mafatih.or.id
  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog
12 November 2021 by Qoryah Quran Mafatih

Ringkasan Sirah Nabawiyah: Periode sebelum Kenabian-Fase Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah

Ringkasan Sirah Nabawiyah: Periode sebelum Kenabian-Fase Dakwah Nabi Muhammad SAW di Mekah
12 November 2021 by Qoryah Quran Mafatih

Periode sebelum Kenabian (Qabla Bi’tsah, usia 0 – 40 tahun)

Demi Masa: Sejarah Rasulullah SAW : Masa Sebelum Kenabian

Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam lahir di Makkah al-Mukarramah pada 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah, ditinggal wafat ayah dan ibunya sejak usia 6 tahun lalu diurus oleh kakeknya, kemudian setelah kakeknya wafat saat beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam usia 8 tahun, dilanjutkan oleh pamannya Abu Thalib dan istrinya Fathimah binti Asad radhiyallâhu ‘anha. Selain itu, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam diasuh oleh Ummu Aiman radhiyallâhu ‘anha, pelayan ayahnya serta disusui oleh Tsuwaibah budak pamannya Abu Lahab dan Halimah as-Sa’diyyah radhiyallâhu ‘anha.

Pada usia 12 tahun bertemu Rahib Buhaira yang melihat tanda kenabian di perjalanan dagang menuju Syam bersama pamannya. Kemudian pada usia 25 tahun menikah dengan Ummul Mukminin Sayyidatuna Khadijah ibn Khuwailid radhiyallâhu ‘anha. Pada usia 35 tahun menyelesaikan perselisihan kaumnya, yakni Quraisy terkait peletakan Hajar Aswad ke tempatnya, bahkan sebelum peristiwa tersebut telah dikenal sebagai al-Amin (yang terpercaya).

Saat mendekati turunnya wahyu Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam senang berkhalwat di Gua Hira dan pada usia 40 tahun beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam menerima wahyu pertama, yakni QS. al-Alaq : 1- 5 melalui pertemuan dengan Malaikat Jibril ‘alaihissalâm di gua Hira. Ini merupakan tanda diangkatnya beliau sebagai Nabi.

Kemudian Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam pulang dan menceritakan pada istrinya dan Sayyidatuna Khadijah radhiyallâhu ‘anha menentramkan beliau lalu bertanya pada kerabatnya, Waraqah ibn Naufal terkait peristiwa tersebut yang menjawab bahwa itu adalah seperti yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalâm. Kemudian turun lagi Q.S. al-Muddatsir : 1 – 6 ketika beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam menyelimuti diri, sebagai perintah untuk berdakwah kepada umatnya.

Periode Makiyyah era Dakwah Khafiyyah (sekitar 3 tahunan, usia 41 – 43 tahun)

Masa Sebelum Kenabian – Siroh Nabawiyah


Setelah menjadi Nabi dan Rasul, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam berdakwah secara khafiyyah, yakni menyampaikan Islam kepada orang-orang yang mungkin menerimanya dari keluarga dan sahabat beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam. Meskipun dakwah tersebar secara luas di masyarakat Quraisy bahkan hingga sampai ke Bani Ghifar yang jauh dari Mekkah, namun masih tersembunyi siapa saja yang telah bergabung serta dimana dan kapan mereka bertemu. Alhasil, dikenal dari mereka as-Sabiqun al-Awwalun sekitar 30 -50 orang. Yang paling awal ialah Sadatuna: Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali ibn Abu Thalib, Zaid ibn Haritsah, Bilal ibn Rabah serta Ummul Mukminin Sayyidatuna Khadijah radhiyallâhu ‘anhum ajma’în.


Secara khusus Dar al-Arqam ibn Abi al-Arqam dijadikan tempat pertemuan, terutama untuk ibadah shalat dan mendapatkan pembinaan dari wahyu yang turun kepada beliau. Periode ini berakhir dengan turunnya QS. al-Hijr : 94 serta masuk Islamnya paman Nabi, Sayyiduna Hamzah ibn Abdul Muthallib dan Sayyiduna Umar ibn al-Khatthab radhiyallâhu ‘anhumâ.

Periode Makiyyah era Dakwah I’laniyyah (sekitar 10 tahunan, usia 44 – 53 tahun)

Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengubah Keadaan Suatu Kaum, Sebelum Kaum Itu  Sendiri Mengubah Apa Yang Ada Pada Diri Mereka | DAKWAH JATENG


Pada masa i’laniyyah, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam berdakwah secara umum kepada masyarakat Quraisy tanpa memperhatikan lagi apakah diterima atau tidak, terutama dengan menantang agar membuat tandingan al-Quran al-Karim meskipun sekedar 1 (satu) surat yang semisal, yakni terdiri atas 3 (tiga) ayat pendek seperti al-Kautsar atau al-‘Ashr. Tantangan demikian tidak bisa dijawab, bahkan sebagian tokoh Quraisy mengakui bahwa al-Quran memang bukanlah perkataan manusia, namun mereka tetap menolak Islam bahkan masyarakat bersikap keras kepada kaum muslimin, terutama saat Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam menyerukan tauhid dan menyerang sesembahan dan kebiasaan buruk mereka.


Kaum Quraisy menghadapi dakwah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam dengan penyiksaan terhadap orang – orang lemah; semisal terhadap Sayyiduna Bilal ibn Rabah dan keluarga Yasir radhiyallâhu ‘anhum, menyebar opini buruk; semisal yang diputuskan di Darun Nadwah atas persetujuan al-Walid ibn al-Mughirah bahwa beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam adalah penyihir ucapan, tuduhan dusta Abu Lahab saat mengikuti Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam ketika berdakwah atau saat dikirim utusan Quraisy ke Najasyi Habsyah agar mengembalikan kaum muslimin yang berhijrah ke Habsyah kepada kaumnya.

