirinya. Khususnya dengan amalan yang dia lakukan sepanjang Ramadan.
Di bulan selanjutnya, ia akan tetap menyempatkan dirinya melakukan amalan itu meski banyak aktivitas sekalipun.
Kunci dari perubahan mendasar untuk kehidupan selepas Ramadan adalah ikhlas dalam beramal, sungguh-sungguh dalam mengejar rida Allah, dan memahami betul bahwa cinta Allah adalah tujuan harga mati bagi kita. Persepsi yang demikian akan menimbulkan energi tersendiri ketika melakukan berbagai macam amalan saleh.
Selain itu, kalau amalan selama Ramadan diterima oleh Allah, maka ia akan merasakan kenikmatan ibadah yang tidak pernah dialami sebelumnya. Kalau sebelumnya pernah mengalami, maka kenikmatan itu bertambah, sehingga beramal itu menjadi sebuah candu yang membuat orang ketagihan, tapi tidak melemahkan mentalnya dalam berjuang menegakkan kalimat Allah.
Titik Renungan

Yang jadi pertanyaan buat kita adalah: apakah yang sudah kita lakukan selama Ramadan tahun ini maksimal? Tingkatan totalitas amalan kita selama Ramadan dapat mempengaruhi hasil yang didapat. Ini karena kita sedang berhubungan dengan Allah. Kalau energi kita dalam beribadah tidak total, maka Allah tidak akan menambahnya. Allah sangat menyukai orang yang mendekat kepada-Nya. Maka totalitas harus dikedepankan untuk mendapatkan cinta-Nya.
Bagian terpenting dari totalitas itu adalah kondisi hatinya, hadirnya hati. Sebab begitu banyak perbuatan yang tidak disertai kehadiran hati. Kelihatannya banyak, tapi ruhnya tidak ada. Menghadirkan ruh ini butuh ilmu, butuh refleksi, dan pemahaman mendalam. Kalau kita tidak pernah belajar, maka tahapan ini kita tidak sampai.
Ilmu dan Amal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2794983/original/022584500_1556855245-shutterstock_1084890311.jpg)
Amalan saleh itu akan maksimal kalau kita tahu ilmunya, secara lahir maupun batin. Secara teori maupun praktiknya. Keseimbangan antara materi dengan ruh inilah yang akan menghubungkan kita dengan Allah di setiap perbuatan kita. Meski tampaknya perbuatan tersebut sangat duniawi sekali, tapi dengan ilmu dan keikhlasan berburu rida Allah, maka nilainya di sisi Allah punya potensi untuk berubah menjadi urusan akhirat.
Sebagaimana konsep niat dan nilai perbuatan yang sudah pernah dibahas sebelumnya, itulah yang harus kita ulang-ulang supaya kesadaran kita dalam beramal selalu terhubung dengan Allah, sehingga setiap amalan yang terkesan duniawi pun akan menjadi bernilai cinta kepada Allah. []
Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)
