3. Bentuk Kepribadian Anak dengan Meneladani Rasulullah
Salah satu kewajiban utama bagi orang tua kepada anaknya adalah membentuk kepribadian (syaksyiyah) yang didasarkan pada akidah Islam dan taat aturan syariah Islam. Dengan pendekatan ini, akan melahirkan anak memiliki kepribadian yang mampu menaburkan rahmat bagi lingkunganya. Artinya, anak tidak akan tumbuh menjadi generasi radikal.
Memahamkan tingkah laku yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam kepada anak haruslah dengan bahasa ibu sebagaimana kita memberikan pemahaman akidah. Artinya, dengan suara hati agar anak tidak terdoktrin ketika menerima perubahan tingkah laku. Salah satu contohnya adalah dalam memahamkan hikmah shalat dengan menerjemahkan bunyi ayat “alfakhsya” dan “almunkar” yang artinya keji dan mungkar. Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa shalat mampu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. Namun, anak tentunya akan sangat sulit menerjemahkan kalimat tersebut dalam tingkah laku. Karena itu, kata fakhsya dan mungkar cukup diartikan “nakal”. Pasalnya, nakal merupakan kosa kata yang amat seram sekaligus sangat dibenci bagi anak.
Lantas, bagaimana pendekatan mengubah tingkah laku anak menuju keteladanan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam? Tak ada cara lain selain sebagaimana diterangkan dalam hadis riwayat Aisyah r.a. bahwa akhlak Rasulullah adalah Alquran.
Dalam hal ini Alquran yang merupakan bagian dari perwujudan akhlak Rasulullah menerangkan perihal tata cara atau langkah-langkah proses pembentukan tingkah laku anak sebagai berikut.
A. Bersykur kepada Allah dan Banyak Berterima kasih kepada Kedua Orang Tua
Sudah sewajibnya orang tua atau guru memberikan pemahaman kepada anak tentang bagaimana kehidupan pra kelahiran. Artinya, anak harus memahami bahwa ada pra kalahiran, yakni ketika anak masih di alam janin saat ia dikandung oleh sang ibu selama 9 bulan lebih. Saat mengandung, sang ibu mengalami kondisi badan yang lemah, jalan teratih-atih karena memilik beban kandungan yang harus dijaganya dengan hati-hati.
Begitupun dengan sang ayah yang merawat, melindungi, dan menjaga sang ibu agar tetap tabah, sabar, dan penuh keikhlasan bahwa kehamilan merupakan anugerah dari Allah. Maka dari itu, Allah Ta’ala mewajibkan kepada manusia (usia anak) khususnya agar memiliki tingkah laku yang penuh bersyukur kepada Allah dengan jalan bertingakah laku sopan santun dan patuh atas segala apa yang ditetapkan Allah dan diajarakan orang tua.
B. Bertingkah laku Sabar
Sabar adalah satu sifat dan sikap bertingkah laku terpuji manusia. Karena itu, sabar harus ditanamakan sebagai sifat bertingkah laku terpuji semenjak dini kepada anak.
Salah satu motivasi maupun stimulus agar anak bertingkah laku sabar di antaranya dengan menjelaskan peranan ibadah salat lima waktu dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah shalat sejatinya membentuk manusia bertingkah laku sabar. Sabar dalam menerima kewajiban, sabar dalam memelihara waktu, dan sabar dalam memelihara dari hal-hal yang membatalkan shalat.
C. Berperangai Ramah kepada Sesamanya
Sejak usia dini, anak harus dibina agar memiliki tingkah laku yang berperangai ramah terhadap lingkungan, baik kepada manusia, alam, maupun kehidupan lainnya. Allah telah menyeru Rasulullah shalallahu alaihai wa sallam agar tidak memalingkan raut wajahnya dari pandangan manusia saat berjumpa (QS. Luqman: 19).
Adapun yang termasuk sikap perangai ramah kepada sesamanya di antaranya sebagai berikut.
- Tidak membuang muka ketika berjumpa dengan sesamanya.
- Tidak sombong, artinya di tengah pergaulan bersama teman-temannya maupun di tengah masyarakat tidak melanggar aturan yang ditetapkan Allah dan dicontohkan Rasulullah. Contohnya, ketika berjalan tidak menggangu orang lain dan tidak menampilkan perlaku yang membuat orang lain berburuk sangka.
- Ketika berbicara di muka umum tidak menggunakan suara lantan, tetapi suara yang menyejukkan hati sesamanya. Dengan kata lain, bahasa yang digunakan tidak menyinggung perasaan orang lain.
- Patuh terhadap orang yang memberikan informasi kebenaran, benar menurut Alquran maupun as sunah.

