mafatih.or.id
  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog
25 Juli 2022 by Qoryah Quran Mafatih

Tuhan Bukan Imajinasi

Tuhan Bukan Imajinasi
25 Juli 2022 by Qoryah Quran Mafatih

Banyak orang di muka bumi, terutama di dunia Barat, meyakini dan mengimani Tuhan, namun keyakinan dan keimanan mereka dibangun dengan asusmsi Tuhan itu suatu ide dan bukanlah suatu kenyataan.

Kalangan ini berpandangan, iman kepada eksistensi Tuhan, berarti iman kepada ide ketuhanan, suatu ide yang menurut mereka bagus. Karena selama manusia berimajinasi, meyakini dan pasrah pada pengaruh ide tersebut, maka manusia akan menjauhi keburukan dan mendekati kebaikan akibat dorongan ide itu. Artinya terdapat suatu pengaruh internal yang lebih kuat dari pengaruh eksternal.

Karena itu, kalangan ini berpandangan, beriman kepada Tuhan suatu keharusan dan memotivasi beriman kepada-Nya juga keharusan, agar manusia secara sukarela senantiasa terdorong berbuat baik akibat motivasi internal yang disebut “pengaruh spiritual”.

Kalangan ini sangat mudah terjerumus ateisme dan sangat gampang murtad dari keimanannya, hanya karena akalnya terdorong berpikir menjangkau eksistensi ide ketuhanan tersebut. Jika akalnya belum mampu menjangkau eksistensi dan belum mampu menyadari bukti eksistensi ide itu, maka mereka segera mengingkari wujud Tuhan dan kufur terhadap Allah.

Lebih parah lagi, kepercayaan bahwa Tuhan itu sekedar ide dan bukan kenyataan, akan menjadikan kebaikan dan keburukan juga hanya sekedar ide dan bukan kenyataan. Sehingga manusia melakukan suatu perbuatan sebatas ide kebaikan yang dia imajinasikan dan meninggalkan suatu perbuatan sebatas ide keburukan yang dia imajinasikan pula.

Penyebab kalangan tersebut memiliki keimanan seperti itu, karena akalnya tidak digunakan untuk mengimani Allah. Mereka tidak mendapatkan petunjuk secara rasional untuk menjawab masalah besar yang muncul dari pertanyaan alami seputar alam semesta, manusia dan kehidupan, beserta apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan dunia, serta mengenai hubungan ketiganya dengan apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan dunia.

Mereka hanya menerima jawaban yang diinginkan pihak pendiktenya, sehingga pasrah dengan jawaban tersebut dan tetap setia tanpa mau memahami eksistensi yang diimani berdasarkan indranya. Banyak pula di antara mereka yang berusaha menggunakan akalnya, sayang jawabannya menganggap agama itu diluar nalar serta dipaksa diam alias tidak kritis.

Fakta yang sebenarnya, Allah itu nyata dan bukanlah sebuah ide, lalu eksistensi-Nya terjangkau dan terindra, meskipun substansi-Nya mustahil dipahami. Perhatikanlah, saat berada di suatu ruangan, manusia mendengar suara pesawat di angkasa yang tidak kelihatan. Meski begitu, dengan suara yang terindra, manusia memahami keberadaan pesawat meski tidak mampu melihat dan mengindra substansinya. Artinya, manusia meyakini eksistensi pesawat di angkasa dari suara yang terdengar, yakni membenarkan mengenai keberadaan pesawat dengan keyakinan yang pasti.

Begitulah, memahami keberadaan pesawat berbeda dengan memahami substansi pesawat terbang tadi. Memahami substansinya tidak akan terjangkau, sebab substansinya tidak bisa terindra. Sedangkan memahami keberadaan pesawat adalah kepastian berdasarkan pengindraan terhadap suara pesawat tersebut. Jadi eksistensi pesawat itu nyata dan bukanlah suatu ide.

Demikian pula, berbagai benda yang terjangkau indra, eksistensinya merupakan hal yang pasti, karena bisa disaksikan dan terindra. Sifatnya membutuhkan kepada yang lain merupakan hal yang pasti, karena bisa disaksikan dan terindra. Jadi, berbagai benda langit membutuhkan suatu sistem orbit. Api hingga bisa membakar juga memerlukan orang yang menyulutnya. Begitulah segala sesuatu yang terjangkau indra, membutuhkan kepada yang lain.

Sesuatu yang membutuhkan yang lain, pasti bukan sesuatu yang azali, sebab bila bersifat azali (tiada awal dan tiada akhir) seharusnya tidak butuh kepada yang lain. Maka sifatnya yang membutuhkan yang lain ini, bermakna sesuatu tadi bukanlah azali. Karena itu, realitas segala sesuatu yang terjangkau dan terindra, secara pasti semuanya adalah makhluk alias diciptakan.

