Meninggalkan pergaulan yang tidak bermanfaat kadang kala dianggap suatu kefanatikan. Padahal sejatinya hal ini bentuk kehati-hatian agar seseorang tidak terjebak pada kesia-siaan.
Seorang penuntut ilmu tentunya memiliki tujuan yang jelas dan komitmen yang kokoh, sehingga tidak sembarang aktivitas bisa ia lakukan. Karena tidak semua aktvitas itu mendukung pada tujuan yang ingin ia raih.
Maka hendaknya seorang penuntut ilmu meninggalkan pergaulan yang tidak bermanfaat, karena meninggalkannya termasuk perkara yang penting bagi penuntut ilmu. Apalagi pergaulan dengan lawan jenis dan khususnya untuk orang yang banyak main-mainnya dan sedikit berpikir, karena tabiat manusia itu menular, begitu pula dengan pergaulan.
BACA JUGA: ADAB MURID PADA DIRINYA SENDIRI
Sisi negatif pergaulan ialah tersia-siakannya waktu tanpa faidah, lenyapnya harta dan kehormatan jika dilakukan dengan orang yang tidak patut dan hilangnya agama jika dilakukan dengan orang yang tidak punya agama.

Adapun anjuran meninggalkan pergaulan yang tidak bermanfaat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Jadilah orang yang berilmu atau penuntut ilmu, dan jangan menjadi yang ketiga, maka kamu binasa.”
Yang patut bagi penuntut ilmu, hendaknya tidak bergaul dengan orang kecuali jika orang tersebut memberi faidah untuknya atau dia memberi faidah kepada orang tersebut.
Apabila masuk atau terjebak dalam hubungan yang menyebabkan umurnya sia-sia bersamanya, dia tidak memberi faidah dan tidak pula mengambil faidah, tidak membantunya dalam urusan menuntut ilmu yang merupakan kesibukan utamanya, hendaknya meningglakan pergaulan yang tidak bermanfaat itu dengan cara lemah lembut sejak dini sebelum menguat.
Karena jika sesuatu itu telah menguat, maka sulit memutusnya sebagaimana dalam ungkapan para fuqaha, “Mencegah lebih mudah daripada menghilangkan.”
Jika memerlukan teman, hendaknya teman tersebu adalah yang shalih, kuat dalam agamanya, bertakwa, mempunyai sikap wara, bersih hati, banyak kebaikan, minim keburukan, bergaul dengan baik dan sedikit berdebat.
Manakala dia lupa, maka temannya tersebut mampu mengingatkan. Jika dia ingat maka temannya tersebut membantunya. Jika di membutuhkan, maka temannya tersebut menghiburnya. Jika dia jengkel, maka temannya tersebut menyabarkannya.
BACA JUGA: 3 ALASAN PENTINGNYA IKHLAS BAGI PENUNTUT ILMU
Meninggalkan pergaulan yang tidak bermanfaat sangat dianjurkan, sebagaimana perkataan Ali rhadiallahu ‘anhu dalam Diwan Ali bin Abi Thalib, “Jangan berkawan dengan orang bodoh, jauhi dia. Betapa banyak orang bodoh yang menjerumuskan orang yang berakal manakala dia berkawan denganya. Seseorang ditimbang dengan orang lain manakala dia berjalan bersamanya.”
Sebagian mereka berkata, “Seseungguhnya saudaramu yang benar adalah orang yang bersamamu. Orang yang memudaratkan dirinya untuk memberimu manfaat. Orang yang jika kejadian-kejadian zaman mencerai-beraikanmu, dia mencerai-beraikan kesatuan dirinya untuk menyatukanmu.”
Wallahu a’lam bishawwab []

