mafatih.or.id
  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog
15 Mei 2021 by Qoryah Quran Mafatih

Puasa Syawal Jadi Makruh? Ini Pendapat Ulama

Puasa Syawal Jadi Makruh? Ini Pendapat Ulama
15 Mei 2021 by Qoryah Quran Mafatih

Puasa Syawal merupakan ibadah puasa sunah yang dikerjakan selama enam hari pada bulan Syawal. Puasa ini memiliki keutamaan sebagai penyempuran dari puasa Ramadan yang nilai pahalanya seperti berpuasa selama setahun penuh. Dalam sebuah hadis, Nabi Shalallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal maka dia seolah-olah berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim no. 204).

Meski umum diketahui sebagai puasa sunah, beberapa ulama ada yang berpandangan puasa Syawal hukumnya adalah makruh. Melansir dari rumahfiqih.com, berikut pandangan ulama yang berpendapat soal makruhnya puasa Syawal. Apabila diklasifikasikan, pendapat ulama tenang hal ini terbagi menjadi dua:

a. Makruh secara Mutlak

Pendapat ini dinukil dari Abu Hanifah, maksudnya baik puasa ini dilakukan secara berturut-turut maupun secara terpisah.

Namun, pendapat para ulama madzhab Hanafi ternyata berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah dalam hal ini.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Yusuf, beliau berkata, “Yang makruh adalah ketika dilakukan secara berturut-turut dan bukan terpisah.”

Selain itu, mayoritas ulama muta’akkhir dari madzhab Hanafi justru berpendapat bahwa puasa ini hukumnya tidak apa-apa dikerjakan.

Ibnu Abidin berkata (menukil dari pengarang kitab Al-Hidayah) dalam kitabnya At-Tajnis,

“Pendapat yang terpilih adalah bahwasanya hukum (puasa Syawal) itu tidak apa-apa dilakukan. Dahulu hukum puasa ini makruh karena khawatir ada yang menganggap puasa ini merupakan bagian dari Ramadan sehingga hal tersebut menyerupai orang-orang Nashrani. Namun, sekarang kerancuan tersebut sudah tidak ada lagi.”

Imam Al-Kâsâniy juga berpendapat bahwa hukum puasa ini menjadi makruh jika tata caranya sebagai berikut :

Berpuasa pada hari Idul Fitri (1 Syawal) kemudian dilanjutkan dengan lima hari sesudahnya. Adapun jika pada hari Idul Fitri tidak berpuasa kemudian berpuasa enam hari setelahnya, hukumnya sudah tidak makruh lagi, melainkan menjadi mustahab atau sunnah.

b. Makruh dengan Beberapa Ketentuan

Pendapat ini adalah pendapat dari Mazhab Maliki dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

a. Bagi orang yang menganggap wajib atau ditakutkan dia akan menganggapnya wajib jika dia berpuasa.

b. Bagi orang yang menyambungnya langsung setelah puasa Ramadhan secara berturut-turut dan menampakkan bahwa dia berpuasa kepada khalayak umum.

c. Bagi orang yang meyakini tentang kesunnahan menyambung puasa ini secara langsung dengan puasa Ramadhan.

Dengan kata lain, jika tidak terdapat hal-hal di atas, hukum puasa Syawwal yang dilakukan menjadi mustahab.

Al-Hathab berkata, dia berkata di kitab Al-Muqaddimat, “Imam Malik berpendapat tentang makruhnya puasa Syawwal. Hal ini dikarenakan beliau khawatir orang-orang yang kurang ilmunya akan menganggapnya sebagai bagian dari puasa Ramadhan, padahal bukan. Adapun bagi orang yang berpuasa secara samar-samar (tidak menampakkan kepada khalayak maka dia diperbolehkan untuk berpuasa.”

Wallahu’alam bishawab. []

Previous articlePuasa Syawal: Keutamaan, Hukum, & Waktu PelaksanaannyaNext article Bolehkah Berpuasa Syawal di Luar Bulan Syawal ?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About The Blog

Nulla laoreet vestibulum turpis non finibus. Proin interdum a tortor sit amet mollis. Maecenas sollicitudin accumsan enim, ut aliquet risus.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Tag

adab AGEN OF CHANGE ajal alquran anak anak saleh bahaya utang dakwah fidyah hafiz ibadah ibadah puasa ibadah ramadan idul fitri ilmu islam kematian kenakalan anak keutamaan ramadhan komunikasi anak lisan mendidik anak nasihat nasihat lukman pemuda pendidikan pendidikan anak pendidikan islam penghafalAlquran pesantren puasa puasa ramadan puasa syawal Ramadan ramadhan remaja remajaislam rezeki santri saum ramadan sekuler sukses syawal utang ZAKAT

Yuk! Raih Kemuliaan bersama Pesantren Al-Qur’an Mafatih, Melahirkan Khadimul Al-Qur’an ( Para Penghafal Al-Quran, Dai dan Guru Al-Quran) untuk Indonesia.

Tentang Kami

  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog

HUBUNGI KAMI

+62812-8639-653

Alamat kami

Legokhuni, Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41174

About This Sidebar

You can quickly hide this sidebar by removing widgets from the Hidden Sidebar Settings.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org