Ketika kita berhasil menekan hawa nafsu kita, penyakit hati yang tidak berguna bagi kita, itulah saat di mana kita berusaha kembali ke titik nol.
Titik nol di sini adalah kondisi di mana kita tidak memiliki perasaan yang salah pada Allah maupun pada manusia. Perasaan yang salah itu disebut dengan penyakit hati.
Merasa bahwa Allah jauh, tidak membantu sama sekali, malah membebani kita, itulah yang dibersihkan dari hati dan pikiran kita. Atau merasa butuh terhadap pengakuan manusia, pujian dan sanjungan, iri terhadap apa yang mereka dapatkan, mendengki sampai ingin muntah kalau melihat orang bahagia, dan merasa perlu untuk menggali lebih dalam aib apa saja yang orang miliki.
Kalau hati bersih dari perkara-perkara ini, tujuan berpuasa sudah berhasil. Imam al-Ghazali membagi jenis puasa berdasarkan praktik pengamalannya menjadi 3:
Puasa umum, ialah puasa orang yang hanya menahan lapar dan haus saja.
Puasa khusus, ialah puasa orang yang hati dan fisiknya dijaga dari kejahatan hawa nafsu dan maksiat, disamping juga menahan lapar dan haus.
Puasa khusus di atas khusus, ialah puasanya para nabi dan wali Allah, yang menahan diri dari sikap lalai terhadap Allah. Bisa berupa bersitan pikiran yang tidak perlu, maupun ibadah yang tidak ikhlas karena-Nya.

Orang bilang untuk mencapai yang ketiga itu tidak mungkin. Tapi dalam konteks optimisme, memasang target menjadi manusia dengan tipe puasa ketiga harus diterapkan. Sebab, dengan cara pandang seperti itulah kita bisa mencapai titik nol. Titik di mana kita merasa tidak berarti apa-apa kecuali Allah yang sudah membuat kita berarti. Titik di mana kita berhasil menahan segala macam kemaksiatan hati dan fisik, sampai kita paham bahwa Allah adalah cinta yang kita tuju.
Cara pandang seperti ini mesti jadi motivasi buat kita untuk memanusiakan diri, yaitu manusia yang digambarkan oleh Allah pertama kali sebagai makhluk yang paling sempurna dan kemuliaannya bisa melebihi malaikat ketika sangat taat. Manusia adalah masterpiece Allah, jika manusia berhasil menghilangkan hambatan kemaksiatan hati dan fisik.
Alasan Rasional
Alasan yang paling masuk akal untuk kembali ke titik nol kemaksiatan adalah karena keengganan kita memberi makan iblis dengan jiwa-jiwa kotor kita. Jiwa-jiwa kotor yang dekil dengan kemaksiatan itu menjadi kesenangan tersendiri bagi iblis karena berhasil menggoda manusia dan mendapatkan teman. Karena iblis adalah musuh yang nyata, kita melawannya dengan membuatnya tidak puas dengan hati kita yang sudah dibersihkan dari perkara yang tidak perlu.
Dermawan kepada iblis adalah kejahatan di sisi Allah. Mutlak untuk kita hindari. Cinta iblis tidak akan memberikan kebaikan apapun kepada kita. Cintanya adalah cinta palsu yang tidak memberikan ketenangan, tidak mendapat kenikmatan apapun, dan tidak menumbuhkan kerinduan apapun.
Tidak ada orang yang berbunga-bunga hatinya ketika melakukan kemaksiatan. Meski tampak bahagia di dalam mereka rapuh, banyak penyesalan, dan merasa hampa.
Menghindarinya adalah solusi keselamatan buat kita. Rutinkanlah membersihkan hati dari bercak-bercak hitam sisa kemaksiatan dengan taubat dan memohon ampunan dari Allah. []
Oleh: Ustaz Alvy Rizqy Pratama (Pengajar di Pesantren Mafatih Purwakarta)