Pengindraan terhadap segala ciptaan sebagaimana pengindraan terhadap suara pesawat, adalah perkara yang pasti. Eksistensi sang Pencipta bagi ciptaan yang berasal dari-Nya ini, semisal eksistensi pesawat yang mengeluarkan suara, merupakan perkara yang pasti. Jadi eksistensi sang Pencipta bagi makhluk ciptaan, merupakan perkara yang pasti juga.

Manusia dengan indra dan akalnya sanggup memahami segala ciptaan. Melalui pengindraan terhadap segala ciptaan tadi, manusia mampu memahami dengan pasti eksistensi Sang Pencipta. Jadi, eksistensi Sang Pencipta adalah nyata, manusia melalui pengindraan bisa menemukan eksistensi-Nya, dan Dia bukanlah ide imajinasi dalam benak manusia.

Secara nalar, Sang Pencipta ini harus azali, karena andai tidak bersifat azali, maka pasti membutuhkan kepada yang lain, bila demikian berarti Dia makhluk alias ciptaan.

Karena alam nyata ini tidak bersifat azali, sebab perlu berjalan sesuai aturan dan kondisi tertentu yang tidak bisa dilampauinya, yang artinya alam ini membutuhkan aturan dan kondisi tersebut. Demikian pula, materi tidak bersifat azali, sebab membutuhkan yang lain, karena hanya bisa berubah dari satu bentuk menuju bentuk lainnya, melalui peningkatan kuantitas dan aturan tertentu, serta hanya bisa terikat pada aturan dan ukuran kuantitas tadi, yang artinya materi itu membutuhkan yang lain.

Jadi, alam nyata ini bukanlah Sang Pencipta, sebab tidak azali dan tidak qadim. Begitu juga materi bukanlah Sang Pencipta, sebab tidak azali dan tidak qadim. Maka pastinya Sang Pencipta hanyalah Allah ta’ala. Artinya: zat azali dan qadim yang orang namai dengan Allah, God, Tuhan dan berbagai nama semisal yang menunjukkan sebutan yang sama, maksudnya adalah Allah, yaitu Sang Pencipta yang azali dan qadim.

Kesimpulannya, Allah itu nyata, eksistensi-Nya bisa dijangkau indra melalui keberadaan berbagai ciptaan-Nya. Ketika manusia takut kepada Allah, sebenarnya ia takut kepada zat yang nyata adanya, yang eksistensi-Nya bisa dijangkau indra. Tatkala manusia menyembah Allah, sebenarnya ia menyembah kepada zat yang nyata adanya, yang eksistensi-Nya bisa dijangkau indra. Demikian juga, ketika memohon keridha’an Allah, sebenarnya ia memohon keridha’an zat yang nyata adanya, yang eksistensi-Nya bisa dijangkau indra. Karena itu manusia takut kepada Allah, menyembah dan memohon keridha’an-Nya dengan yakin, tanpa ada sedikitpun keraguan. Wallahu a’lam. (Disadur dari: Syaikh M. Muhammad Ismail, al-Fikr al-Islami, 1985, h. 9-12).

Ustaz Yan S. Prasetiadi
25 Dzulhijjah 1443 H

Previous articlePerjuangan Dakwah Nabi Nuh A.S.Next article Isi Kandungan Surah Al Kautsar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About The Blog

Nulla laoreet vestibulum turpis non finibus. Proin interdum a tortor sit amet mollis. Maecenas sollicitudin accumsan enim, ut aliquet risus.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Tag

adab AGEN OF CHANGE ajal alquran anak anak saleh bahaya utang dakwah fidyah hafiz ibadah ibadah puasa ibadah ramadan idul fitri ilmu islam kematian kenakalan anak keutamaan ramadhan komunikasi anak lisan mendidik anak nasihat nasihat lukman pemuda pendidikan pendidikan anak pendidikan islam penghafalAlquran pesantren puasa puasa ramadan puasa syawal Ramadan ramadhan remaja remajaislam rezeki santri saum ramadan sekuler sukses syawal utang ZAKAT

Yuk! Raih Kemuliaan bersama Pesantren Al-Qur’an Mafatih, Melahirkan Khadimul Al-Qur’an ( Para Penghafal Al-Quran, Dai dan Guru Al-Quran) untuk Indonesia.

Tentang Kami

  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog

HUBUNGI KAMI

+62812-8639-653

Alamat kami

Legokhuni, Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41174

About This Sidebar

You can quickly hide this sidebar by removing widgets from the Hidden Sidebar Settings.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org