mafatih.or.id
  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog
2 Mei 2022 by Qoryah Quran Mafatih

Niat dan Kedudukannya dalam Islam

Niat dan Kedudukannya dalam Islam
2 Mei 2022 by Qoryah Quran Mafatih

Niat secara bahasa artinya tujuan. Niat dari suatu amalan adalah apa yang ingin kita capai dari amalan yang dimaksud.

Niat segala sesuatu harus ditujukan kepada Allah. Untuk merincinya, maka harus ada pembahasan tentang nilai perbuatan yang ingin dituju.

Nilai Perbuatan

Nilai perbuatan ada 4: materi (madiyah), spiritual (ruhiyah), kemanusiaan (insaniyah), dan akhlak (khuluqiyah).

Segala sesuatu perbuatan yang berpotensi menghasilkan harta nilainya adalah materi. Jadi, semisal pekerjaan dan aktivitas jual beli, nilai yang dituju adalah materi. Adapun kalau mau diniatkan kepada Allah, maka harus dilandasi kesadaran, bahwa dalam pekerjaan sekalipun ada adab yang harus dipenuhi, dan hukum yang harus ditaati. Selain itu, juga harus sadar bahwa bekerja dan berniaga adalah cara untuk menjemput rezeki dari Allah yang sudah Dia janjikan

Setiap amal saleh nilainya adalah spiritual. Jadi perbuatan seperti salat, zakat, puasa, haji, infak, sedekah, berbakti pada orang tua, dan berdzikir, nilainya adalah spiritual, yaitu kedekatan dengan Allah dan cita rasa cinta kepada-Nya. Ini harus dibulatkan niatnya karena Allah semata-mata untuk berharap cinta dan rida-Nya, dan tata caranya harus sesuai dengan apa yang sudah diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan dikodifikasi oleh fikih.

Setiap hubungan dengan manusia dan makhluk bernyawa lainnya nilainya adalah kemanusiaan. Jadi berhubungan baik dengan tetangga, toleransi beragama, saling tolong menolong dalam kebaikan, dan menyelamatkan makhluk bernyawa dari bahaya, nilainya adalah kemanusiaan. Ini harus dilandasi kesadaran tauhid, bahwa mereka semua adalah makhluk Allah yang harus dikasihi dan dicintai. Cinta ini melihat fisiknya, bahwa mereka adalah makhluk Allah, sempurna di mata manusia secara penciptaan ataupun tidak, karena semua makhluk Allah yang memiliki hak untuk disayangi. Ini pun batasannya sudah ditentukan oleh Allah dan harus diikuti. Ada orang yang tidak bisa diperlakukan baik-baik, seperti kafir harbi. Ada pula hewan yang justru dianjurkan untuk dibunuh, seperti ciciak, kalajengking, dan ular. Jadi, tidak lepas dari tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan diri sendiri nilainya adalah akhlak. Artinya menghiasi diri dengan adab-adab Islam adalah nilai akhlak. Ini berbeda dengan moral dan etika. Moral adalah standar kebenaran perilaku manusia yang ditentukan oleh akal manusia, sedangkan etika masih dirinci lagi pada ruang dan waktunya. Orang yang berprofesi sebagai pramuniaga tidak akan seramah di tempat kerja ketika sudah masuk ke lingkungan pribadinya.

Sedangkan akhlak adalah hukum syara. Teknis rincian terkait ruang dan waktu disebut dengan adab. Keduanya landasannya adalah hukum Islam.

Nilai Perbuatan Tidak Boleh Tertukar

Nilai perbuatan tidak boleh tertukar, karena berpotensi tidak dianggap oleh Allah. Selain itu, kita yang melakukannya juga berpotensi untuk tidak istiqamah dalam melaksanakan amal. Kalau tujuannya berhasil akan terhenti, kalau tidak berhasil akan terhenti juga.

Ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, infak, sedekah, dan dzikir, harus diniatkan dan ditujukan karena Allah semata. Kalau ditujukan untuk mendapatkan harta, maka bisa berhenti di tengah jalan ketika berhasil atau gagal dalam mencapai tujuan harta yang dicari.

Perbuatan yang nilainya materi tidak bisa ditujukan untuk kemanusiaan. Seperti berjual beli, akadnya harus murni jual beli. Jika diberikan secara cuma-cuma karena iba, tidak akan mendapatkan untung. Kalau ingin memberi, maka harus dijual aktivitas jual beli. Sekalipun jual belinya itu untuk keperluan sosial, maka harus tetap mendapatkan untung. Keuntungan itulah yang disumbangkan untuk keperluan sosial.

