Pertolongan Allah itu dekat. Ketika kita taat kepada Allah, kemudian Allah meridai kita, maka potensi mendapatkan pertolongan itu selalu besar.
Ramadan adalah bulan yang menuntut kita melakukan ketaatan secara maksimal. Hidupnya suasana keimanan ketika Ramadan, membuat kita tersadar bahwa hidup di dalam lingkungan yang Islami tidaklah utopis sebagaimana yang digambarkan oleh orang-orang yang skeptis, apalagi mereka yang liberal.
Kaitan antara ketaatan dengan suasana keimanan di bulan Ramadan ialah pada semangat yang dihasilkannya. Ketaatan yang bertemu dengan suasana keimanan, akan terdorong melakukan berbagai amalan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Terlebih lagi kalau amalan yang belum pernah dilakukan itu adalah menjemput janji Allah akan kemenangan Islam.

Catatan sejarah menceritakan seraya meminta kita untuk merenung. Generasi sebelumnya berjuang untuk berdakwah dan menyebarkan Islam, di antaranya bahkan berjihad untuk menegakkan agama Allah. Tidak ada alasan lemas dan lapar ketika berpuasa. Bahkan bagi para ahli ibadah, keadaan berpuasa itu memberikan energi tersendiri ketika melakukan berbagai aktivitas di jalan Allah.
Inti berpuasa ialah mengendalikan hawa nafsu, bukan hanya haus dan lapar. Ketika hawa nafsu sudah dikendalikan, sudah ditaklukkan, maka ketika menjalankan berbagai perintah akan langsung bergerak dengan semangat, tanpa perlu diperdengarkan lagi imbalan-imbalan yang akan didapatkan ketika berbuat amalan tertentu.
Dari sini kita merefleksi, puasa kita tidak boleh dihabiskan dengan kelalaian, tapi melakukan berbagai macam amalan dengan semangat untuk mendapatkan cinta Allah. []

