Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mengajarkan kita agar senantiasa menjalin hubungan shilaturrahim. Dengan mempererat persaudaraan merupakan salah satu bentuk untuk menegakan kekuatan Islam. Namun sayangnya masih ditemui kesalahan memahami makna silaturahmi.
Berikut ini merupakan 3 hal yang ditemui akibat dari kesalahan memahami makna silaturahmi:
- Kesalahan Memahami Makna Silaturahmi: Perkumpulan yang Tidak Termasuk Silaturahmi

Cukup banyak yang masih melakukan kesalahan memahami makna silaturahmi, seperti menggunakan dalil silaturahmi untuk mendatangi acara reuni, kumpul rekan kerja dan semisalnya. Mereka meyakini jika acara-acara tersebut memiliki keutamaan memanjangkan usia, meluaskan rezeki, menjadi sebab masuk surga, yang merupakan keutamaan-keutamaan silaturahmi. Tentu ini tidak tepat.
Sebab pertemuan tersebut bisa saja dikunjungi oleh orang-orang yang tidak ada ikatan kerabat sama sekali.
“Banyak hadits yang menyebutkan tentang silaturahim. Silaturahim adalah istilah untuk perbuatan baik kepada karib-kerabat yang memiliki hubungan nasab, atau kerabat karena hubungan pernikahan, serta berlemah-lembut, kasih sayang kepada mereka, memperhatikan keadaan mereka. Demikian juga andai mereka menjauhkan diri atau suka mengganggu. Dan memutus silaturahim adalah kebalikan dari hal itu semua” (An Nihayah fi Gharibil Hadits, 5/191-192, dinukil dari Shilatul Arham, 5)
2. Kesalahan Memahami Makna Silaturahmi: Menjadi dalih untuk perbuatan yang dilarang agama

Kesalahan berikutnya yang sering dilakukan ialah menggunakan dalih silaturahmi untuk mengajak orang mendatangi acara karokean, merayakan ulang tahun seseorang, acara kumpul-kumpul bersama teman yang campur-baur antara lelaki dan wanita, dan sebagainya.
Padahal perbuatan-perbuatan tersebut dilarang oleh agama namun justru malah disamarkan dengan nama silaturahmi yang merupakan kebaikan. Tentunya menyatukan antara yang hak dan batil tidak akan mendatangkan keutamaan sebagaimana yang kita harapkan.
3. Kesalahan Memahami Makna Silaturahmi: Menjadi dalih tidak mau meninggalkan keburukan

Misalnya tidak mau meninggalkan teman-teman yang memberi efek buruk, seperti sering mengajak kepada maksiat dan hal-hal tidak bermanfaat lainnya. Dikalangan remaja yang sering ditemui ialah tidak mau berhenti pacaran dengan dalil bahwa “putus” dengan pacar itu berarti memutus tali silaturahim.
Tidak jarang juga sungkan menolak ajakan teman untuk nongkrong dan berfoya-foya karena dalih takut memutus tali silaturahim. Semua ini terjadi karena adanya kesalah-pahaman dalam memaknai dan mempraktekkan silaturahmi. Mereka mengira sedang ber-silaturahmi padahal tidak termasuk. Sehingga tidak berlaku perintah dan keutamaan-keutamaan silaturahim di dalamnya.
Meskipun bergitu, namun menjalin ikatan dengan sesama muslim yang tidak ada nasabnya atau bahkan nonmuslim sama sekali tidak dilarang. Sebab hal itupun bisa menjadi salah satu faktor yang mampu menumbuhkan kasih sayang dan menjauhkan dari berbagai prasangka buruk. Wallahu a’lam bishawab. []