Menghiasi diri dengan adab Islam juga tujuannya adalah menerapkan akhlak, sedangkan akhlak itu syariat yang kalau dilaksanakan akan mendapatkan cinta dari Allah. Kalau diniatkan untuk mendapatkan pekerjaan, atau membiasakan diri dengan kehidupan pekerjaan, maka akan seperti meniatkan sedekah untuk kelipatan harta: kalau berhasil berhenti, kalau tidak berhasil juga berhenti.

Perbuatan yang berhubungan dengan kemanusiaan harus murni dengan tujuan kemanusiaan. Misalnya meminjamkan uang, murni karena empati. Kalau dibuat bisnis, malah jadi zalim. Demikian dengan membayarkan orang ke rumah sakit, harus karena empati. Kalau dibuat bisnis, akan menemui banyak masalah.

Tidak Ada yang Lebih Utama

Di antara nilai perbuatan itu tidak ada yang lebih mulia di atas yang lain, semuanya sama mulianya. Sebab, kalau meletakkan derajat amal tertentu di atas atau di bawah yang lain, maka berpotensi meremehkan amal. Selain itu, derajat keutamaan amal itu secara hakikat hanya Allah yang tahu.

Maka orang yang sering salat berjamaah tepat waktu, tidak boleh mengejek orang yang sedang bekerja hingga dalam waktu kerjanya itu seringkali tidak bisa salat berjamaah di awal waktu. Tidak boleh juga orang yang banting tulang bekerja kemudian merendahkan orang yang senang menegakkan sunnah dalam kehidupannya sementara dia masih bekerja, terlebih kalau yang dilakukan itu ibadah tathawwu’ (ibadah sunnah seperti salat sunnah dan puasa sunnah).

Kaidah Perbuatan

Kaidah dalam melakukan perbuatan, sadar atau tidak sadar ada 3 tahapan proses:

  1. Dilakukan dengan sadar. Segala sesuatu yang dilakukan dengan tidak sadar berpotensi besar melakukan maksiat dan mudarat. Misalnya mengambil keputusan dalam keadaan marah atau mabuk. Berapa banyak orang yang membunuh orang lain karena marah dan mabuk?
  2. Memiliki nilai yang dituju. Yaitu yang sudah disebutkan sebelumnya (materi, spiritual, kemanusiaan, dan akhlak).
  3. Dilandasi keimanan. Aktivitas mubah selama dilandasi dengan niat mendekat kepada Allah dan dilakukan menurut tuntunan syar’i, maka akan mendapatkan kebaikan di sisi Allah. Pada faktanya aktivitas seharian yang mubah itu sangat banyak sekali, kalau tidak dilandasi keimanan rugilah kita.

Kedudukan Niat

Niat terhadap segala yang kita lakukan adalah kesadaran kita bahwa cinta dan rida Allah saja yang kita tuju. Tidak ada yang lain. Kesadaran inilah yang menjadi ruhnya.

Sedangkan amalan adalah materi, jadi punya sasarannya sendiri. Seperti bekerja. Meski diniatkan untuk ibadah, secara realistis aktivitas bekerja pasti menjadi kausalitas datangnya harta.

Menolong orang lain karena kemanusiaan juga adalah upaya mewujudkan rasa empati dalam diri. Jika diniatkan karena Allah, maka akan mendapat kebaikan dari Allah.

Menghiasi diri sendiri dengan adab juga bagian dari naluri manusia terhadap kebenaran yang ingin direalisasikan. Kalau ini diniatkan karena Allah, maka akan mendapatkan kebaikan dari Allah.

Nilai spiritual itu jelas tujuannya karena Allah, kalau tidak begitu, ibadahnya tidak akan diterima.

Previous articleMenjalankan Konsep Islam dengan TobatNext article Ikhlas dalam Amal

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About The Blog

Nulla laoreet vestibulum turpis non finibus. Proin interdum a tortor sit amet mollis. Maecenas sollicitudin accumsan enim, ut aliquet risus.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Tag

adab AGEN OF CHANGE ajal alquran anak anak saleh bahaya utang dakwah fidyah hafiz ibadah ibadah puasa ibadah ramadan idul fitri ilmu islam kematian kenakalan anak keutamaan ramadhan komunikasi anak lisan mendidik anak nasihat nasihat lukman pemuda pendidikan pendidikan anak pendidikan islam penghafalAlquran pesantren puasa puasa ramadan puasa syawal Ramadan ramadhan remaja remajaislam rezeki santri saum ramadan sekuler sukses syawal utang ZAKAT

Yuk! Raih Kemuliaan bersama Pesantren Al-Qur’an Mafatih, Melahirkan Khadimul Al-Qur’an ( Para Penghafal Al-Quran, Dai dan Guru Al-Quran) untuk Indonesia.

Tentang Kami

  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog

HUBUNGI KAMI

+62812-8639-653

Alamat kami

Legokhuni, Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41174

About This Sidebar

You can quickly hide this sidebar by removing widgets from the Hidden Sidebar Settings.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org