Oleh: Muhammad Zakaria Abdurrahman Sofyan (Santri Kelas 12 SMA Pesantren Mafatih Purwakarta)
Belajar atau menuntut ilmu adalah suatu hal yang harus dilakukan bahkan menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Pasalnya, kebodohan adalah bencana terbesar bagi setiap orang atau bahkan bagi setiap bangsa. Apabila suatu bangsa bodoh, bangsa itu akan terjajah.
Namun, pertanyaannya ketika banyak orang pintar yang lahir di suatu bangsa, apakah bisa menjamin bangsa itu akan maju? Pada faktanya justru orang-orang pinter lah yang menjadi sebab terjajahnya atau tidak berkembangnya suatu negara. Contohnya, koruptor apakah mereka orang bodoh? Tentu tidak mungkin, pasti minimal mereka adalah lulusan sarjana atau mungkin ada yang sudah sampai S2, S3.
Beberapa tahun ke belakang ada berita yang tersebar bahwa ada seorang doktor yang ingin menghapus 300 ayat yang ada di dalam Alquran. Sang doktor menganggap ayat-ayat tersebut sudah tidak relevan. Ada juga seorang doktor yang mengatakan bahwa zina itu halal. Bahkan, ada juga seorang rektor yang melarang mahasiswinya untuk berhijab dan masih banyak lagi orang-orang pintar yang keblinger dengan kepintarannya sendiri.
Oleh karena itu, apakah menjadi orang pintar adalah tujuan yang sebenarnya dari belajar atau menuntut ilmu? Dari fakta-fakta yang telah terjadi, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa menjadi pintar bukanlah tujuan dari belajar itu sendiri dan menjadi bodoh juga bukanlah pilihan yang layak diambil.
Memang benar bahwa kita harus menjadi orang pintar atau orang yang cerdas, tetapi siapakah atau seperti apakah orang itu bisa disebut sebagai orang yang cerdas? Apakah orang yang banyak ilmunya yang sudah belajar ke luar negeri bertahun-tahun? Namun, nyatanya banyak orang cerdas atau pintar mereka justru menggunakan kepintarannya untuk menipu orang demi keuntungan mereka sendiri.
Menurut pandangan Islam orang yang cerdas adalah orang yang mengetahui bahwa ada kehidupan akhirat setelah kehidupan dunia lalu ia mempersiapkan dirinya. Selama hidupnya ia senantiasa berusaha mengumpulkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kehidupan dunia. Maksudnya adalah orang yang cerdas itu mempunyai cara pandang berbeda karena tingkat berpikirnya sudah lebih tinggi. Hal itu erat kaitannya dengan ideologi sehingga ideologi inilah yang mengarahkan seseorang ke jalan yang benar. Alhasil ia pun akan menggunakan ilmunya sesuai pada tempatnya, yakni sesuai dengan apa-apa yang diridhoi oleh Allah Tuhannya. Dengan ilmu yang bermanfaat tersebut ia pun mengetahui batasan-batasan yang tidak boleh ia langgar maka demikianlah orang yang disebut dengan orang yang cerdas.

