Setiap orang tua selalu mengharapkan anaknya menjadi anak yang sholeh. Tetapi seringkali harapan itu tinggal harapan karena kandas tidak sampai kepada tujuan yang diharapkan. Seringkali orang tua berdoa, “ya Allah jadikan anak kami menjadi anak yang sholeh,” tetapi hanya berhenti sampai pada doa tidak melanjutkan upaya berikutnya yaitu membimbing anak memiliki dasar-dasar kesadaran untuk menjadi anak sholeh.
Orang tua juga tak sedikit yang acapkali mengarahkan anaknya atau gurunya agar anak didiknya menjadi anak yang baik (soleh). Namun banyak diantara mereka tidak memahami bagaimana mewujudkan harapan itu menjadi kenyataan. Persoalannya yakni tidak memahami makna hakikat sholeh itu sendiri.
Sholeh adalah bahasa Arab bahasa alquran dan bahasa hadits. Banyak ayat yang menyebutkan “ya ayyuhalladzina amanu wa amilus sholihati (hai orang-orang yang beriman dan beramal sholeh)”. Artinya, tingkat Soleh itu harus berada pada tingkat orang yang beriman (mukmin). Maka dari itu, untuk memiliki anak yang Saleh itu sama dengan mengubah potensi anak dari tidak tahu (jahl) menjadi tamyiz yaitu mampu memisahkan antara yang haq dan bathil yang haram dan yang halal dan yang terpuji maupun yang tercela.

Anak yang mampu membedakan seperti itu hanya anak yang dibimbing dengan perubahan-perubahan sebagai berikut.
- Anak yang diubah potensi dirinya, baik pemikirannya maupun tingkah lakunya dengan aqidah Islam yang benar dan anak menerima dengan kesadaran yang tinggi. Maksudnya, kesadaran yang ada dalam dirinya dan yang tumbuh dengan hasil perbuatan itu (tidak ada doktrin ideologi).
- Anak didik dalam pendidikan Islam, yaitu sistem pendidikan yang mengacu pada sistem pendidikan ideologis. Ciri sistem pendidikan ideologis meliputi dua hal:
a) anak dibimbing dengan kematangan berpikir tentang akidah dan Syariah baik hubungannya dengan ibadah maupun aktivitas di tengah keluarga, lingkungan teman, masyarakat, maupun nantinya di kancah politik, hukum, dan negara.
b) anak memiliki kemampuan ilmu kehidupan yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai asas untuk menuju kemandirian hidup tanpa bersandar pada orang lain.
Kesadaran anak agar menjadi anak yang sholeh tentu sangat bergantung pada apakah orang tuanya mampu mewujudkan atau tidak. Karena itu, kesadaran anak menjadi anak yang soleh harus diawali oleh kesadaran kedua orang tua menjadi orang tua yang sholeh pula. Drajat Saleh bukan hanya dialamatkan pada anak seperti di lingkungan masyarakat Indonesia, melainkan derajat saleh wajib dimiliki oleh setiap manusia karena itu adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala.
Perlu dikemukakan bahwa kesadaran menjadi anak yang sholeh atau orang tua yang sholeh adalah merupakan kesadaran bersyariah Islam. Pasalnya, menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangannya merupakan perwujudan tingkah laku orang beriman dan beramal sholeh.

Nah kini yang menjadi persoalan bagi orang tua adalah bagaimana mendidik anak memiliki kesadaran bersyariah Islam? Dengan begitu anak akan menjadi anak yang sholeh yang patuh terhadap segala perintah Allah dan menjauhi larangannya juga tidak menjadi generasi umat yang radikal.
Menjadi anak yang berkesadaran terhadap syariah Islam itu sebuah tingkatan tingkah laku yang tinggi yang wajib dimiliki oleh setiap anak dan orang tua. Karena kesadaran bersyariah Islam merupakan kesadaran yang pasti yang menjadi tugas sebagai seorang hamba manusia kepada penciptanya yakni Allah subhanahu wa ta’ala.
Sumber:
El Moekry, Mukhotim. 2004. Membina Anak Berakidah Islam. Jakarta: Wahyu Press

