Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus dihidupkan, dibiarkan membara, namun harus tetap menyejukkan, seperti api yang tidak bisa membakar Ibrahim ‘alaihissalam.
Bukti Cinta
Bukti cinta adalah amal. Seluruh amal saleh yang kita lakukan adalah cara kita membuktikan cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Amalan itu sendiri yang akan menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Hanya dengan itulah manisnya iman bisa terasa.
Kata tidak pernah berhasil mendefinisikan rasa, apalagi manisnya iman dan cinta kepada Allah. Hanya dengan amalan saleh yang dirutinkanlah kita benar-benar bisa memahami maksudnya. Kesejukan dalam hati itu memiliki makna dan pengalaman spritual yang tidak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Menjaganya Tetap Hidup
Api cinta dinyalakan dengan makrifat. Sedangkan makrifat itu didapat melalui ilmu tauhid. Kemudian ilmu tauhid itu sempurna dengan kesadaran akal dan pembenaran yang bulat dan pasti. Diekspresikan dengan amal saleh yang istiqamah setiap waktu.
Demikian cara untuk menjaga api cinta tetap hidup. Biarkan ia membara agar tetap ada semangat dalam beribadah dan menegakkan agama.
Turunan Cinta
Ada atau tidaknya cinta bisa dilihat dari 4 perkara:
- Rasa harap (raja’) ingin dibalas
- Rasa takut (khauf) kehilangan
- Tidak suka kalau yang dicintai disakiti disertai cemburu yang begitu kuat jika ada yang mencoba mendekat lebih dari kita (ghirah)
- Rindu yang sangat kuat (isyq)
Seluruhnya merupakan rasa yang harus ada pada diri seorang hamba kalau ingin merasakan hakikat kenikmatan ibadah yang tidak bisa dirasakan orang lain. []