TKK 125/131: Hancurnya Bangsa Quraish | UiTO


Selain itu, ditetapkan pemboikotan selama 3 (tiga) tahun, terutama setelah gagal membujuk paman Abu Thalib melepaskan perlindungan terhadap Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam, karena dengannya semua Bani Abdul Muthallib dan Bani Hasyim melindungi beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam. Akhirnya, kaum Quraisy menetapkan bahwa tidak boleh ada hubungan pernikahan ataupun jual – beli dengan kedua keluarga tersebut, semua kaum muslimin dan pendukungnya. Kemudian di tahun ketiga, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan rayap merusak surat perjanjian boikot dan bersamaan dengan pembelaan beberapa pemuda Quraisy yang menentang pemboikotan, meskipun mereka bukan kaum muslimin, hanya merasa simpati terhadap kesulitan kaum muslimin dan pendukungnya.


Setelah berakhirnya pemboikotan, paman Abu Thalib wafat disusul istri beliau, Sayyidatuna Khadijah radhiyallâhu ‘anha sehingga tahun tersebut dikenal sebagai ‘Am al-Huzn (tahun kesedihan). Namun, Allah subhanahu wa ta’ala menghibur Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam dengan peristiwa al-Isrâ` dan al-Mi’râj, yang menjadi ujian keimanan bagi masyarakat serta masuk Islamnya sebagian Jin, setelah ditolak secara kasar di Thaif.

Kemudian dengan semakin kerasnya permusuhan Quraisy, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam diperintahkan meminta nushrah (pertolongan) kepada berbagai kabilah supaya beriman kepada beliau dan melindungi dakwah. Hampir semuanya menolak hingga beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam bertemu kaum Anshar dari Yatsrib (al-Madinah al-Munawarrah). Selanjutnya terjadi Ba’iat Aqabah Pertama (diikuti 12 orang Khazraj), pengiriman al-Muqri Mush’ab ibn Umair radhiyallâhu ‘anhu ke Yatsrib untuk mendampingi para tokoh Anshar semisal Usaid ibn Hudhair radhiyallâhu anhu, Baiat Aqabah Kedua (diikuti perwakilan Aus dan Khazraj, 73 laki – laki dan 2 perempuan), lalu peristiwa Hijrah ke Yatsrib secara bergelombang.


Periode ini berakhir dengan sampainya Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam dan Sayyiduna Abu Bakar radhiyallâhu ‘anhu ke Quba lalu ke Yatsrib, dengan segala hambatan yang beliau lalui, mulai dari upaya pengepungan di rumah beliau shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam, bersembunyi di gua Tsur dan pertemuan dengan Suraqah ibn Malik radhiyallâhu ‘anhu. []

Sumber Referensi:

Al-Khaddami, Ahmad Abdurrahman. Rabi’ul Awwal 1442 H / Oktober 2020 M. RINGKASAN SEPUTAR NABI shallallâhu ‘alaihi wa âlihî wa sallam Disarikan dari al-Fadhâ`il al-Muhammadiyyah karya Syaikhuna Yusuf ibn Isma’il an-Nabhani asy-Syafi’i al-Azhari dengan beberapa tambahan. Purwakarta.

Previous articleKHUTBAH JUMAT: MENGEMBALIKAN HAK RAKYAT ATAS LAYANAN KESEHATANNext article RINGKASAN SIRAH NABAWIYAH: PERIODE Dakwah di Madinah - Pemerintahan Islam pada Masa Rasulullah SAW

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About The Blog

Nulla laoreet vestibulum turpis non finibus. Proin interdum a tortor sit amet mollis. Maecenas sollicitudin accumsan enim, ut aliquet risus.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org

Tag

adab AGEN OF CHANGE ajal alquran anak anak saleh bahaya utang dakwah fidyah hafiz ibadah ibadah puasa ibadah ramadan idul fitri ilmu islam kematian kenakalan anak keutamaan ramadhan komunikasi anak lisan mendidik anak nasihat nasihat lukman pemuda pendidikan pendidikan anak pendidikan islam penghafalAlquran pesantren puasa puasa ramadan puasa syawal Ramadan ramadhan remaja remajaislam rezeki santri saum ramadan sekuler sukses syawal utang ZAKAT

Yuk! Raih Kemuliaan bersama Pesantren Al-Qur’an Mafatih, Melahirkan Khadimul Al-Qur’an ( Para Penghafal Al-Quran, Dai dan Guru Al-Quran) untuk Indonesia.

Tentang Kami

  • Beranda
  • Pemberdayaan Wakaf
  • Donasi
    • Gotong Royong Bangun Pesantren Hafizh Al-Qur’an
    • INFAQ KURMA + PESANTREN TAHFIZH AL-QUR’AN
  • Blog

HUBUNGI KAMI

+62812-8639-653

Alamat kami

Legokhuni, Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat 41174

About This Sidebar

You can quickly hide this sidebar by removing widgets from the Hidden Sidebar Settings.

Recent Posts

Pentingnya Menjadikan Rasulullah sebagai Idola sang Anak31 Januari 2023
Manfaatkan Masa Muda, Fokuskan Hati di Atas Ilmu31 Januari 2023
Untuk Para Penuntut Ilmu, Ini Adab Berkhidmat kepada Guru31 Januari 2023

Kategori

  • Tak Berkategori

Meta

  • Masuk
  • Feed entri
  • Feed komentar
  • WordPress.org